Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 05-10-2009 |

Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

Jurusan Téater STSI Bandung usai menggelar rangkaian acara pertunjukan, workshop, dan seminar téater. Acara ini berlangsung di Kampus STSI Bandung, Jl. Buahbatu 212, Bandung, sejak 29 Séptémber sampai 3 Oktober 2009.

 

Dalam acara ini, panitia penyelenggara  mengundang beberapa grup téater Indonésia terpilih untuk menampilkan karya terbaiknya. Dengan demikian, grup téater yang tidak diundang berarti bukan grup téater terpilih bersadasarkan penilaian panitia. Paling tidak, tidak terpilih untuk tahun ini, karena rencananya acara semacam ini akan digelar secara berkala. Sayang sekali, panitia tidak menjelaskan kritéria grup-grup téater terpilih yang diundang pada acara The First Invitation To The Theatre 2009. Misalnya di kota Bandung ada grup téater Laskar Panggung Bandung atau Main Téater, yang ternyata tidak menjadi pilihan panitia penyelenggara. Padahal dua grup téater tadi merupakan contoh dari grup téater yang terbilang produktif dan berkualitas dalam meracik pertunjukan téater.

 

Téater Payung Hitam menjadi pembuka rangkaian pertunjukan dalam The First Invitation To The Theatre 2009. Menampilkan pertunjukan berjudul “Puisi Tubuh Yang Runtuh” karya/sutradara Rachman Sabur, di Gedung Kesenian Déwi Asri STSI Bandung (29/09). Téater Payung Hitam sangat tepat dipilih dan ditampilkan, karena merupakan pertunjukan téater mini kata, tetapi syarat makna. Meski mini kata, tetapi luar biasa dalam menampilkan bahasa tubuh. Hanya aktor-aktor berkekuatan prima yang sanggup bermain di Téater Payung Hitam.

 

Pada hari kedua, di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, digelar pertunjukan téater dari Actors Unlimited Bandung, yang menampilkan “Ibu Pemberani dan Anak-anaknya Yang Mati”, karya Bertolt Brecht, disadur bebas serta disutradari oleh Fathul A. Husein. Secara kualitas, mémang pantas grup ini dipilih untuk ditampilkan pada The First Invitation To The Theatre 2009. Namun, karena Fathul A. Husein menjadi ketua pelaksana dalam acara tersebut, kesannya menjadi subyéktif. Dalam arti, ketika menjaring grup téater terpilih, Fathul memilih grupnya sendiri dan sekaligus menggugurkan grup-grup téater lain di kota Bandung untuk ditampilkan pada The First Invitation To The Theatre 2009.

 

Hari ketiga, di gedung Kesenian Déwi Asri STSI Bandung, digelar pertunjukan dari Téater Satu Lampung, yang menampilkan “Aruk Gugat”, karya/ sutradara Iswadi Pratama. Sebuah pertunjukan yang sangat menarik dengan mengusung cerita berlatar daérah Lampung. Sayangnya terlalu banyak bermain komédi, sehingga durasinya mencapai kurang-lebih 2,5 jam. Padahal ceritanya bisa lebih diringkas lagi dengan mengurangi dialog atau adegan komédi, dan tentu akan lebih padat dan lebih bermakna.

 

 

Hari keempat, masih di Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Bandung, digelar pertunjukan “Ketawang Bajingan”, karya/ sutradara Joko Bibit Santoso, produksi Teater Ruang Solo. Dan pada hari terakhir, di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, digelar pertunjukan drup Téater Kammi Jakarta, yang menampilkan “Gegerungan”, karya/ sutradara Harris Priadie Bah. Saya tidak bisa menangkap makna dari pertunjukkan ini, karena kemungkinan besar daya afresiasi saya yang masih rendah. Meski begitu, saya mengagumi spanduk PÉSTA BUKU JAKARTA yang ditampilkan dalam pergelaran tersebut. Bravo Pésta Buku Jakarta!

 

Selama berlangsung acara The First Invitation To The Theatre 2009, di lobi gedung kesenian Sunan Ambu STSI Bandung digelar paméran dokuméntasi téater. Pada 1 Oktober, digelar pula workshop téater di Studio Téater STSI Bandung. Sedangkan seminar téater berlangsung pada 3 Oktober, di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, dengan mengusung téma “Memeriksa Téater Indonésia Kontémporér: Tantangan, Harapan, Kecemasan”.***