Tentang Quick Count

Oleh DADAN SUTISNA

 

Dulu saya sempat bertanya-tanya, kenapa harus ada quick count? Bukankah itu bagian dari ramal-meramal? Bahkan, awalnya saya mengira, quick count hanyalah téknik untuk menggiring suatu keputusan. Ternyata ketika saya memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan statistika, trend analisis dan probabilitas, semuanya bisa dikaji secara keilmuan.

 

Hal terpenting dalam survei apapun adalah métodologi, rambu-rambunya, dan itu sudah menjadi rumus umum serta siapapun bisa menggunakannya. Lembaga survei yang indepénden, tentunya akan mendahulukan integritas dan tingkat kepercayaan, daripada melacurkan keilmuannya untuk kepentingan tertentu. Dan ini terjadi pada masa pilprés sekarang, tatkala ada dua kubu lembaga survei yang mengeluarkan hasil quick count jauh berbeda, bahkan bertolak belakang dalam hal siapa yang menang.

 

Selama memperhatikan urusan quick count, baru kali ini ada lembaga survei yang benar-benar mahiwal. Entahlah, siapa yang mahiwal itu, yang jelas di kalangan lembaga survei profésional, tak akan pernah terjadi perbédaan yang mencolok seperti sekarang. Dua bulan lalu, pada saat pilég, hampir semua lembaga survei memiliki kecocokan data dengan real count vérsi KPU. Sedangkan hasil quick count RRI mendekati sempurna.

 

Jika menggunakan métode yang benar, quick count jarang melését. Bahkan lembaga survei dapat langsung mengumumkan siapa yang menang hanya dengan mencermati margin error. Hari ini, jelas sekali ada lembaga survei yang menyalahi kaidah keilmuan, dan dalam politik, hal itu sangat mungkin terjadi bahkan mungkin dianggap absah. Ketika kedua perbédaan hasil tersebut dibesar-besarkan oléh média, sebagian masyarakat mungkin bingung. Dua tetangga bisa saling klaim bahwa calon merékalah yang unggul hanya karena persoalan chanel télévisi.

 

Berbahagialah bagi yang gemar membaca. Mereka tak akan bingung, karena masing-masing lembaga survei memiliki rekam jejak: kapan berdiri, siapa pemiliknya, berapa kali mengumumkan hasil quick count, bagaimana tingkat akurasi pada hasil-hasil sebelumnya, bagaimana indepéndensinya, serta metode apa yang digunakan. Saya percaya pada hasil quick count—sepanjang menggunakan cara-cara yang tepat, karena itu bagian dari kajian suatu ilmu. Dalam penghitungan pilih-memilih, quick count juga menjadi semacam rambu untuk mengawasi kecurangan.

 

Masalahnya, sebagian média sedang dilanda musibah besar. Ia harus patuh pada pemilik dan mengabaikan apa yang disebut kebenaran informasi. Terkadang ia dipaksa berbohong, dan ada saatnya harus membohongi. Quick count yang dirilis beberapa lembaga, saya kira, sebatas “ngupahan” (baca: membohongi) sang calon. Dalam keadaan tidak menentu, sang calon dibuai dengan angin segar bahwa dialah yang memenangi pertarungan. Apalagi sebagian masyarakat tidak bisa membédakan mana lembaga survei yang menjunjung integritas, dan mana lembaga survei yang digunakan untuk “ngupahan”. Inilah pemicu keributan saling klaim.

 

Quick count—setepat apapun akurasinya—tidak memiliki dasar hukum untuk menjadikan pemenang. Ia hanya semacam sinyal menuju pada data yang sebenarnya. Semoga KPU tidak terganggu dengan kedua sinyal ini sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

 

Akhirnya, siapapun yang menang (sesuai keputusan KPU) nanti, tadi pagi saya sudah memilih dengan ikhlas. Saya hanya berdoa agar setiap hak pilih tidak dicurangi. Dan saya percaya, bahwa kemenangan yang sesungguhnya, insya Allah pada Hari Raya Idul Fitri nanti.

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>