Siaran di Radio Shinta 97,2 FM Bandung

siaran

Menjelang akhir Januari 2008, saya dihubungi Kang Romel melalui pesawat telepon. Kang Romel menawari saya untuk siaran di Radio Shinta 97,2 FM Bandung. Tentu saja siaran berbahasa Sunda dan membawakan acara yang bermuatan kebudayaan Sunda. Saat itu, saya belum menyanggupinya karena masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Setelah di-PHK Radio Antassalam, saya memang belum memikirkan untuk siaran lagi di radio manapun. Saya tidak berusaha melamar ke salahsatu radio yang mengudara di Bandung, karena saya tidak bisa membuat surat lamaran kerja. Sewaktu di Radio Antassalam pun saya tidak melamar, melainkan ditawari oleh orang yang sama, yaitu Kang Romel. Waktu itu, Kang Romel menjadi PD (Program Director) Radio 103,9 Antassalam FM Bandung. Saat itu, tahun 2005, saya langsung menerimanya, karena saya baru saja memutuskan untuk pindah kontrakan dari Jakarta ke Bandung dan berniat menuntaskan kuliah di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Alhamdulillah, kuliah saya selesai, dan diantaranya tidak sedikit berkat dukungan Kang Romel. Ketika saya di-PHK oleh Radio Antassalam FM, saya memang sedang sibuk menyusun skripsi. Jadi, tidak ada yang saya permasalahkan. Saya tetap bersahabat dengan penyiar-penyiar Antassalam FM yang direkrut oleh manajemen baru, terutama dengan kakak angkat saya, Th Lia Refani. Selama inipun, sesekali saya suka main ke Radio Antassalam FM, kalau ada keperluan dengan Lia Refani. Bahkan pada malam tahun baru 2008, saya diajak Kang Deni (Program Director Antassalam FM sekarang) untuk turut mengisi acara di Saung Sawah, Sindangreret, Ciwidey.

Lia Refani sering bertanya, apakah saya mau siaran lagi? Kalau mau siaran lagi, ayolah melamar! Banyak radio Bandung yang membutuhkan penyiar Sunda. Begitu kata Lia. Saya selalu menjawab kalau saya belum punya banyak waktu untuk siaran. Apalagi kalau harus melamar. Seperti yang dituliskan di atas, saya tidak bisa membuat lamaran kerja. Jadi, saya memilih untuk tidak siaran dulu, meskipun pada masa yang akan datang kemungkinan saya akan siaran lagi, entah di radio mana.

Pada suatu kali, saya dikontak oleh Gustom (Program Director Radio El-Nuri Bogor). Gustom menawari saya untuk siaran di Radio El-Nuri. Tentunya saya harus pindah ke Bogor. Untuk tawaran ini, saya sempat memikirkannya dengan serius. Bahkan sudah hampir nekat pindah kontrakan ke Bogor. Saya pikir kalau tinggal di Bogor, tidak akan terlalu sulit mencari pekerjaan sampingan, karena lebih dekat lagi ke Jakarta. Tapi… di Bandung pun pekerjaan tidak ada habisnya. Saya selalu diliputi oleh berbagai kesibukan, yang membuat saya tidak punya waktu untuk merencakan pindah kontrakan ke Bogor. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak meraih kesempatan yang ditawarkan Gustom untuk siaran di Radio El-Nuri Bogor. Biarlah untuk sementara ini, saya tetap tinggal dulu di Bandung. Di masa yang akan datang, tidak menutup kemungkinan saya akan pindah kontrakan lagi ke Jakarta.

Pada 6 Februari 2008, saya dihubungi kembali oleh Kang Romel, menyuruh saya untuk datang ke Radio Shinta dan menemui Kang Bugi (Direktur Radio Shinta FM). Kebetulan saat itu saya sedang santai. Saya pun berangkat ke Radio Shinta FM, yang beralamat di Tamansari Bukit Bandung No. 13.B, Bandung.

Singkat cerita, kami bertukar pikiran mengenai acara kesundaan yang perlu dipancarsiarkan oleh Radio Shinta FM. Saya pikir, acara Sasakala Tatar Sunda merupakan suatu acara yang menarik, dengan diselingi lagu-lagu sejenis kawih, tembang, bandungan, degung, dan sebangsanya. Kang Bugi dan Kang Romel menyetujui acara yang saya sarankan, sekaligus mengangkat saya secara resmi menjadi salahseorang penyiar Radio Shinta FM. Saya dijadwalkan untuk siaran setiap malam Kamis, jam 22.00 WIB sampai dengan jam 01.00 WIB, mulai tanggal 13 Februari 2008.

Saya menyanggupinya karena tidak usah ribet-ribet membuat surat lamaran. Apalagi angka 13 adalah angka yang sangat bagus. Jadi, saya memutuskan untuk siaran di Radio Shinta FM Bandung. Sementara ini, saya hanya siap siaran sekali dalam seminggu, karena belum punya banyak waktu untuk siaran lebih dari sekali. Tapi mungkin saja di hari-hari selanjutnya, saya akan meminta jadwal siaran yang lebig padat.

Jarak dari Ranggon Panyileukan ke Radio Shinta tidak seberapa jauh. Hanya membutuhkan waktu 15 menit. Pada “malam pertama” siaran di Radio Shinta, saya langsung mempelajari program komputer yang digunakannya. Tentu berbeda dengan program yang sudah saya kuasai sebelumnya di Radio Antassalam FM. Tapi… Alhmadulillah, hanya beberapa saat, saya langsung paham dan bisa mengoperasikannya. Tidak sulit belajar komputer itu. Jadi, jangan mau diperbudak komputer. Lebih baik memperbudak komputer.

di-radio-antassalam

Ini adalah foto waktu saya siaran di Antassalam FM Bandung. Sebenarnya di ruangan siaran DILARANG KERAS MEROKOK. Tapi saya suka sembunyi-sembunyi merokok, sehingga saya sering kali mendapat teguran yang keras pula.

Radio itu penuh dengan keanehan. Sebelum siaran, saya tidak memberi tahu para pendengar Antassalam FM, apalagi mengajak untuk mendengarkan acara saya di Radio Shinta FM. Tapi… ternyata banyak pendengar lama Antassalam FM, yang kirim SMS atau telepon. Entah tahu dari mana. Yang pasti, mereka pun (para pendengar lama) merasa heran koq tangannya bisa kebetulan mengarahkan gelombang radio ke 97,2 FM. Ya, ikatan batin memang selalu ada dan sangat gaib. Saya, insyaAlloh, akan selalu mensyukuri dan menikmati siaran di Radio Shinta FM Bandung.

Sebagai penyiar Radio Shinta, saya mengajak masyarakat, terutama para pengunjung website ini untuk menjadi BARAYA SHINTA 97,2 FM. Dan sebagai penggiat kesusastraan Sunda, saya pun tetap menyarankan agar para pengunjung website ini menyimak acara SISINDIRAN di Radio Antassalam FM Bandung. Menurut kacamata subyektif saya, acara Sisindiran yang diasuh oleh Téh Lia Refani, merupakan acara terbaik dan paling berisi di Radio Antassalam FM Bandung. Acara lain yang saya sarankan untuk disimak adalah BADINGKUT di Radio Kencana FM. Selain sapa-menyapa, ngahaleuang, dan kirim-kirim lagu, biasanya Kang Nano. S memaparkan bahasan tentang kebudayaan Sunda yang cukup menarik. Sayang sekali, kalau Nano. S tidak siaran, bahasan kebudayaan pun hilang. Ada beberapa acara lain di radio-radio Bandung yang penting untuk disimak. Saya lupa menyimpan catatannya. Nanti kalau sudah ditemukan, tentu akan saya tulis semuanya.

Sekali lagi: Selamat berjuang, para penyiar Halilintar!***

 

DHIPA GALUH PURBA

 

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>