Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-11-2007 |

kang-dani

SEJAK tahun 2004 sampai pertengahan 2006, saya menyewa kamar kost di Pondok Mustika, Jl. Manisi No. 38 (belakang), Pasirbiru, Cibiru, Bandung. Pondok Mustika tidak terlalu populer di kalangan mahasiswa UIN SGD Bandung. Waktu itu, penghuni Pondok Mustika tidak ada seorang pun mahasiswa UIN SGD Bandung, selain saya. Pondok Mustika hanya terdiri dari enam kamar, satu ruangan dapur, dan dua kamar mandi. Namun Pondok Mustika memiliki halaman yang luas, cukup untuk parkir tiga unit mobil. Selain itu, akses ke jalan utama Manisi pun terbilang lancar.

Saya sangat betah di Pondok Mustika, karena bisa bersahabat dengan semua penghuninya. Hampir setiap malam, kami berkumpul dan bersenda-gurau sambil minum kofi dan merokok. Bukan hanya itu. Kami juga selalu bareng kalau  ke pengajian, ke tempat fitnes, ke lapang bulu tangkis, berziarah ke makam leluhur Cibiru, atau jalan-jalan ke tempat rekreasi. Kami sangat kompak, dan tidak pernah terjadi perselisihan.

Adapun kawan-kawan penghuni Pondok Mustika adalah Tisna Ramdani (seorang anggota Reskrim Polda Jabar), Kris (satu kantor dengan Tisna Ramdani), Asep Sumarna alias Asnep (Mahasiswa IKOPIN), Dadan (bekerja di pabrik susu, Gedebage), Yati (karyawati sebuah pabrik), dan Aji (mahasiswa UNPAS, sekaligus pemilik Pondok Mustika). Semua kawan-kawan di Pondok Mustika tidak akan pernah terlupakan, dan akan saya tulis semua yang terekam dalam sawangan satu persatu.

Saya akan mulai dengan menulis berbagai kenangan bersama Tisna Ramdani. Ia adalah seorang polisi kriminal yang rendah hati, sopan, suka bergurau, dan baik hati. Saya memanggilnya “Kang Dani”. Para penghuni Pondok Mustika menyukai Kang Dani. Ia tidak ragu-ragu mengeluarkan uang untuk membantu penghuni lain yang sedang dilanda kesulitan materi. Termasuk saya pun, sering kali dibantu Kang Dani. Untuk urusan makanan atau rokok, diminta atau tidak diminta, Kang Dani pasti memberi. Dalam urusan jalan-jalan pun, Kang Dani selalu menjadi donatur sekaligus sopirnya.

Pada suatu hari, saya mendapat kolingan dari PT. Virgo Putra Film, untuk main dalam film “Untung Melulu”, yang disutradarai Pak Yan Senjaya. Bukan peran yang terlalu bagus sih, hanya memerankan… gorila. Tapi daripada tidak ada job sama sekali, saya langsung menyatakan siap. Lumayan juga kan honornya, pun merupakan pengalaman pertama memerankan seekor binatang. Masalahnya… saat itu saya tidak punya ongkos untuk berangkat ke Studio Alam Depok. Saya sangat bingung dan sudah hampir memutuskan untuk tidak jadi berangkat. Alhamdulillah… Kang Dani segera mengerti kesulitan saya. Ia mengongkosi saya untuk berangkat ke Depok.

Bukan hanya itu. Dalam keseharian pun, saya sering dibelikan makan malam dan rokok. Kalau Kang Dani mau pergi ke suatu tempat, ia selalu tidak lupa untuk mengajak saya. Sungguh… saya banyak kehutangan budi oleh Kang Dani. Semoga rezekinya semakin berlimpah, dan selalu berada dalam lindungan Alloh SWT.

**

 

YA, Kang Dani dikenal sebagai sosok polisi yang murah senyum, familiar, rendah hati, dan sederhana. Masyarakat sekitar Pondok Mustika hampir tidak percaya, kalau ia seorang polisi. Tentu, karena Kang Dani hampir tidak pernah terlihat mengenakan seragam polisi. Ia bergaul dengan para pedagang kecil, para pemuda, mahasiswa, sampai tokoh masyarakat. Dengan sikap seperti itu, Kang Dani tidak ditakuti masyarakat, pun tidak kehilangan wibawa. Justru masyarakat semakin dekat, menyukainya, dan menghormatinya.

Tepatnya di Kelurahan Pasir Biru, RT.02/06, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Di wewengkon itulah Kang Dani mengontrak sebuah kamar kecil. Ia sendiri berasal dari Pangalengan, Kabupaten Bandung. Cukup logis jika Kang Dani memilih tinggal di Pasir Biru, berkenaan dengan jarak ke kantornya, Polda Jabar.

Sebagai warga pendatang,  Kang Dani melaporkan kehadirannya kepada pengurus setempat. Ia juga tidak lupa melaksanakannya kewajibannya, semisal ngeronda bersama warga. Selain itu, Kang Dani akrab dengan para pemuda setempat. Kalau sedang lepas tugas, ia suka bergabung untuk jadi suporter pertandingan bola volly atau sekali-kali main bulu tangkis.

Saya masih ingat, pada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW 1426 di Pasir Biru, Kang Dani juga menghadiri acara tabligh akbar. Saat itu, penceramahnya adalah KH. Zaenal Abidin. Di antara isi ceramahnya, KH. Zaenal Abdidin sempat mengkritik polisi habis-habisan. Namun Kang Dani  malah tersenyum, tidak tampak tersinggung. Tampaknya Kang Dani bukan seorang polisi yang anti kritik. Ketika tabligh akbar usai, Kang Dani turut mengantri untuk bersalaman dengan KH. Zaenal Abidin.

Kecintaan Kang Dani pada budaya Sunda, membuatnya begitu peduli pada alam sekitarnya. Kang Dani pernah turut berziarah ke makam-makam leluhur Cibiru bersama H. Munir. Kang Dani menikmati lingkungan Cibiru yang terhitung masih asri, banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang, masih ada mata air yang sangat jernih, dan masih terdengar kicauan burung.

Maka dari itu pula, Kang Dani sangat prihatin ketika menyaksikan berita mengenai saudara-saudara yang tertimpa musibah “longsor sampah” di tatar batu jajar dan sakuliah Leuwigajah (21/02/2005). Dua minggu setelah musibah itu, Kang Dani mengajak saya untuk menengok  para pengungsi di Cilimus.

Kang Dani sangat menyukai kesenian Sunda. Ia sangat akrab dengan kacapi-suling, serta menyukai kesenian yang berlatar tradisional Sunda. Di sela-sela kesibukannya mengungkap berbagai kasus kriminal, Kang Dani pernah minta diantar nonton sasagon (Sandiwara Sunda Gogonjakan). Selain itu, ia tampak sangat enjoy, ketika diajak menyaksikan pergelaran longser Pancawarna di halaman parkir STSI Bandung. Di dalam mobilnya, Kang Dani sering memutar CD kawih, tembang Sunda, dan pop Sunda. Ia sangat menyukai kawih-kawih karya Mang Koko.

**

KANG Dani pun sudah tahu sejak awal bahwa pekerjaan saya adalah wartawan Majalah Seni Budaya dan penulis lepas. Ia juga tahu, kalau saya masih kuliah di Jurusan Jurnalistik UIN SGD. Makanya sekali-kali Kang Dani suka memberikan ide cerita dan atau mengajak saya ke suatu tempat yang dianggap bisa mendatangkan inspirasi. Namun Kang Dani selalu menolak kalau saya mau mengangkat profilnya ke media massa. Ia selalu menghindar dan berkata, “Saya bukan orang penting, dan tidak pantas untuk diprofilkan di media massa. Emh… saya malu,”  begitulah, sehingga saya tidak pernah menuliskan profilnya meski saya sangat tertarik untuk menulis kisah-kisahnya.

Saya hanya tahu sedikit mengenai Kang Dani. Ia sedikit menceritakan latar belakangnya, ketika pada Malam Sabtu malam Sabtu yang tidak begitu cerah (24/06/06), kami terlibat obrolan ringan di halaman Masjid Al-Amman Polda Jabar. Saat itu Kang Dani sedang melaksanakan piket.

Untuk mencapai cita-citanya menjadi polisi, bukanlah perjalanan yang mudah. Setidaknya, hal itu dirasakan oleh Kang Dani. Ia pernah mengalami dua kali kegagalan ketika mendaptarkan diri ke SPN (Sekolah Polisi Negara). “Alhamdulillah, untuk yang ketiga kalinya, barulah saya lulus…” begitu kata Kang Dani,

Ungkapan Nista, Maja, Utama, sangat tepat kalau dihubungkan dengan perjalanan Kang Dani dalam meraih cita-citanya. Setelah mengalami kegagalan, Kang Dani memang tidak putus asa, sehingga akhirnya ia lulus pada angkatan ke-18.

Kang Dani adalah anak pertama dari empat bersaudara. Sejak masuk SDN Margamukti Pangalengan, Kang Dani sudah bercita-cita untuk menjadi seorang tentara. Bahkan sampai melanjutkan ke SMP YKS (Yayasan Kesejahteraan Sosial) Pangalengan, cita-citanya tidak berubah. Baru setelah duduk di bangku SMA Negeri Pangalengan, cita-cita Kang Dani berubah dan mantap: ingin menjadi Polisi.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Cisarua, Kang Dani menjadi anggota Dalmas dengan pangkat Bripda. Pada saat Presiden Megawati memberlakukan lagi Darurat Militer di Aceh (19/05/03), Kang Dani ditugaskan ke Aceh, bergabung dengan Bantuan Komando Operasi (BKO) Aceh Yustisi gelombang pertama. “Alhamdulillah saya bisa menuntaskan tugas saya, serta kembali  ka lemah cai dengan selamat,” ucap Kang Dani. Sepulang dari Aceh, sekitar bulan Januari 2004, pangkatnya naik menjadi Briptu. Namun kenaikan pangkat tersebut merupakan “proptap” (berdasarkan ketetapan waktu).***