Kategori: Tourism | Diterbitkan pada: 07-04-2009 |
Oleh Rochajat Harun
Jawa Barat memiliki beragam objek wisata yang cukup potensial untuk ditawarkan kepada para wisatawan asing maupun domestik. Salah satu bentuk objek wisata yang sudah rada moyan yaitu objek wisata alam disamping objek wisata lainnya seperti wisata sejarah, budaya, bahari, belanja, rohani, ziarah, kuliner dan sebagainya. Daerah Bandung Selatan merupakan wilayah yang memilikii banyak objek wisata alam yang cukup menarik.
Beberapa diantaranya adalah Situ Patengan atau seringkali disebutnya Situ Patenggang; Wana Wisata Kawah Putih; Pemandian Air Panas Cimanggu; serta Bumi Perkemahan dan Penangkaran Ranca Upas. Objek wisata ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit III, KPH Bandung Selatan, BKPH Ciwidey, dan RPH Patuha. Selain itu, masih ada pemandangan alam lain berupa hamparan perkebunan teh di sepanjang sisi jalan menuju Situ Patenggang.

Berwisata ke Kawah Putih
Untuk mencapai daerah tujuan wisata di atas tidaklah sulit. Kita dapat menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan angkutan umum ke arah
Jarak obyek wisata ini dari Ciwidey masing-masing, Kawah Putih 11 km, Ranca Upas 13 km, Cimanggu 13 km, dan Situ Patenggang 17 km. Dengan jarak lokasi yang berdekatan, kita dapat menghemat biaya dengan memaksimalkan kesempatan mengunjungi beberapa obyek wisata sekaligus dalam waktu yang cukup singkat. Bagi kita yang ingin menginap, tentu saja disediakan fasilitas pendukung, antara lain Sindang Reret Motel dan Restoran serta Penginapan Taman Unyil.
Untuk sampai ke lokasi Kawah Putih, kita harus berjalan sejauh 5 km dari pos pintu gerbang masuk, bisa dengan menyewa kendaraan atau berjalan kaki menelusuri jalan aspal selebar 3 m. Akan sangat menyenangkan bila perjalanan dilakukan pada pagi hari sambil menghirup udara sejuk bersuhu 8-22′C dan menikmati panorama alam yang permai. Bagi pecinta tanaman, kita dapat mengamati berbagaii jenis tumbuhan, mulai dari paku-pakuan, Eucalyptus sp., Pinus merkusii, Cantigi (Vaccinium), dan sebagainya. Selanjutnya, kita akan menikmati fenomena barisan gunung dan bukit yang menyejukkan hati sehingga sering menjadi obyek kamera para wisatawan.
Kadang-kadang, bila malam tiba, hewan-hewan penghuni Gunung Patuha, seperti babi hutan (Sus vihalen), kijang (Muntiacus muntjak), monyet abu abu (surili), beberapa jenis burung, bahkan macan tutul (Panthera tigris) terlihat melintasi jalan ini. Oleh sebab itu, setelah pukul 16.00 WIB pintu gerbang Kawah Putih tertutup untuk umum. Di sekitar lokasi Kawah Putih ini pun dilarang mendirikan kemah, karena selain alasan tadi juga dikhawatirkan keluarnya gas beracun yang membahayakan keselamatan.
Kawah Putih, yang berlokasi tepat di lereng Gunung Patuha, diresmikan pada tanggal 23 Januari 1993 oleh kepala Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan bupati kepala daerah tingkat II Bandung. Berada di ketinggian 2194 m dpl (berarti lebih tinggi dari Gunung Tangkuban Perahu) dengan curah hujan antara 3743-4048 mm setiap tahun dan kelembaban udara 90%, Kawah Putih ini memiliki kekhasan tersendiri dan pemandangan yang sangat memikat.
Dilihat dari sejarah, Gunung Patuha tercatat pernah meletus pada abad X yang mengakibatkan terbentuknya kawah di puncak Patuha, yang dikenal dengan nama Kawah Saat. Kemudian, pada abad XIII terjadi letusan yang mengakibatkan terbentuknya danau kawah yang sangat indah, yang seterusnya dikenal dengan Kawah Putih. Pada zaman penjajahan Belanda kawah ini pernah dikelola sebagai pabrik belerang bernama Zwanel Ontgining-Kawah Putih, sedangkan pada zaman Jepang disebut Kezanka Yokoya Ciwidey. Hingga kini bekas-bekasnya masih dapat kita temukan.
Kesempatan pengunjung untuk mengamati kawah dari jarak dekat menjadi daya tarik tersendiri. Kawah ini dibatasi dua tebing batu kapur berwarna kelabu, sering disebut tebing Sunan Ibu dan Sunan Rama. Warna danau kawah ini dapat berubah dari waktu ke waktu tergantung cuaca. Bila cuaca hujan atau pagi hari, kawah akan berwarna putih disertai kabut tipis yang lama-kelamaan berubah menjadi putih keabu-abuan. Pada saat matahari terbit, pantulan sinar dari sisi lereng gunung akan memantulkan warna keemasan. Sedangkan bila cuaca cerah akan tampak warna hijau kebiruan yang sangat indah ditambah dengan pinggiran kawah yang berupa pasir putih, batuan khas, dan dihiasi tumbuhan cantigi (Vaccinium) menambah cantik suasana.
Di selatan kawah berupa timbunan pasir yang berwarna keabu-abuan dan terdapat jalan setapak mengelilingi kawah. Di sini terdapat pula bagian kawah yang masih terlihat menggelegak dan mengeluarkan kepulan asap putih. Daerah ini dibatasi oleh pagar kayu karena masih terus mengeluarkan gas yang cukup menyengat. Sedangkan di bagian utara terdapat kumpulan pohon rindang yang biasa digunakan sebagai tempat berteduh sambil menyantap bekal yang dibawa pengunjung.
Di sinilah terdapat bekas bangunan pabrik belerang yang dibangun para penjajah, berikut saluran air kawah beserta gua yang berfungsi mengontrol air kawah yang akan dialirkan ke pabrik. Namun, gua ini dilarang dimasuki karena bau gas belerang yang keluar sangat menyengat dan berbahaya. Bila kita ingin melihat kawah dari tempat yang lebih tinggi, kita dapat menelusuri jalan setapak ke arah tebing Sunan Rama. Dari sini pandangan ke Kawah Putih menjadi lebih luas lagi. Dengan terus menelusuri jalan yang cukup menanjak ke arah barat, kita akan tiba di Kawah Saat (Kawah Patuha) yang berjarak 4,5 km dari Kawah Putih atau sekitar 1,5 jam Perjalanan.
Jika masih ingin berjalan jalan di lokasi ini, kita dapat mengikuti jalan, sekitar 300 m dari pelataran parkir menuju ke wilayah Patuhawatee, yaitu perkebunan teh Patuha yang menjadi lokasi iklan produk teh yang seringkali ditayangkan oleh televisi swasta. Dari perkebunan Patuhawate, kita dapat melihat Situ Patenggang, bahkan bila cuaca cerah terlihat pula daerah laut selatan.
Obyek wisata Ranca Upas terletak di daerah Cimanggu, sekitar 2 km dari pintu gerbang Kawah Putih atau 42 km dari
Selain itu, kawasan seluas 14,5 ha berfungsi pula sebagai bumi perkemahan (seluas 10 ha) yang dapat menampung sekitar 10.000 orang atau 1000 tenda. Berbagai kegiatan, mulai dari kepramukaan, rekreasi sosial, penelitian mahasiswa, sampai dengan orientasi mahasiswa baru dari berbagai perguruan tinggi di lingkungan Jawa Barat, sering digelar di sini. Pemilihan Ranca Upas sebagai lokasi kegiatan memang tepat, karena selain kondisi alam yang sangat mendukung, sarana lain berupa mushola, MCK, dan sarana air minum pun sangat memadai.
Yang paling menarik, di Ranca Upas ini terdapat penangkaran rusa, yang letaknya bersebelahan dengan camping ground. Penangkaran rusa jenis Cervus timorensis ini dimulai pada tahun 1980 dengan jumlah awal sebanyak 8 ekor. Kini, rusa-rusa tersebut telah mencapai jumlah 34 ekor, belum termasuk yang dipindahkan ke lokasi Karang Nini. Antara lokasi perkemahan dengan tempat penangkaran dibatasi dengan pagar kawat setinggi 2 m mengelilingi lokasi penangkaran. Di depan pintu masuk disediakan panggung yang berfungsi sebagai tempat para pengunjung melihat dan mengambil foto rusa-rusa tersebut.
Objek wisata lain adalah Pemandian Air Panas Cimanggu. Menurut legenda, obyek wisata air panas Cimanggu ini mempunyai hubungan erat dengan legenda misteri Gunung Sepuh (Patuha). Di sini terdapat pula makam Sangiang Buruan dan Sumur Tujuh, yang sampai sekarang masih sering dikunjungi orang dengan maksud tertentu. Sebelum berziarah, mereka membersihkan diri terlebih dulu di Sumur Tujuh, yang berupa aliran air bertingkat tujuh.
Obyek wisata pemandian air panas Cimanggu resmi dibuka untuk umum sejak tahun 1987. Berada pada ketinggian 1700 m di atas permukaan laut dan bersuhu rata-rata 18-23′C. Kawasan seluas 5 hektar ini menyediakan berbagai fasilitas untuk para pengunjung.
Konon, pemandian air panas Cimanggu ini berkhasiat menyembuhkan penyakit rematik, karena kandungan yodiumnya. Berbeda dengan pemandian air panas lain disekitar Ranca Upas yang mengandung belerang dan berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang sengaja datang dari
Berendam air panas ini pun ternyata ada caranya, sebab bila kita berendam dengan cara berenang seperti di kolam renang air biasa, maka tubuh kita akan terasa cepat lelah dan pusing. Cara yang tepat untuk pengobatan, berendamlah selama 15 menit kemudian istirahat 5 menit, demikian seterusnya. Selain itu, berendam di kolam terbuka mempunyai kenikmatan tersendiri yang tidak diperoleh bila kita berendam di kolam tertutup yang terdapat dalam
Sambil menikmati pemandangan alam nan indah serta duduk santai melepas lelah, kitapun dapat menikmati minuman dan makanan khas daerah sini. Bisa juga dibawa pulang untuk oleh-oleh seperti teh hijau Patuha, minuman bandrek (wedang jahe), kalua jeruk (manisan dari kulit jeruk), dan sebagainya. Disinipun terjual barang suvenir berbagai peralatan seperti golok ukir sebagai cinderamata.***




Si Eta mah sakitu ngajegir tulisan “DILARANG MEROKOK”, tapi teu digugu. Sok geuranan ilikan ramona nyapit udud…
Walah, nu anyar panganten, na bet ngaleng lalaki, sanes wanoja. Ha…..3x.
Ah dasar mang Dhipa, najan aya larangan ngarokok ge, nya tetep we ngarokok. Maklum panganten anyar meureunan. Ha….3x
Rochajat
Mungkin perlu ditambahkan juga bahwa di Gunung Patuha itu ada Makam Keramat Embah Malim, konon makamya ada tiga, di daerah Jalan Kiara Condong, Kota Bandung, Kabupaten Subang dan Gunung Patuha. Beliau seorang Pejuang sakti yang pernah menyerang tentara Belanda.