Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 21-08-2008 |
16 Agustus 2008, Jam 02.30 WIB. Saya berangkat dari
Kepulangan saya ke Panjalu memiliki beberapa tujuan. Pertama, mau menengok adik sepupu saya, Asep Syahroni, yang mengalami kecelakaan cukup parah ketika sepeda motornya bertabrakan dengan sebuah mobil di sekitar Limbangan (11 Juli 2008). Kedua, saya ingin bertemu dengan seseorang yang belakangan ini selalu menghibur saya, menasehati saya, mengingatkan saya untuk sholat, mengingatkan saya untuk melakukan puasa Senin-Kamis, dan berbagai nasehat lainnya melalui SMS. Ketiga, saya ingin menyaksikan acara peringatan Proklamasi Kemerdekaan di Panjalu, setelah bertahun-tahun tidak pernah menyaksikan. Biasanya saya suka membantu acara-acara Agustusan di Kompleks Panyileukan, hususnya RW. 02, dengan melatih para pemuda membuat kreasi seni berlatar kebudayaan Sunda, seperti longser, baca sajak Sunda, sekar-catur, dsb. Tapi beberapa tahun ini, panitia Agustusan di Panyileukan sudah tidak peduli lagi pada acara seperti itu. Mereka lebih memilih hiburan-hiburan instan yang jauh dari kreativitas warganya sendiri. Atau mungkin mereka sudah tidak punya waktu untuk berkreasi, sehingga iuran untuk peringatan agustusan hanya digunakan untuk hiburan yang bersifat hura-hura tanpa makna.
Tapi biarlah, tidak usah dipermasalahkan, karena hal itu merupakan hak panitia agustusan. Saya sendiri tinggal di RW.03, dan selama ini bukannya tidak mau membantu kegiatan di RW.03, tetapi mereka tidak pernah memintanya. Ketika saya bersedia membantu kegiatan di RW. 02, karena memang mereka meminta. Dan saya orang yang tidak peduli dengan sekat-sekat administratif. Dimanapun saya akan merasa enjoy melakukan kegiatan. Jadi, saya bukan warga yang tidak peduli terhadap lingkungan. Saya selalu siap kalau diminta, tanpa memikirkan keuntungan materi. Kegiatan-kegiatan yang saya lakukan di berbagai tempat pun, hanyalah berpegang pada nilai idealisme. Tidak ada salahnya merayakan HUT Kemerdekaan Republik
**
SELEPAS menunaikan sholat Subuh, saya membaca buku sampai jam 09. 00 WIB. Mata mulai mengantuk, karena semalaman belum tidur. Lalu saya pun tidur sampai beduk Duhur. Di Dusun Embun, masih ada beduk, sebagai pertanda setiap tiba waktunya sholat lima waktu. Setelah sholat Duhur, saya segera berangkat untuk menemui seseorang yang telah berjanji mau bertemu. Ia, yang belakangan ini selalu menghibur saya, mengingatkan saya agar selalu sabar dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Ya, saya tahu bahwa pasrah itu merupakan tingkat tertinggi setelah berikhtiar. Ia pun tahu bahwa saya bukan orang baik. Ia tahu, saya adalah orang yang bergelimang dosa, sering salah melangkah, dan sering lalai melakukan ibadah. Mungkin ia hadir sebagai “utusan” untuk menuntun jalan hidup saya agar lebih terarah dan pasrah. Saya pun menemuinya dengan cinta, dengan kerinduan yang telah terpendam bertahun-tahun lamanya. Perpisahan itu ternyata tidak bisa membuat terkuburnya suatu kisah, malah justru semakin menjadi-jadi, kerinduan mengamuk di dalam lubuk hati. Inikah yang membuat saya selalu gagal dalam membina sebuah kisah baru? Ada kisah lama yang meronta-ronta untuk dikuakkan kembali? Wallohualam. Yang pasti nama itu selalu terbesit dikala sepi menggerogoti hati. Saya tidak mungkin melupakannya, meski hanya secuil harapan untuk bersama selama-lamanya. Hanya secuil harapan. Bahkan ia telah menyatakan dengan tegas: hapuslah harapan itu, karena itu adalah harapan yang sangat mustahil. Saya pun menjawab, baiklah, lupakan harapan, dan jalani kenyataan.
Kami berjalan menaiki tanjakan terjal Curug Tujuh Cibolang. Ia tampak tenang, tetap berjalan seperti yang tidak merasa kelelahan. Sementara nafas saya sudah tidak beraturan, keringat membanjiri tubuh. Berkali-kali ia menawarkan untuk beristirahat, karena khawatir melihat saya kelelahan. Tapi saya cukup malu untuk berhenti. Ada kekuatan yang entah darimana, yang membuat saya terus berjalan sampai mendekati lokasi Curug Satu.
Tiba-tiba ia yang mengajak beristirahat, beberapa meter sebelum sampai ke Curug Satu. Tapi bukan karena lelah, melainkan ingin menikmati suasana di tempat tersebut yang begitu sejuk. Pohon rindang menjadi tempatnya bersandar, angin tingtrim membelai rambutnya. Betapa indahnya alam Curug Tujuh. Kami berbagi cerita, merenung, dan merasakan berbagai gejolak di dalam jiwa. Tak ada rasa lelah seperti yang saya rasakan ketika naik gunung Ciharum bersama Dadan Sutisna. Tidak ada! Yang ada hanya kesejukan, kedamaian, keindahan.
Beberapa saat kemudian, kami melangkah menuju Curug Satu. Air terjun menerpa bebatuan dan membentuk kulah. Air sangat sangat bening, dan tentu dingin. Apakah ini mimpi? Di Curug Satu ini tidak ada siapa-siapa lagi kecuali kami. Hanya kami berdua, seakan Curug Satu ini milik kami. Sejuk, segar, indah. Kami turun ke kulah, tak peduli lagi pada pakaian yang basah kuyup. Suatu ketika kakinya hampir terpeleset di batu yang licin, tetapi secara reflek tangannya segera diraih. Ia sangat menikmati suasana di Curug Satu. Ia menikmatinya. Tentu saja saya lebih menikmati suasananya. Bahkan… saya yang mungkin lebih bahagia daripada dirinya.
Ia mengajak pulang bukan karena tidak betah, melainkan waktu yang semakin sore. Ia mengajak saya mencari mushola. Ajakan yang tidak bisa ditentang. Sebab kalau ditentang, diperkirakan ia akan marah. Saya menurutinya. Kini, kami tinggal berjalan menyusuri turunan yang tidak melelahkan, bahkan mengasyikan. Berkali-kali saya berlari mendahuluinya dengan memotong jalan, lalu menunggunya di jalan setapak. Saya seperti anak kecil yang sedang bermain-main dengan gembira.
“Ternyata… jalan-jalan lebih enak ke tempat kaya gini. Jalanan naik yang melelahkan, dan kini turun dengan segar. Sungguh menyegarkan perjalanan ini…” kata saya sambil menikmati reaksi tubuh yang memang terasa sangat segar.
“Seperti perjalanan hidup, harus berjuang dulu dengan penuh kesabaran, dan kemudian menikmati hasilnya. Mesti bersakit-sakit dahulu untuk kemudian bersenang-senang…” jawabnya sambil tersenyum. Ya… prinsip hidupnya no gains without patient. Saya tahu, ia adalah sosok yang hidupnya penuh perjuangan. Dan dari perjuangan hidupnya, sekarang ia telah menikmati hasilnya. Selepas SMA, ia langsung bekerja membanting tulang untuk berbakti kepada orang-tuanya. Dan… Alhamdulillah keberhasialn pun telah menyertainya, berkat kegigihaanya, kerja kerasnya dan tentu saja do’a-do’anya pun do’a-do’a orang yang mencintainya. Setidaknya, keberhasilan untuk ukurannya, yang sangat ia syukuri.
“Kalau begitu, saya akan berjuang, dan selalu bersabar. Terus berjuang, terus bersabar, naik tanjakan yang terjal, tak akan berhenti, sampai tanganmu bisa dipegang erat selama-lamanya. I do not expect any one beside your self…” jawab saya sambil tetap berjalan di belakangnya. Ia tidak menjawab. Tapi diam-diam terdengar ia bersenandung, sampai akhirnya kami sampai ke depan sebuah mushola.
…ingatkah kamu, bahwa ini adalah pengulangan sebuah adegan? Hanya tempat, usia, dan keadaan yang telah berubah. Ketika kita masih duduk di bangku SMA, 12 April 1994, saya berkunjung ke rumahmu, kemudian saya menunaikan sholat dzuhur di rumahmu. Kamu menunggu saya dengan sambil membuatkan segelas air. Saya tidak tahu, apakah kamu memperhatikan atau tidak. Kali inipun, kamu dengan tenang menunggu di samping mushola Curug Tujuh. Kamu masih tetap bersenandung kecil. Selepas sholat Ashar, saya mengulurkan tangan mengajak bersalaman, dan kamu menerimanya, bahkan mengecup tangan saya. Hanya kita yang tahu perasaan yang tersembunyi di lubuk hati, sebagaimana kita tahu bahwa kita, setidaknya untuk saat ini, harus meredam perasaan apapun yang berkecamuk dan mengamuk di dalam dada…
Kami pulang dari Curug Tujuh. Sepanjang jalan, kami menyaksikan berbagai kesibukan masyarakat untuk mempersiapkan acara besok, ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63. Masyarakat pedesaan banyak yang kreatif. Bahkan kami sempat berhenti di daerah Pabuaran, karena tertarik pada kesibukan beberapa orang yang sedang mengeset properti Wayang Landung. Pandu Radhea, seorang sahabat yang merintis kesenian tersebut. Pandu telah memperkenalkan kesenian wayang landung ke berbagai tempat dan berbagai acara. Ia mengajak masyarakat desa untuk berkreasi, sampai-sampai ia dan rombongannya pernah diundang untuk pentas wayang landung di Bali. Pada acara “Kemilau Nusantara” Jawa Barat yang diikuti oleh 24 kabupatén, Wayang Landung mewakili Kabupatén Ciamis dan terpilih sebagai juara 2, setingkat dibawah kesenian Buroq dari Cirebon.
Orang yang duduk di sebelah saya, mungkin tidak akan tahu-menahu urusan wayang landung. Ia tidak punya banyak waktu untuk mengenali berbagai kesenian yang berlatar tradisional. Tapi ia memperhatikannya, dan tampak menyukainya, sehingga ia tidak menegur saya ketika saya berhenti beberapa saat untuk berbincang-bincang dengan para seniman wayang landung.
Selanjutnya kami menuju Situ Lengkong Panjalu. Saya makan dulu, karena takut terserang lagi mag. Tapi ia tidak makan, hanya minum seteguk téh manis, dan kemudian ia yang membayar semuanya. Lalu… kami menuju ke sebelah timur, untuk menikmati lebih dekat suasana Situ Lengkong. Terdengar adzan Magrib berkumandang dari menara Masjid. Di Situ Lengkong, saya tidak mendengar suuara beduk. Seperti biasa, ia menyuruh saya menunaikan sholat, sementara ia menunggu di sebuah kursi, persis di mulut Situ Lengkong Panjalu. Ia sedang berhalangan sholat.
Angin berhembus dengan cukup kencang. Kami duduk berdua di mulut Situ Lengkong Panjalu. Hampir tak ada perbincangan. Sebab kami biarkan hati kami yang berdialog. Sampai akhirnya, kami meninggalkan Situ Lengkong Panjalu, sekitar jam 19.00 WIB. Kami berpisah di depan Masjid Agung Panjalu. Ia harus pulang. Sementara saya tidak terlalu mempedulikan pulang. Saya malah menuju rental DVD di Pabuaran. Bukan untuk menyewa DVD, melainkan menemui kawan saya yang menunggu rental tersebut, Dani Sugandi, kawan sebangku semasa sekolah di SMPN Panjalu. Di sana pun saya bertemu dengan Hendra, direktur Radio Irzi FM Panjalu, yang beberapa waktu lalu sempat berkunjung ke Ranggon Panyileukan. Maka, kami pun berbincang-bincang sambil bercanda ria.
**
ESOKNYA, 17 Agustus 2008, saya menyaksikan berbagai kreasi seni di sekitar Alun-alun Panjalu. Ya, sekitar Alun-alun. Sebab Alun-alun Panjalu kini sudah kehilangan aura. Gersang, tidak jelas desain pembangunannya, dan menjauhkan diri dari pusat kegiatan masyarakat. Tidak ada akses untuk mobil. Padahal banyak sekali mobil yang sudah dihiasi pernak-pernik, yang biasanya berkeliling di Alun-alun Panjalu. Kenapa Alun-alun Panjalu jadi seperti ini? Ada jogging track yang sangat mengganggu, dibuatnya sangat tanggung, sehingga Alun-alun Panjalu menjadi sempit, tidak akan mungkin lagi anak-anak bermain sepak bola. Soalnya… saya baru melihat jogging track yang kiri-kanannya dibuatkan saluran air yang cukup dalam. Itu sangat berbahaya, bisa-bisa ada yang terporosok. Lagi pula, ini bukan jogging track, karena dibuat dari paving block yang mengakibatkan Alun-alun menjadi gersang. Tak ada lagi rumput-rumput hijau, yang ketika masih SMP, bisa saya jadikan untuk tempat tidur-tiduran atau tidur beneran. Alun-alun Panjalu benar-benar kehilangan aura. Ia tidak mungkin lagi jadi pusat berbagai kegiatan masyarakat. Mau dibilang taman, tentu saja jauh memenuhi syarat, apalagi mau dibilang lapang. Sebaiknya Alun-alun Panjalu didesain ulang, janagn sampai mematikan berbagai kegiatan. Babancong pun hilang. Mau dijadikan apa sich Alun-alun Panjalu ini? Cobalah konsultasi dulu dengan berbagai elemen masyarakat, kalau mau menguatak-atik fasilitas umum.
**
Sekitar jam 16.00 WIB, saya baru bertemu lagi dengannya. Ia tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan, karena malam harinya harus berkemas, persiapan pulang ke
Kami berjalan-jalan ke Cukangpadung, Sriwinangun, Pari, Cilandak, Ciwalen, Warudoyong, Simpar, dan sebagainya. Itulah detik-detik akhir dari sebuah pertemuan yang sangat dinantikan. Kami berpisah di Alun-alun Panjalu, sekitar jam 20.00 WIB. Betapa berat melepas kepergiannya. Mungkinkah ia pun berat meninggalkan saya? Saya tidak tahu. Yang pasti, ia berkata, kalau Alloh mengizinkan, tentu akan berjumpa lagi. Saya sangat berat untuk melepaskan tangannya ketika bersalaman. Ia tersenyum dan untuk kedua kalinya mengecup tangan saya. Ia pergi. Pergilah ia meninggalkan saya, dan entah kapan berjumpa lagi.
Tapi ia tidak pergi dari hati saya. Ia hidup dalam hati saya. Ia membakar semangat saya untuk melangkah menyusuri hidup lebih bergairah dan lebih keras dalam berjuang. Ia adalah semangat baru dalam hidup saya. Terimakasih atas kehadiranmu kembali. Kepadamu saya berjanji, akan semakin bersemangat meniti jalan terjal nan berliku sampai menuju puncaknya. Lupakan harapan, dan jalani kenyataan.***
DHIPA GALUH PURBA













Euleuh-euleuh….geuning sigana mani jero eta rasa teh. Naha atuh sanes dijadikeun bae ? Barina oge rek ngantosan naon deui. Diengke-engke mah bilih hanjakal keh ! Aeh…ari wayang landung teh naon ? Rumaos geuning akang mah kirang katerang.
Sok ah tong di engke-engke bilih dipayunan ku batur.
he… he…….he……..he…….
Di doakeun ku akang sing lancar.
Numawi rada rumit ieu teh…
Nuhun kana pidu’ana. Amiiin pisaaaan…
DHIPA GALUH PURBA
buru-buru kawin geura. hanas we foto “S” na laptop satolombong. tong pipilih teuing atuh bisi mindeng nyeri hate he..he..he lojeeeeeerrr…!
wah,,,,,,kangen nech k’panjalu,,,,,,pa lg ka alun2,,,,,,,tempat ameung sm tmn2,d’situ khn ya SD bi,SDN 5!salam bwt bu uung,pa samsu,pa koko dll!tos lami gx k’pjl,,,,,,,,,salam weh k’semua’y,,from puput