Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2007 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Redung, terang, kelam

Kutatap mentari yang akan butakan mata

Namun hatiku, jelas tetap melihat

Rasa itu tak mudah tuk diredupkan

Aku tak kuasa tuk memendamnya

Cahaya hidup, kian terang benderang

Dalam relung sanubari:

Redup, terang, kelam, bergantian

Mengapa kegelisahan itu selalu mewarnai?

Waktu pun kian menua

Langkah yang kian surut dalam prahara

Di mana cahaya lenyapkan kegelapan

Menerangi setiap desahan luka

Dan titik-titik air mata membara

Bandung, 26 Juni 2004

Dimuat di Majalah Seni Budaya edisi 153, Juli 2004