Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2008 |
Oleh ROCHAJAT HARUN
Predikat kampungan sebagai sebutan bagi masyarakat bawah (grass root) tersebut, mungkin karena pengaruh budaya kolonial Belanda, atau jaman feodal, yang menganggap masyarakat desa itu adalah masyarakat miskin baik ilmu pengetahuan maupun hartanya. Sehingga dibedakan dengan masyarakat
Sampai sekarang pun, terutama di desa-desa terpencil yang jauh dari perkotaan, persepsi dan kesan sebutan tersebut masih ada walaupun tidak sebanyak dulu. Akibatnya menjadikan orang-orang desa merasa rendah diri (minderwardig), carang takol, sumuhun dawuh, kumaha juragan wae. Implikasinya, serapan teknologi baru terhadap masyarakat pedesaan masih dibilang lamban.
Sejak 5 tahun terakhir, persepsi kampungan itu sudah banyak mengalami perubahan. Malahan istilah ”kampung” atau pilemburan itu seringkali digunakan untuk hal-hal tertentu dalam rangka promosi kegiatan, atau produk-produk tertentu termasuk produk wisata dan kuliner. Sehingga akhir-akhir ini istilah kampung banyak digunakan oleh masyarakat
Sebagai contoh ada beberapa rumah makan di

Beberapa waktu lalu saya bersama beberapa teman, olah raga naik gunung di daerah Punclut tempat olahraga dan rekreasi jalan kaki. Naik dari Ciumbuleuit, mendaki kearah utara. Walaupun melelahkan namun cukup menyenangkan. Dipinggiran jalan perdesaan yang tidak beraspal tersebut, banyak dijual berbagai makanan khas kampung semacam yang telah disebutkan tadi. Ternyata laku juga dan digemari oleh masyarakat
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah diundang makan disuatu restoran mewah yang terkenal di
Kiranya sekarang ini istilah ”kampung” sudah bukan lagi merupakan predikat rendahan. Dengan kata lain persepsi terhadap sebutan ini sudah banyak bergeser kearah positif. Buktinya, kata kampung kini banyak di gunakan untuk nama restoran/rumah makan, maupun penginapan/ hotel.
Di Garut misalnya, ada tempat penginapan dan rekreasi yang terkenal ”Kampung Sampireun” di daerah Samarang. Untuk nginap disana harus pesan dulu. Tarif nya cukup mahal, pakai dolar lagi. Ternyata tempat ini banyak digemari para turis asing maupun domestik.
Antara Leles dan Tarogong Garut, tepatnya di kampung Warungpeuteuy, ada sebuah rumah makan besar Layung Sari. Tulisan reklamenya cukup besar dan mencolok terpasang di pinggiran jalan besar: ”Menyediakan berbagai makanan khas kampung”.
Didaerah Banjaran Bandung, ada sebuah restoran Kampung Sawah. Ternyata disediakan berbagai makanan khas kampung. Setiap Saptu dan Minggu ternyata banyak pengunjung yang datang kesana, terutama dari luar

Acara “Balik ka Kampung” yang bertempat di SAUNG SAWAH HOTEL SINDANG RERET. Hotel ternama yang lebih bangga menggunakan nama “Saung”
Di kota Bandung terdapat beberapa rumah makan yang menyajikan makanan khas kampung, antara lain rumah makan “Warung Kampung”, “Lembur Kuring”, “Bumbu Desa”, “Bancakan”, “Ampera” dan sebagainya. Ternyata para pengunjungnya cukup banyak. Apalagi pada malam saptu dan minggu. Pasti penuh.
Dengan demikian, bagi para insan yang berasal dari kampung, kini tak usah lagi merasa rendah diri. Malahan haruslah bangga karena persepsi terhadap predikat kampung kini sudah mengalami pergeseran kearah positif. Bahkan barang dagangan yang berasal dari kampung banyak digemari, sekalipun mahal. Misalnya ayam kampung banyak diminati dibanding ayam broiler. Demikian pula makanan khas seperti wajit Cililin dari kabupaten
Rumah-rumah adat kampung ternyata telah banyak juga dijadikan ikon pariwisata. Hal ini banyak dipromosikan oleh hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat, pada event ”Jawa Barat Travel Exchange Fever 2008” yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jabar di Braga City Walk tanggal 4-7 Juni 2008. Hampir setiap kabupaten mengeksposkan objek-objek wisatanya yang bernuansa kampung. Termasuk sajian kesenian tradisionalnya seperti, calung, reog, tagoni dan sebagainya.
Saya teringat kepada nasihat aki (kakek) saya 40 tahun yang lalu yang menasehati tentang cari jodoh: ”Mun bisa mah jang, neangan pipamajikaneun teh ulah urang














Pinter juga si abang. Bini gue orang Sumatra. Saya lama di Bogor. Jadi ngerti juga saya basa sunda sedikit sedikit. Itu gara-gara paragraf akhir saya jadi terangsang. Boleh coba juga yah? Bener engga itunya wanita Sunda kampung lebih “crachten”? Ha..ha..ha..! Ada-ada saja tuh si Kakek.
waaaah… jangan ah coba-coba mah, harus berani spekulasi dan mendapat izin dari bini. Kita kan sudah pada tahu, menambah istri adalah ibadah jika…
DHIPA GALUH PURBA
Ayeuna mah urang kampung teh teu kawas baheula barau lisung. Kiwari mah geus kawas urang kota. Ngaran ge dirobah, Imi jadi Ice, Mimin jadi Mince. Parfum na ge mani pating pelenghir. Kamamana marawa HP. Hi…..3x