Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 22-09-2007 |

Tahun 1992. Pertengahan semester III, ketika saya masih duduk di bangku SMPN Panjalu, Ciamis, pernah mengalami kejenuhan dalam menuntut ilmu. Saking jenuhnya, saya sudah memutuskan untuk berhenti sekolah. Tentu saja tidak memberitahu orang tua, karena pasti bakal dimarahi.

Diam-diam saya meminjam uang Rp 3. 000,- kepada Teti dan Yuyu, dua orang sahabat yang begitu baik hati. Teti… entah apa nama panjangnnya. Kalau Yuyu, nama aslinya adalah Yuni Sri Wahyuni, tetapi saya memanggilnya Yuyu. Teti dan Yuyu sebenarnya tidak setuju pada rencana saya untuk minggat. Bukannya mereka tidak mau ngasih pinjam uang, tapi mereka berharap saya menuntaskan sekolah. Bahkan dia mau memberi uang lebih banyak dari yang saya pinjam, asal saya mau terus sekolah. Namun saya berkeras hati, tetap mau minggat ke Bandung. Akhirnya mereka pun memberi uang Rp 4.000,-. Lalu, saya pun berangkat ke Bandung. Saat itu, ongkos dari Panjalu ke Bandung hanya Rp 2.000,-.

Di Bandung, saya tinggal di rumah seorang pemborong pengaspalan jalan, yang terletak di Gang Hanura, Jatayu. Saya ikut bekerja sebagai tukang aspal jalan, dengan gaji Rp 3. 000,-/ hari. Sebulan lebih, saya di Bandung, tidak sekolah, sampai akhirnya bertemu dengan Ching-Ching Liana, seorang gadis keturunan Tionghoa. Ching-Ching yang sangat berjasa menyadarkan saya untuk kembali ke Panjalu. Nanti, dalam judul yang lain, akan saya ceritakan pertemuan dengan sosok berhati malaikat tersebut. Untuk tulisan ini, saya akan singkat saja. Saya balik lagi ke Panjalu, tentu dengan ongkos dan bekal uang dari Ching-Ching.

Teti dan Yuyu nampak gembira ketika saya pulang kampung. Saya langsung membayar utang kepada Teti. Tapi Teti menolaknya, bahkan ngasih sebungkus rokok. Sekarang saatnya menceritakan Teti dan Yuyu. Siapakah mereka? Teti adalah gadis lulusan SMP, yang tentu usianya beberapa tahun di atas saya. Sedangkan usia Yuyu hanya terpaut beberapa tahun dengan saya, mungkin sekitar dua tahun lebih tua. Mereka sudah bekerja sebagai penjaga jongko di Pasar Panjalu. Sebelumnya, Teti dan Yuyu sering membantu saya dalam berbagai kesulitan. Bahkan tanpa diminta, mereka pun sering memberi sebungkus atau dua bungkus rokok. Tentu sangat membantu, karena untuk membeli rokok sebatang pun, saat itu saya harus mengorbankan “uang ongkos” dari orang-tua.

Setiap hari, saya hanya dikasih Rp 150,- untuk ongkos dan bekal sekolah. Ongkos angkutan dari Simpar ke Panjalu Rp 50,-. Kalau pulang-pergi, berarti Rp 100,-. Hanya ada sisa Rp 50,- untuk jajan. Lantas, mana buat beli rokok? Sedangkan sudah sejak kelas IV SD, saya kecanduan merokok—sampai sekarang. Jadi, kalau tidak dikasih sama Teti atau Yuyu, saya mengorbankan uang ongkos, sekaligus pulang sekolah harus jalan kaki, mengambil jalan menyusuri Situ Lengkong Panjalu. Sungguh kasihan, Dhipa. Seandainya tidak bersahabat dengan Teti dan Yuyu, entah bagaimana caranya mencari sesuap rokok.

Teti atau Yuyu merupakan dua gadis desa yang sedang mekar dan cukup banyak dipuja oleh kaum lelaki. Sulit untuk menyebut mereka tidak cantik. Teti tampak lebih dewasa, dan Yuyu adalah sesosok ABG yang memiliki aura luar biasa. Tapi mereka bukan pacar saya. Mereka benar-benar sahabat. Mereka selalu berbuat baik, karena (mungkin) saya suka nganterin pulang setiap habis mengaji atau membantu memompa air. Dulu, di kampung Simpar, hampir semua remaja belajar mengaji kepada Mama Iking (KH. Zaenal Mutaqin), di Masjid Almukhtar. Waktu mengaji dimulai bada Magrid sampai dengan jam 19.30 WIB. Dari Masjid AL-Mukhtar menuju rumah Teti dan Yuyu, harus melewati Cisaat, yang keadaannya gelap dan kabarnya agak angker (pernah ada seorang anak kecil yang disunat ketika sedang berenang di kolam Cisaat. Siapa yang menyunat? Entahlah. Kabarnya disunat oleh jin). Saat itu, listrik masih menjadi barang yang mahal. Saya pun suka bawa lampu senter.

Sebenarnya saya juga seorang penakut. Tapi kalau bersama wanita, tiba-tiba saya jadi pemberani. Sungguh, saya sangat ikhlas mengantar pulang Teti dan Yuyu, bukan karena mereka suka ngasih rokok. Tapi kalau dikasih rokok, wajar saja saya menjadi sangat senang. Mereka pun tampaknya ikhlas berbuat baik kepada saya, karena diantara kami sudah tertanam rasa persahabatan bahkan persaudaraan. Saya sangat menghormati Teti dan Yuyu. Tentu, Yuyu lebih dekat. Bahkan pernah juga ada semacam sensasi yang mengasyikan kalau saya berduaan dengan Yuyu. Tapi hal yang macam-macam selalu saya singkirkan dari perasaan saya, karena saya begitu menghormatinya. Yuyu sudah saya anggap kakak sendiri. Begitupun dengan Teti.

Teti dan Yuyu, entah dimana sekarang. Setiap saya pulang kampung, sangat sulit menemukan kedua sahabat tersebut. Padahal saya ingin sekali berterimakasih dan memberikan sesuatu kenang-kenangan, baik buku atau apa saja. Yang pasti bukan mau ngasih roko.k Kenangan terakhir yang sulit dilupakan, ketika pada Malam Kamis, 06 Januari 1993, tiba-tiba saya hanya menemukan Yuyu, tanpa Teti. Kemanakah Teti? Yuyu mengabarkan bahwa Teti tidak akan tinggal lagi di Simpar. Teti sudah pindah ke Cimaja. Yuyu menjadi penyambung lidah Teti, yang memohon pamit sekaligus memohon maaf tidak menemui dulu. Sejak itu, saya tidak pernah bertemu Teti sampai sekarang.

Setelah Teti pergi, tiba-tiba ada seorang gadis yang terlihat berteman dengan Yuyu. Namanya Lia Yulianti, sehari-hari dipanggil Yuli. Otomatis, Yuli pun bersahabat dengan saya. Yuli adalah orang Cikole, tinggal di saudaranya yang rumahnya berdekatan dengan Yuyu. Yuyu dan Yuli sama-sama cantik. Ada beberapa pemuda yang tergila-gila sama Yuli. Diantaranya sebut saja namanya Sapril, pemuda yang sedang bertamu dan menetap beberapa bulan di Simpar. Entahlah aslinya dari mana, saya agak lupa. Tapi… rasanya dia orang Jawa.

Yuli tidak suka ngasih rokok. Tidak seperti Teti atau Yuyu. Namun secara tidak langsung, Yuli pun memberikan “lahan pekerjaan” yang menghasilkan rokok. Ceritanya sederhana, tetapi sampai sekarang selalu saya ingat. Yuli adalah gadis yang jinak-jinak merpati. Dia tidak mudah diambil hatinya, termasuk oleh Sapril. Akhirnya Sapril mendapat ide untuk mendekati saya, karena dia tahu bahwa saya sahabatnya Yuli. Nah, ceritanya mudah ditebak, bukan? Meski saat itu saya anak kecil, tetapi saya punya segudang info mengenai Yuli, yang tentunya sangat dibutuhkan Sapril.

Setiap Sapril mengorek keterangan tentang Yuli, pasti dia mengeluarkan rokok dari sakunya dan disimpan begitu saja untuk “pelicin” mulut saya. Rokoknya memang suka diambil, tetapi saya tidak mudah disogok. Saya tetap berpihak kepada Yuli, apalagi ketika Yuli secara tegas mengungkapkan ketidak-sukaannya kepada Sapril.

Untuk menjaga “lahan rokok”, saya tidak secara langsung menyampaikan penolakan Yuli. Saya tetap menyarankan Sapril untuk bersabar dan berusaha. Jadi, Sapril tetap sering datang menemui saya sambil membawa rokok. Jawaban saya tetap saja menyuruh Sapril bersabar, dan mengatakan bahwa Yuli belum siap untuk berpacaran.

Lama kelamaan Sapril merasa bosan, dan berpamitan untuk pulang ke kampungnya. Sejak itu, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Sapril.

Selama saya menjadi panglayar (mak comblang) Sapril, Yuli pernah salah pengertian. Ia menghilang tanggal 18 Januari 1993, karena kecewa kepada saya, yang dituduh memihak Sapri. Padahal, saya benar-benar memihak Yuli. Kalau saya mengulur-ulur jawaban kepada Sapri, hanya untuk menjaga perasaannya agar tidak prustasi, sekaligus menjaga pasokan rokok. Akhirnya pada tanggal 23 Januari, saya menyusul Yuli ke Cikole, meminjam motornya Rully Abdurahman Pribadi, teman sekelas saya. Kalau tidak pinjam motor, saya tidak punya uang untuk ongkos angkutan. Jalan kaki? Wah… dari Simpar ke Cikole jaraknya agak jauh, harus melewati tanjakan dan turunan pula disamping tempat yang terbilang angker.

Yuli memaafkan saya. Namun dia mau tinggal dulu di Cikole. Berarti, dia meninggalkan Simpar bukan hanya karena marah sama saya. Pasti ada hal-hal lain yang membuatnya kembali ke Cikole. Sejak itu, saya berpisah dengan Yuli, dan tidak pernah menemuinya ke Cikole. Sahabat saya tinggal Yuyu. Alhamdulillah, Yuyu tetap setia menjadi sahabat saya. Di kampung saya, hanya Yuyu satu-satunya sahabat yang mengerti saya, tempat curhat dan mengadu berbagai persoalan yang menerpa. Saya tidak tahu bagaimana perasaan Yuyu sebenarnya, yang pasti ia sangat setia menjadi sahabat dan selalu siap menolong saya kapanpun dan dimanapun. Terus terang, saya bukan terlahir dari keluarga kaya-raya. Jadi, saya sering terlilit persoalan ekonomi. Nah, Yuyu adalah orang yang sering membantu saya.

Pada suatu hari, tepatnya 8 Juni 1993, saat hujan rintik-rintik, saya menemukan Yuli di Jalan menuju Cisaat. Ia sedang duduk sendirian, dengan raut wajah yang sendu. Jelas, Yuli sedang bersedih. Tanpa banyak basa-basi, saya mengajak Yuli ke rumah. Ibu saya pun sampai mengerutkan kening, melihat saya membawa wanita. Sebagai catatan, saya belum pernah mengajak wanita ke rumah, kecuali ada teman-teman SMP yang berkunjung sekedar meminjam buku. Saya tidak takut, karena di rumah sedang banyak saudara, karena pada 6 Juni 1993, kakakku, Dewi Juwita Ningsih, baru saja melangsungkan pernikahan dengan Ece Didin. Bahkan ada teman sekelas saya, Wawan Hermawan (Rumahnya di Mandalare) dan Rizal Zajurig… eh, maaf, Rizal Zajuli, dia memang suka dipanggil “Jurig” (Rumahnya di Ciomas). Wawan terlihat ceria, sedangkan Rizal tampak murung. Nanti akan tahu alasannya.

Tentu saja di rumah masih banyak makanan sisa pesta perkawinan. Jadi, saya sangat senang mengajak Yuli, bisa makan bareng, setelah beberapa bulan tidak sempat bertemu. Sejenak saya mengajak Yuli melupakan dulu masalah yang sedang dihadapinya. Saya belum mau bertanya apa-apa. Saya malah menceritakan kebahagiaan saya, karena hari kemarin (7 Juni 1993), baru saja ada pengumuman kelulusan SMPN Panjalu. Alhamdulillah, saya lulus, dan Wawan pun lulus. Tapi… Rizal tidak lulus. Ah, dia memang terlalu nakal untuk lulus. Di sekolah pun saya pun sudah menyatakan belasungkawa kepada teman saya itu, atas ketidak-lulusannya. Ngapain harus dipikirin? Tinggal setahun lagi sekolah dengan serius, pasti 1994 bisa lulus. Beres kan.

Selama Yuli makan, Rizal dan Wawan seringkali curi-curi pandang dan jelalatan memperhatikan wajah Yuli yang memang—sekali lagi—dia cantik dan punya pesona yang begitu memikat. Saya maklum atas sikap kedua kawan saya, karena selama sekolah, mereka belum pernah sukses mengejar cewek.

Setelah agak santai, saya baru menanyakan masalah yang sedang dihadapi Yuli. Ya… biasa, dia sedang ada masalah dengan keluarganya. Di buku harian saya tidak tertulis secara detail mengenai masalah Yuli. Di buku harian saya hanya tertulis bahwa saya membujuk Yuli untuk pulang, dan memaafkan ayahnya. Yuli tetap tidak mau pulang. Ia ingin tetap tinggal di rumah saya. Akhirnya saya menuju ke rumah saudaranya, dan meminta untuk menjemput Yuli, dengan cara baik-baik. Saya tahu, karakter Yuli itu sangat keras. Jika Yuli dimarahi oleh saudara atau orang tuanya, dia malah bisa minggat. Alhamdulillah, hari itu Yuli mau pulang.

Namun pada tanggal 11 Juni 1993, Yuli minggat lagi. Dia mengadukan masalahnya sambil menangis. Di hari itu, kebetulan ada saudara jauh saya bernama Engkos. Kalau tidak salah, dia orang Cimanglid. Sehari-harinya bekerja di Tanggerang, dan terbilang sukses. Dia berkunjung ke rumah, untuk menemui kakak saya yang laki-laki, kawan sepropesinya di Tanggerang. Ketika Engkos melihat Yuli, tiba-tiba matanya terpaku dan hampir tidak berkedip. Entahlah, hampir setiap laki-laki yang pertama kali melihat Yuli, selalu saja begitu. Apa mungkin Yuli punya semacam ilmu pemikat?

Buktinya Engkos langsung berbisik kepada saya, menyatakan keinginannya untuk mengenali Yuli. Tidak lupa… Engkos pun merogoh sebungkus rokok dari saku bajunya dan menawari saya. Wah… ladang rokok lagi nich! Tapi saya tidak tega harus menjadi mak comblang dalam keadaan Yuli seperti itu. Lagi pula, di dompet saya masih ada lembaran uang yang lebih dari cukup untuk sekedar membeli rokok. Masa kakak menikah, saya sampai tidak pegang uang? Punya donk…!

Saya hanya memanfaatkan Engkos untuk meminjam motor barunya. Lalu saya mengajak Yuli jalan-jalan, semacam mencari angin dan menghiburnya untuk tetap tenang dan mengembalikan keceriaannya. Namun masalah kian rumit ketika sore harinya saya didatangi ayahnya Yuli. Beliau tidak memarahi saya, tetapi memberikan setumpuk pakaian Yuli kepada saya. Beliau mengatakan bahwa Yuli sulit diatur dan akhirnya mau kemanapun terserah saya. Wah wah wah… terserah saya? Bagaimana ini? Usia saya masih 15 tahun, nampaknya belum siap menghadapi masalah seperti itu.

Yuli menginap di rumah saya, tentu saja tidak sekamar. Semalaman saya berpikir keras untuk mencari solusinya. Mana besoknya adalah hari perpisahan di SMPN Panjalu, dan saya kebagian pidato untuk mengucapkan selamat tinggal kepada adik-adik kelas. Mestinya malam itu saya menyusun naskah pidato, membuka kamus, untuk mencari kata-kata yang menawan. Tapi… saya malah duduk di kursi sambil memikirkan Yuli yang mungkin tengah terlelap di dalam kamar.

Saya sempat berdiskusi dengan ibu saya, dan merencanakan membawa Yuli ke Bandung. Selepas SMP memang saya sudah memutuskan melanjutkan sekolah di Bandung. Dan untuk sekedar mencukupi kehidupan sehari-hari, saya sudah punya gambaran yang pasti. Ketika libur panjang, saya main ke rumah kakak saya  yang tinggal di Kompleks Bumi Panyileukan, Bandung. Di sana, saya menemukan lahan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, yaitu: Menjadi penambang becak. Selama liburan, hampir  setiap hari, saya jadi penambang becak, dengan penghasilan rata-rata Rp 15. 000/ hari. Bukankah penghasilan yang cukup besar di tahun 1993? Saya tidak sulit beradaptasi dengan kehidupan jalanan, karena semasa di kampung pun, kalau sedang libur sekolah, saya sering menjadi kernet angkutan Cikole-Panjalu.

Jadi, saya tidak khawatir kalaupun harus membawa serta Yuli. Saya siap menyewakan kamar kost untuk Yuli, sekaligus mencarikan pekerjaan untuk Yuli. Saya pun sudah bertekad, setiap pulang sekolah mau narik becak. Keputusan saya sudah hampir final, dan tidak bisa dihalangi ibu saya. Perlu diketahui, kenapa saya tidak menyebut-nyebut ayah saya? Sebab, ayah saya tercinta, telah meninggal dunia pada 20 Februari 1992.

Besoknya, 12 Juni 1993, pagi hari, Yuli sudah bangun. Dia langsung mengambil sapu dan lap pel. Dia menyapu dan mengepel seisi rumah. Setelah itu, dia pun membuatkan segelas kopi. Saya memperhatikannya dengan bingung.  Tapi niat untuk mengajak Yuli ke Bandung semakin kuat. Namun… saya berencana untuk membicarakan dulu dengan Yuyu. Keputusan final ada di Yuyu. Saya tidak berani melawan keputusan Yuyu, karena Yuyu adalah sahabat sekaligus kakak saya.

Tadinya saya mau mengajak Yuli ke sekolah, mengikuti acara perpisahan. Tapi… apa jadinya nanti kata guru, terutama Pak Amas. Akhirnya, saya berangkat ke sekolah tanpa Yuli. Dia tetap tinggal di rumah dengan ibu saya. Sementara saya di sekolah terus berpikir mencari solusi yang tepat. Ketika saya pidato pun, sama sekali tidak terkonsep, hanya mengandalkan improvisasi. Tapi, saya memang sudah tidak kaku berpidato di depan umum. Sebelumnya pernah menjadi juara pidato di Masjid Agung Panjalu, dalam acara Pesantren Kilat. Di Masjid Jami Simpar pun, saat itu ada pengajian rutin remaja setiap malam Kemis. Penceramahnya gantian para remaja, dan saya beberapa kali pernah kebagian menjadi penceramah… dengan gaya meniru-niru Rhoma Irama.

Selepas acara perpisahan SMPN Panjalu, saya langsung pulang ke rumah. Yuli masih ada di rumah. Kali ini wajahnya tidak terlalu sendu. Wajahnya agak cerah. Dan Yuli tampaknya sedang menanti kedatangan saya untuk mengatakan sesuatu. Buktinya, Yuli langsung ngajak diskusi. Entahlah, rincinya kaya gimana. Yang pasti, di buku harian saya tertulis bahwa Yuli turut merasakan kebimbangan saya, serta memilih untuk minta diantar kepada orang tuanya. Tentu saja saya tertegun. Yuli tidak tahu bahwa saya sudah nekad membawanya ke Bandung, dan hanya menanti persetujuan Yuyu. Tapi, karena Yuli lebih dulu berkata begitu, saya memilih untuk diam.

Sebelum saya mengantarnya, terlebih dulu saya berangkat ke Cikole menemui ayahnya. Hanya sekedar jaga-jaga. Saya berpikir, bagaimana kalau nanti Yuli malah dimarahi? Dan tidak diterima lagi oleh orang tuanya? Maka, saya datang dulu sendirian, mencoba berbicara dari hati ke hati dengan orang tuanya. Sebagai mantan juara pidato tingkat kecamatan, saya berhasil meracik perkataan, sehingga ayahnya mau menerima lagi kedatangan Yuli. Saya senang, karena rasanya itulah jalan terbaik bagi Yuli. Sebandel-bandelnya Yuli, sekeras-kerasnya Yuli, dia tetap wanita yang berhati baik. Jadi, kalau Yuli masih diterima di keluarganya, Yuli memang lebih baik pulang. Tapi kalau Yuli tidak diterima lagi, saya akan membawanya ke Bandung.

Hari itu, saya meminjam lagi motor Rully untuk mengantar Yuli. Ketika mau berangkat, Rizal datang ke rumah, mengendarai motor. Sialan! Kalau tahu ada Rizal, tentu saya tidak harus meminjam motor Rully (dulu belum jaman SMS sih). Rizal pun turut mengantar Yuli, setengah memaksa meminta membawakan tas pakaian Yuli, biar kelihatan ada kerjanya. Padahal, tanpa Rizal pun motor saya, eh motor Rully, masih muat. Saat itulah saya terakhir kali menatap wajah Yuli—sampai sekarang.

Besoknya, 13 Juni 1993, saya berangkat ke Bandung seraya mengucapkan Bismillah, berniat melanjutkan sekolah. Kini, Yuli pun entah di mana. Saya hanya mendengar kabar bahwa Teti, Yuyu, dan Yuli telah menikah. Tapi… saya tidak mendapat kabar yang detail, siapa suaminya dan dimana tinggalnya.

“Teti, Yuyu, dan Yuli, saya selalu mendo’akan kalian. Semoga kalian semua selalu ada dalam kebahagiaan dan selamanya mendapat perlindungan Alloh SWT, Amiiin. Terimakasih atas kebaikan kalian di masa lalu. Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah melupakan kalian. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan saya, dan kesediah kalian adalah kesedihan saya. Percayalah, ketika menutup tulisan ini, ada air yang mengamuk di pelupuk mata, dan tak mampu terbendung…”

 

Dhipa Galuh Purba,

Ranggon Panyileukan, 21 September 2007

 

Ini adalah foto saya tahun 1992-1993 (ketika masih SMP). Sayang sekali, saya lupa menaruh foto Teti, Yuyu, dan Lia Yulianti. Jadi, untuk saat ini, foto mereka belum bisa diperkenalkan.