Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 |

Dari kiri: Yuyu, Sofia Indriani, Iis maesyaroh, dan Aan Hasyanah
Suatu hari yang tidak begitu cerah di tahun 1993, ketika masih duduk di bangku kelas III SMPN Panjalu. Sepulang sekolah, saya menemukan sepucuk surat di dalam tas. Bukan surat kaleng, karena ada nama pengirimnya: YASI PUSPITASARI. Namun, saya benar-benar bingung, karena tidak pernah berkenalan dengan seseorang bernama Yasi.
Dengan penuh rasa penasaran, saya membuka amplopnya dan membaca untaian kata dalam kertas yang begitu harum tersebut. Ia mengaku seorang wanita. Ya, dari namanya memang sudah mencerminkan wanita. Tulisannya bagus, rapih, bahasanya juga enak untuk diikuti. Dalam suratnya, ia mengatakan rasa simpatinya kepada saya. Dan ia mengajak bertemu di suatu tempat, serta saya tidak boleh datang dengan siapapun.
Saya tidak merasa curiga sedikitpun, karena saya merasa tidak punya musuh. Lagi pula, kata-katanya memang penuh dengan ketulusan. Bahkan tanpa sadar, saya sangat merindukan hari esok dan ingin segera menemuinya di tempat yang ia sebutkan. Yasi? Rasanya di kelas III, tidak ada yang namanya Yasi. Entahlah kelas I atau kelas II. Tapi… tidak mungkin kalau adik kelas yang mengirimnya. Di kelas II, saya hanya suka iseng ngegodain Irma, gadis Ununeun. Itupun karena saya suka geli menyaksikan wajah Irma yang putih tiba-tiba memerah dan seperti mau menangis. Kalau sudah begitu, saya buru-buru lari sambil disoraki kawan-kawan sekelasnya. Sudah, tidak ada lagi. Mungkinkah Irma yang mengirimnya? Atau… barangkali N yang mengirimnya? N adalah nama seseorang yang sangat saya cintai semasa SMP. Maaf, saya hanya menyebut inisialnya saja, karena saya sudah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak lagi menyebut namanya.
**
Singkat cerita, saya sudah berdiri termangu di bawah sebuah pohon rindang yang tidak terlalu jauh dari lokasi SMPN Panjalu. Tidak ada siapa-siapa. Yasi pun belum juga datang. Saya sempat berpikir, mungkinkah ada kawan yang ngerjain? Tapi… apa gunanya?
Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan empat orang kawan sekelas. Saya pun pura-pura menulis, karena saya mengira empat kawan itu hanya kebetulan lewat. Tapi… ternyata mereka menuju ke arah saya, dan bahkan mereka serempak duduk di rerumputan, hampir mengelilingi saya. Lho, ada apa ini? Empat kawan saya itu semuanya cewek, yakni: Yuyu, Aan Hasanah, Sofia Indriani, dan Iis Maesyaroh.
Mereka duduk dengan tenang sambil tersenyum. Sofia yang mulai bicara. Pertama-tama, ia minta maaf telah lancang menyimpan surat ke dalam tas saya, dan segera menjelaskan maksud dan tujuannya.
Terkuak sudah teka-teki di balik Yasi Puspitasari. Ternyata, yang dimaksud YASI adalah singkatan dari Yuyu, Aan, Sofia, dan Iis. Mereka sengaja mengirim surat tersebut, untuk mengikat sebuah tali persahabatan. Mereka merasa simpati pada saya. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Yang pasti, hal pertama yang mereka kemukakan adalah suatu saran agar saya berhenti untuk mengejar N. Mereka berpandangan N bukan yang terbaik bagi saya.
Saya mencoba berpikir dan mempertimbangkan pendapat mereka. Di kelas, mereka bukan murid-murid biasa. Mereka adalah murid-murid yang terkenal baik hati, pandai, dan cantik. Seingat saya, ranking mereka selalu bersaing di tingkat lima besar ranking kelas bersama Yati Suryati. Oleh karena itulah, saran mereka saya dengarkan. Apalagi mereka beritikad baik, dan berjanji akan selalu membantu saya dalam setiap kesulitan.
Waktu kelas I dan II, mereka tidak pernah sedekat ini. Saya sangat sadar akan hal itu. Mereka enggan bersahabat, karena saya sangat nakal. Menginjakkelas III, saya ridak merasa telah menjadi anak yang baik. Tapi sekurang-kurangnya tidak terlalu nakal. Itulah salahsatu alasan yang membuat YASI mau bersahabat.
Bukan hanya omong kosong. YASI adalah sahabat terbaik saya di SMP. Ia sangat perhatian dan sering membantu saya dalam setiap kesulitan. Bersama YASI, saya menemukan keindahan nilai dari sebuah persahabatan. Sampai hari ini, nama mereka terukir di lubuk hati. Yang paling mengesankan, YASI selalu menemani saya disaat suasana hati saya dalam kesedihan, yakni ketika pada 20 Februari 1993, ayah tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa. Bukan sekedar melayat pada hari sungkawa, YASI selalu menemani saya pada hari-hari selanjutnya.
Iis Maesyaroh, kembang Ciroyom, murid pandai dan baik hati. Ia adalah wanita yang lebih dulu menikah di antara YASI. Saya menyesal tidak bisa menghadiri pernikahannya karena ada halangan. Sofia, kembang Cimendong, sama pandainya, sama baik hatinya, dan sama cantiknya. Saya puas telah ikut sedikit membantu mengurusi pernikahannya. Sofia menikah di Buahbatu Bandung, dan saya mencadi MC pada acara pernikahannya. Yuyu, kembang Banjarwaru, sopan, pandai, baik hati, dan tidak banyak bicara. Saya sudah lama tidak mendapat kabar Yuyu. Sama halnya dengan Aan, kembang Cibeureum, cerdas, baik hati, cantik, dan selalu riang. Aan pun entah dimana sekarang.
Yuyu, Aan, Sofia, dan Iis, semoga semuanya sehat walafiat, bahagia, dan selalu mendapat lindungan Alloh SWT, Amiiin.*** (dhipa galuh purba)








Dimanakah mereka sekarang ???
Kangen,,,,,,,,,,,,,,, inget masa2 di SMP dulu ,,,,,,,
Kangen,,,,,,,,,,,,,,,
Kangen,,,,,,,,,,,,,,,
Kangen,,,,,,,,,,,,,,,
Kangen,,,,,,,,,,,,,,,