Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 |

KISAH Cinta semasa SMP: Dari kokok ayam hingga rembulan. 

Ketimbang mengejar-ngejar N, tampaknya YASI lebih mendukung saya untuk pacaran dengan Susi. Memang, di kelas “D”, satu-satunya cewek yang sering saya perhatikan adalah Susi. Menurut kacamata subyektif saya, Susi merupakan cewek tercantik di kelas “D”. Nama lengkapnya Rina Susilawati. Saya satu-satunya yang memanggilnya: Susi.

Susi orangnya lugu, baik hati, rada cuek, tidak banyak tingkah, dan cukup cerdas. Rumahnya di Cimendong. Setiap hari, dari Cimendong berjalan kaki menuju Karapyak, tempat berdirinya bangunan SMPN Panjalu. Tapi… menurut informasi yang dikumpulkan oleh Jurig, katanya Susi sudah punya pacar. Maka dari itu, saya tidak berani terlalu dekat. Hubungan kami sebatas teman, meski terkadang hati saya berdebar-debar.


Susi tidak pernah menghindar kalau didekati. Tampaknya ia selalu berhusnudzon kepada saya. Lagi pula, saya pun tidak pernah terbesit untuk memilikii niat buruk terhadap Susi. Apalagi sikap Susi benar-benar bersahabat. Contoh kecil, kalau ia jajan makanan, pasti menawari saya. Tentu saya jarang menolak, karena uang jajan saya hanya Rp 50,-., dan habis untuk membeli rokok.

 

Hubungan saya dan Susi kian akrab. Seperti pada acara study tour ke Jakarta (13-14 Desember 1992), saya sering menemani Susi berjalan-jalan. Pokoknya ia sangat baik. Di Jakarta, saya kehabisan makanan. Dan Susi bermurah hati membagi bekal makanannya. Begitulah seterusnya, Susi menjadi salahsatu sahabat terbaik saya semasa SMP. Bahkan pada tanggal 17 Desember 1992, Susi berkunjung ke rumah saya. Tapi saya tidak GR. Sebab, kedatangan Susi tidak murni didorong keinginan hatinya. Susi hanya mengantar Reni Haerani. Sedangkan maksud kedatangan Reni adalah untuk menemui Irwan, pacarnya. Saat itu, Reni dan Irwan sedang terbelit persoalan yang cukup rumit. Saya diminta Irwan dan Reni untuk membantu memecahkan persoalan mereka. Di rumah saya pun ada Abot dan Jurig, yang sudah tidak sabar mau berangkat ke Bandung. Jadi, sepulangnya Reni, Susi, dan Irwan, saya langsung berangkat ke Bandung bersama Abot dan Jurig. Tentu saya tidak mengantar Susi, karena saat itu saya tidak punya kendaraan apapun. Di buku harian saya tertulis… “Seandainya saya punya sepeda motor, pasti saya akan mengantarkan Susi.”

 

Pada suatu hari, tanggal 3 Februari 1993, saya mendapat pesan dalam lipatan setengah lembar kertas. Isinya adalah: “Mong, pulang les kalau tidak hujan, ditunggu di depan kantin”. Di bawah pesan itu, tertulis nama SUSI.

 


Susi (X) bersama kawan-kawan di SMPN Panjalu, tahun 1993

Saya ragu, apakah pesan itu benar-benar datang dari Susi atau seseorang yang iseng-iseng ngerjain? Tapi… diam-diam saya ingin segera selesai les dan berdo’a mudah-mudahan tidak hujan. Sayang sekali, sepulang les, hujan cukup deras. Tentu saja saya tidak ke kantin, karena hujan. Lagi pula, saya paling malas janjian sama cewek di kantin, karena takut diminta nraktir. Bukan pelit, tapi saat itu saya jarang sekali memegang uang dalam jumlah yang banyak.

 


Suatu hari di depan rumah Susi (tahun 1995). Sejak dulu, Susi selalu memalingkan muka atau menutup wajahnya atau marah, kalau saya memandang wajahnya. Namun, Susi selalu berbalik mencuri pandang jika saya sedang lengah. Poto ini menjadi saksi bagaimana cara Susi memandang saya. 





Hujan tak jua reda. Akhirnya saya nekad untuk berlari, pulang sambil hujan-hujanan. Baru saja ke luar dari gerbang SMPN Panjalu, saya melihat Susi sedang berjalan sendirian. Tubuhnya tidak kehujanan, karena Susi memakai payung. Saya pun segera mengejar Susi, numpang payung. Kami berjalan dalam derasnya hujan, sepayung berdua. Namun, saya tidak menanyakan maksud Susi mengirim pesan untuk bertemu di depan kantin. Demikian sepenggal kisah yang tercatat dalam buku harian saya.

 

Di buku harian saya pun tertulis pada tanggal 6 Februari 1993, saya sengaja main ke rumah Susi untuk pertama kalinya. Tidak tertulis apa yang kami perbincangkan, dan saya sendiri sudah lupa. Lalu pada 19 Februari 1993, saya kembali main ke rumah Susi. Mungkin juga saat itu saya sedang melakukan semacam PDKT. Buktinya tercatat dalam buku harian saya pada 1 Maret 1993, awal sekolah setelah melewati libur Idul Fitri, Susi yang pertama kali berjabat tangan dengan saya (Anehnya, pada hari Idul Fitri, saya tidak menemui Susi). Pada tanggal 2 Maret 1993, saya berkunjung kembali ke rumah Susi. Lagi-lagi tidak di buku harian saya tidak tercatat apa yang diperbincangkan. Seingat saya, hanya bersilaturahmi, ngobrol tentang sekolah dan sebagainya.

 

Puncak dari perasaanku terhadap Susi tercurah dalam buku harian saya pada 27 April 1993. Di sana terungkap perasaan cinta untuk Susi. Namun, saya tidak berani mengatakannya karena ada keraguan yang menggunung. Di antaranya karena laporan Jurig, bahwa Susi sudah punya pacar.

 

Aha… kisah cinta anak SMP yang terlalu bertele-tele. Dalam sujud, saya sering mendo’akannya: Semoga kebahagiaan selalu menyertainya.***

 

DHIPA GALUH PURBA