Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 15-02-2009 |


Oleh DHIPA GALUH PURBA

Membaca komentar Tifatul Sembiring di HU. GALAMEDIA mengenai tari jaipongan, membuat saya merinding. Tifatul mengatakan bahwa seni tari jaipongan lahir di tempat negatif dan berkembang di tempat negatif. Saya heran, seorang tokoh yang mengerti agama, koq begitu mudahnya memponis suatu hal tanpa mengadakan penelitian terlebih dahulu. Pernyataan itu adalah fitnah yang sangat menyakitkan bagi orang Sunda. Tifatul mungkin lebih paham bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Ketika saya menjadi moderator dalam diskusi di acara “Pesta Buku Bandung” bersama Rieke Diah Pitaloka dan Lia Refani (10/02), saya sempat terpancing pada saat Rieke mengomentari tari jaipongan. Tanpa sadar, saya langsung berbicara cukup panjang-lebar mengenai jaipongan dan membantah fitnah Tifatul Sembiring. Saya baru sadar ketika Rieke, sambil berguyon, berkata, “Enya sok teruskeun, urang we jadi moderatorna. (Iya, silahkan teruskan, saya yang menjadi moderatornya)”.

 

Tifatul Sembiring rupanya tidak tahu sejarah. Coba bacalah Ensiklopedi Sunda karya Ajip Rosidi, dkk. Disana dipaparkan sejarah tari jaipongan yang sama sekali bukan berasal dari tempat negatif. Kalau tidak tahu tentang budaya Sunda, sebaiknya Tifatul Sembiring jangan asbun, so tahu, dan begitu sombongnya merasa diri menjadi orang besar. Tifatul Sembiring, anda harus banyak membaca tentang budaya Sunda sebelum berkomentar.

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Lalu, jaipongan dipopulerkan menjelang akhir tahun 1970-an. Selain oleh Gugum Gumbira, juga oleh Tati Saleh (almh), dan Euis Komariah. Jaipongan sama sekali tidak lahir dari tempat negatif semacam lokalisasi prostitusi. Jaipongan adalah pengembangan dari pencak silat, yang merupakan seni kebanggaan masyarakat Jawa Barat.

Jika Tifatul Sembiring tidak suka jaipongan, tidak usah memfitnah tarian tersebut. Tanpa harus disukai Tifatul Sembiring pun, jaipongan tetap dicintai masyarakat Sunda. Hanya ada satu jalan untuk mengobati luka masyarakat Sunda, TIFATUL SEMBIRING HARUS MINTA MAAF KEPADA MASYARAKAT SUNDA ATAS FITNAH YANG DILONTARKANNYA.***

Black In News - Black Community