Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 14-01-2010 |


Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

SLAMET Rahardjo naik sepeda ontel, diikuti puluhan onteler lainnya. Amien Rais melantunkan lagu keroncong. Mantan Menpora Adiyaksa Daud dan Yudi Latief berbicara kesenian. Eros Djarot berkaca-kaca bercerita masa kanak-kanaknya yang  sering menjadi korban kenakalan dan keusilan sang kakak, Slamet Rahardjo.

Demikianlah potret pemandangan yang langka terjadi, mewarnai rangkaian acara “Malam Anugerah FTI Award IV” yang berlangsung di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Mardzuki, Jakarta (27/12). Amien Rais melantunkan lagu keroncong dengan iringan Kelompok “Gema Lama”, sebagai ekspresi kegembiraan atas terpilihnya Slamet Rahardjo Djarot, salah seorang sahabatnya, yang terpilih mendapatkan “Anugerah FTI Award IV”. Selain bernyanyi, tentu saja Amien mendapat kesempatan untuk berpidato di hadapan ratusan para insan teater, kritikus, dan masyarakat umum yang pada malam itu turut menyaksikan rangkaian acara yang digelar FTI (Federasi Teater Indonesia), yang bertepatan pula dengan ulang tahun kelima FTI.

Selain Amien Rais dan Yudi Latief,  mantan Menpora Adiyaksa Daud pun turut menyemarakkan acara tersebut. Dalam pidatonya, Adiyaksa mengucapkan selamat kepada Slamet Rahardjo yang merupakan salah satu sahabatnya ketika masih kuliah. Adiyaksa pun berharap agar generasi muda sekarang meniru perjuangan dan kegigihan Slamet dalam berkesenian, khususnya seni teater.

Rangkaian acara “Malam Anugerah FTI Award IV” yang dipandu oleh Dick Doang dan Olivia Zalianty tersebut, tidak lupa memberikan kesempatan kepada Eros Djarot, adik kandung Slamet Rahardjo, untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya setelah kakaknya mendapat anugerah FTI. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Eros. Dengan berkaca-kaca, Eros menceritakan perjalanan pahit-getir dan suka-duka hidup bersama kakaknya, sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

            Apa yang dimaksud dengan Anugerah FTI Aword? Anugerah FTI Award diberikan kepada tokoh yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap kehidupan teater. Sebelumnya, FTI Award dihaturkan kepada WS Rendra (2006), Putu Wijaya (2007), dan Nano Riantiarno (2008). Dewan juri FTI Award yang terdiri dari Aspar Paturusi, Amoroso Katamsi, Akhudiat, Jajang C. Noer dan Radhar Panca Dahana memutuskan Slamet Rahardjo merupakan tokoh yang paling pantas mendapat anugerah tersebut.

 

 

 

Menurut Radar Pancadahana, Ketua FTI, pada saat ini kehidupan teater sudah mulai menggeliat kembali. Banyak kelompok-kelompok teater yang berkarya dengan bagus, sehingga FTI berharap agar terlahir lagi seniman-seniman muda yang bukan hanya Rendra-Rendra baru, Putu Wijaya baru, Nano Riantiarno baru, melainkan harus lebih hebat dari para maestro tersebut. Dalam usianya yang genap lima tahun, FTI bertekad untuk terus memperjuangkan kehidupan teater di tanah air menjadi lebih baik lagi.

Slamet Rahardjo merasa terharu atas penghargaan yang diberikan oleh FTI. Namun, seniman kelahiran Serang, 21 Januari 1949 mengatakan bahwa ia berkarya tanpa berharap sedikit pun mendapatkan penghargaan. Oleh karena itu, Slamet mengingatkan kepada muda-mudi aktivis teater, untuk terus berkarya tanpa mengharapkan penghargaan apapun. Jika karya yang dihasilkan berkualitas dan dapat bermanfaat bagi masyarakat, niscaya akan ada orang yang bekerja khusus untuk menghargai karya tersebut. Jadi, yang terpenting adalah tetap bekerja dengan baik dan bersemangat. “Saya bahagia, karena saya bekerja pada bidang yang saya cintai, yakni teater dan film…” Demikian petikan ungkapan Slamet setelah menerima Anugerah FTI Award IV.

 

 

Sekilas Perjalanan Slamet Rahardjo

Slamet mulai meniti kariernya dengan bergabung ke “Teater Populer”. Tentu, awalnya hanya menjadi anak bawang. Namun, berkat keseriusan dan kesungguhannya, Slamet selanjutnya menjadi aktor teater yang berkualitas. Anak sulung dari tujuh bersaudara ini, mulanya bercita-cita menjadi seorang cameramen. Tetapi garis nasib mengantarkannya menjadi seorang aktor. Slamet menjadi aktor dalam pertunjukan drama “Pernikahan Darah”, “Kopral Woyzek”, “Perhiasan Gelas”, dsb.

Selanjutnya, Slamet terjun ke dunia film pada tahun 1971, dengan membintangi film “Wajah Seorang Lelaki”, yang disutradarai Teguh Karya. Tiga tahun setelah itu, Slamet meraih gelar Aktor Terbaik dalam FFI 1974, atas kepiawaiannya  memainkan tokoh dalam film “Ranjang Pengantin”. Film-film lain yang dibintangi Slamet diantaranya “Perkawinan dalam Semusim”, “Badai Pasti Berlalu” (1977), “November 1828” (1978)”, “Ruang”, “Laskar Pelangi” (2008), dsb. Tidak heran kalau masyarakat lebih banyak yang mengenali Slamet sebagai insan perfilman.

 

Berbagai Acara Semarakan Hari Jadi Federasi Teater Indonesia

Selain menghaturkan FTI Award kepada Slamet Rahardjo, berbagai acara lainnya digelar pula sejak siang hari di Gedung Graha Bakti Budaya.  Misalnya diskusi yang bertema “Teater dan Perjuangan Kebudayaan” dengan menghadirkan pembicara Remy Silado, Sujiwo Tejo dan Nandang Aradea, dengan moderator Ray Rangkuti. Selanjutnya ada diskusi yang mengusung judul “Klinik Teater”, dengan menghadirkan narasumber Didi Petet dan moderator Lis Besoes.

Pada Malam Anugerah FTI Award juga, panitia mengumumkan pemenang “Festival Monolog Enam Hari di Ruang Publik”, yang digelar untuk kedua kalinya. Apito Lahire terpilih menjadi The Best of Best dalam festival monolog tersebut, mengalahkan para the best lainnya seperti Hendra Setiawan, Eko Bowo, Herlina Syafrudin, dsb.

Pengumuman dan pemberian hadiah pemenang Inter FTI Jabodetabek 2009 pun berlangsung pada malam tersebut. Inter (Invitasi Teater) FTI berlangsung pada 1 sampai dengan 5 Desember 2009 di auditorium Bulungan. Acara itu diikuti oleh 22 kelompok teater yang tersebar di daerah Jabodetabek dan Serang. Selanjutnya, para kurator yang terdiri dari  Nano Riantiarno, Adi Kurdi, dan Aspar Paturusi memilih 10 kelompok teater, untuk dinilai kembali oleh  40 orang juri kolektif yang bersifat sukarela, yang terdiri dari berbagai latar belakang.

Kesepuluh kelompok teater yang terpilih tersebut adalah Teater Mode (Jakarta timur),  Teater Amoeba (Jakarta Barat),  Teater Ema (Jakarta Utara),  Teater Indonesia (Jakarta Pusat),  Teater Ciliwung (Jakarta Selatan),  Teater UKM UI (Depok),  Teater Getapri (Bogor),  Teater Elnama (Tangsel),  Teater Sanggar Matahari (Bekasi), dan  Teater Studio Indonesia (Banten). Selama lima hari, 10 kelompok teater tersebut mementaskan karyanya secara bergiliran. Setiap hari, ada dua kelompok tetaer yang menggelar garapannya.

Pada hari pertama,  Teater UI mementaskan “Limbuk (n)Jaluk Married”, dan  Teater Getapri mempersembahkan “Rekaman Terakhir Krapp’s”. Hari kedua, giliran  Teater EMA yang mementaskan “Bila Malam Semakin Malam Setiap Malamnya”, dan  Teater Ciliwung mementaskan “Selamat Jalan Anak Kufur” karya Utuy Tatang Sontani. Hari ketiga, Teater Mode mementaskan “Bianglala”, dan Teater ELNama  mempersembahkan “Rohman (Rashomon)” yang merupakan naskah adaptasi dari Jepang, karya karya Ryunosuke Akutagawa. Hari keempat,  Teater Amoeba mementaskan sebuah naskah karya Ikranegara yang berjudul “Ssst”, dan  Studio Indonesia mementaskan “Bicaralah Tanah”. Pada hari terakhir,  Sanggar Matahari mementaskan “Kebinasaan kan”, dan  Teater Indonesia mementaskan “RT.0 / RW.0”.

 

Keputusannya, Teater Amoeba Jakarta Barat terpilih menjadi kelompok teater terbaik, dengan memborong juara dari beberapa kategori, yakni Join Bayuwinanda menjadi sutradara terbaik, Haikal Sanad menjadi aktor terbaik, dan Geri Gunawan sebagai penata musik terbaik. Sedangkan pada kategori aktris terbaik diraih oleh salahseorang pemain dari Teater Mode, dan penata artistik terbaik diraih oleh Teater Studio Indonesia.***