Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Di tanah ini bertabur bunga

Bunga-bunga air mata

Sungkawa

LUKA itu semakin menyayat hati, saat lantunan ‘Sajak dan Do’a’ menggema dari setiap sudut t ruangan pengap bergumul asap; kamar kost Pondok Mustika di lantai tiga. Entah sampai kapan lantunan lagu itu merasuki setiap sudut jiwanya bergumul duka. Diputarnya berulang-kali, sepanjang hari, sepanjang malam, mungkinkah sepanjang hidupnya?

Ini di luar kebiasaannya. Jika ia menyukai sebuah lagu, biasanya hanya diputarnya selama sehari atau dua hari. Kali ini, lagu yang dilantunkan oleh kelompok musik Wirahma tersebut, telah diputarnya sejak peristiwa tragis itu terjadi.

“Sudah bertahun-tahun, lu putar lagu itu. Apakah lagu itu bisa mengembalikan Cut Rona?” pertanyaan itu sering kali dilontarkan Asnep setiap kali menjumpai Darma termenung di kamarnya.

“Pertanyaan yang sangat bodoh. Jangan lu ulang lagi. Gua tidak sedang berusaha mengembalikan Cut Rona, melainkan mengenangnya. Apakah ada undang-undang yang melarang gua untuk mengenang Cut Rona?” meski nada suaranya datar, tetapi jawaban Darma cukup membuat Asnep terpana.

“Aku hanya kasihan aja. Hidup ini untuk dijalani dengan penuh semangat, bukan untuk mengenang masa lalu, sekalipun sangat indah atau teramat pahit…”

Kata-kata Asnep justru semakin menggiring dan mengantarkan ingatan Darma pada masa silam, saat pertama kali berkenalan dengan Cut Rona. Ketika pada tahun 2001, mereka menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Meski berbeda fakultas, tetapi mata Darma cukup jeli untuk menemukan seorang bidadari kampus. Mereka berkenalan di sela-sela kegiatan ta’aruf di kampusnya. Tidak sampai di sana, karena hubungan mereka berlanjut sampai mengukir ikatan cinta kasih.

Cut Rona lahir di Nanggroe Aceh Darussalam, 4 Desember 1984. Meski bertepatan dengan ulang tahun GAM yang ke-8, tetapi keluarganya tidak ada yang mendukung GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Bahkan secara pribadi, Rona menyesalkan pertikaian di tanah kelahirannya yang membuahkan suasana tidak aman; kacau balau, selalu dihinggapi rasa takut dan kecemasan. Cut Rona juga pernah bercerita kepada Darma, bahwa sebenarnya ia sudah masuk kuliah di IAIN Ar-Raniry. Namun setelah ada kejadian yang menggemparkan, ketika Safwan Idris, rektor IAIN Ar-Raniry yang ditembak-pada 16 Séptémber 2000, Rona merasa ketakutan. Akhirnya Rona memilih untuk berhenti kuliah, pindah ke Bandung, ikut saudaranya, serta daptar kuliah lagi di Bandung.

“Apakah lagu itu bisa mengembalikan Cut Rona?” pertanyaan Asnep membuyarkan lamunan Darma.

“Dengarlah, kawan! Sebelum berangkat, dia menitipkan kaset ini dan berpesan agar gua merenungi lagu ini…” jawab Darma

Tentu saja, seandainya Darma mengetahui ancaman musibah itu, mana mungkin mengijinkan Cut Rona untuk pulang ke kampung halamannya. Saat itu, lima hari menjelang bencana tsunami, Cut Rona meninggalkan tanah Pasundan.

Pasca musibah tsunami, Darma tidak tinggal diam. Ia telah berusaha menyusul serta mencari jejak Cut Rona ke tanah Serambi Mekah. Sejak turun dari pesawat, suasana duka telah menyelimuti Bandar Udara Blang Bintang. Sepanjang jalan menuju Lambaro, Darma menysaksikan ribuan jenazah bergelimpangan dengan rona yang sama. Tentu saja Darma kesulitan mencari Rona. Darma pun bingung, kepada siapa mesti bertanya, karena rona-rona wajah manusia pun hampir serupa.

Darma menyusuri jejak Cut Rona, mengikuti langkah kaki yang tiada terarah. Entah berapa kampung, berapa desa, berapa kecamatan, telapak kakinya telah mencium tanah-tanah yang berbau kematian; Bireun, Blang Nibong, Sawang, Puluk, Kuta Krueng, Mata Ulim, Glumpang, Pie, Blang Mee Pulo Klat, Pidie, Blang Nibong, Berungin, dan entah apa lagi namanya. Tidak ada! Darma hanya menemui rona-rona wajah yang hampir sama, tetapi bukan Cut Rona.

“Apakah lagu itu bisa mengembalikan Cut Rona?” lagi-lagi pertanyaan Asnep membuyarkan lamunan Darma.

Kali ini Darma sangat gusar. Serentak ia berdiri dan melangkah menuju pintu kamar.

“Mau ke mana?” tanya Asnep.

“Aku mau melompat!”

“Jangan! Jangan bunuh diri! Bunuh diri tidak baik untuk kesehatanmu!”

Darma tidak mengindahkan saran ataupun peringatan Asnep. Ia segera membuka pintu dan ke luar. Tidak lupa, Darma mengunci pintu dari luar, agar Asnep tidak menghalangi niatnya.

“Darmaaa…!” Asnep berteriak sambil menggedor pintu dengan keras. Namun semuanya sia-sia. Asnep hanya bisa memejamkan mata dan menutup kedua telinganya. Asnep juga hanya bisa membayangkan Darma yang melompat dari lantai tiga Pondok Mustika.

Selang beberapa menit, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Asnep ternganga, menyaksikan Darma memasuki kamar.

“Darma? Bukankah lu sudah bunuh diri? Betapa cepatnya lu menjadi hantu gentayangan?”

“Gua tidak mati, karena sudah tak ada lagi tempat untuk mati. Tanah kita sudah terlalu sesak dengan bunga-bunga air mata. Tidak ada lagi tempat untuk mati! ” jawab Darma sambil kembali memutar lagu ‘Sajak dan Do’a’.

“Sudah bertahun-tahun, lu putar lagu itu. Apakah lagu itu bisa mengembalikan Cut Rona?”***

Pondok Mustika, 1 Muharam 1427 H

Dimuat di HU. Galamedia, Sabtu, Tahun 2007. Tanggal dan bulannya lupa lagi. Silahkan bagi yang mau berpartisipasi memberi tahukan, barangkali punya dokumentasinya.