Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2007 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Redung, terang, kelam
Kutatap mentari yang akan butakan mata
Namun hatiku, jelas tetap melihat
Rasa itu tak mudah tuk diredupkan
Aku tak kuasa tuk memendamnya
Cahaya hidup, kian terang benderang
Dalam relung sanubari:
Redup, terang, kelam, bergantian
Mengapa kegelisahan itu selalu mewarnai?
Waktu pun kian menua
Langkah yang kian surut dalam prahara
Di mana cahaya lenyapkan kegelapan
Menerangi setiap desahan luka
Dan titik-titik air mata membara
Dimuat di Majalah Seni Budaya edisi 153, Juli 2004







