Kategori: Tourism | Diterbitkan pada: 11-11-2008 |

Oleh ROCHAJAT HARUN

Bagi dunia kepariwisataan Indonesia adalah suatu berita yang menggembirakan, bahwa pada bulan Desember 2008, sejumlah besar wisatawan dari Arab Saudi akan datang ke Jawa Barat. Sedikitnya ada 500-1000 wisatawan asal Saudi Arabia akan menghabiskan masa wisatawannya di Indonesia, khususnya ke Jawa Barat selama musim haji, yaitu sejak 4-12 Desember. Wisatawan tersebut akan mengunjungi Jabar dalam bentuk family group.

Hal ini dimungkinkan setelah disepakatinya kerja sama untuk mendatangkan wisatawan ke Jabar antara Arsita, PHRI, dan perusahaan Khobaraa Al Saudi Holding Company di Bandung, pada hari selasa 4 November 2008. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman mengenai kerja sama pariwisata antar negara oleh Kadin Jabar dan Kadin Jeddah, Arab Saudi, pada Agustus lalu.

Rencana ini merupakan hal yang menggembirakan. Namun demikian, diperlukan kematangan persiapan sehingga tidak mengecewakan para turis Saudi Arabia dan juga tidak merugikan kita sebagai tuan rumah. Pada umumnya turis asing yang datang ke Indonesia berasal dari Eropah, Amerika dan Asia seperti Jepang, Korea dan Singapura. Tentunya dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang ingin menyaksikan seni budaya, keindahan alam tropis, perhutanan, pantai, peninggalan-peninggalam kerajaan dan sebagainya. Bahkan ada yang sekadar ingin enjoying something, seperti dari Singapura yang dulu banyak berdatangan ke Batam, karena ingin rekreasi perjudian maupun hiburan malam.

Pada kesempatan ditanda tanganinya kerja sama mengenai penyusunan jenis paket wisata tadi, Nicolaus Lumanauw dari Asosiasi Travel Indonesia (Asita) sempat mengungkapkan, bahwa paket wisata yang dilakukan adalah 10 hari 9 malam dengan tujuan Jakarta-Bogor-Bandung-Ciater-Jakarta. Kemudian kembali ke Arab Saudi. Adapun daya tarik yang dijual yakni keindahan alam, udara yang sejuk, dan kedekatan emosional antara penduduk Arab Saudi dan masyarakat Jabar yang mayoritas muslim.

Ketua Kompartemen Pariwisata Kadin Jabar Yahya Mahmud memaparkan, penandatanganan kerja sama ini memiliki dampak yang cukup besar bagi perekonomian di Jabar, tidak hanya bagi pariwisata. Terlebih lagi pada tahun 2009, gubernur Jabar telah mencanangkan agar Kadin Jabar mampu berkontribusi untuk mendatangkan 30-40 % wisawan dari Timur Tengah ke Jabar, dari total kunjungan wisatawan Timur Tengah secara nasional.

Sementara itu, perwakilan Khobaraa Al Saudi Holding Company Khalid S. Al Musa menyambut baik kerja sama tersebut. Kedepan, diharapkan bisa berlangsung secara kontinyu. Apalagi bagi penduduk Arab Saudi, Indonesia merupakan rumah kedua. Oleh karena itu dia ingin memberikan kontribusi bagi Indonesia dan juga Jabar, sehingga pariwisata menjadi pintu untuk investasi. Selanjutnya Ketua Kadin Jabar Iwan Darmawan Hanafi mengatakan, mensyukuri atas ditanda tanganinya kesepakatan kerja sama tersebut. Sebab, nota kesepakatan ini dapat ditindak lanjuti menjadi action plan sehingga sesuai dengan rencana, tidak hanya sebatas wacana.

Ada beberapa hal yang seyogianya dipertimbangkan oleh kita selaku tuan rumah dari wisatawan asing, terutama bagi para turis yang berasal dari Arab Saudi. Pertama, tentunya mereka berkunjung ke Indonesia ini karena termotivasi untuk mengunjungi objek dan produk wisata yang menyangkut kerohanian muslim (wisata rochani). Karenana perlu dipertimbangan agar objek wisata yang dikunjungi adalah yang ada kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam sejak jaman baheula. Misalnya mesjid-mesjid, pondok pesantren, makam-makam para pejuang dan penyebar agama Islam seperti Walisongo dan sebagainya.

Kedua, perlu dicermati secara seksama tentang latar belakang sosial budaya dari wisatawan yang satu ini. Misalnya tentang pola makan, kebiasaan mereka dalam pergaulan, adat istiadat, bahasa, seni budaya yang mereka inginkan. Bahkan kalau perlu dapat diketahui tentang kebiasaan mereka dalam mandi maupun buang air besar (berak). Sebab, saya punya pengalaman kecil dulu tahun 70-an sewaktu saya ngawal orang Jepang. Kami nginap di sebuah hotel di kota Malang. Pagi hari dia kelihatan mondar mandir seperti kebingungan. Waktu saya tanya, ternyata dia tidak bisa mandi dan buang hajat alias berak, gara-gara tidak ada tissue dan bak air untuk merendamkan badan. Nah, apakah wisatawan Saudi Arabia punya kebiasaan khusus seperti itu ? Ini perlu dicermati dan diketahui.

Ketiga, sarana dan prasarana Hotel, perlu disesuaikan dengan kesenangan dan kebutuhan mereka. Walau kita sediakan hotel mahal berbintang lima, mungkin saja tidak cocok. Ada hal-hal spesifik yang mereka senangi dan tidak disenangi. Misalnya perlukah tukang pijit, perlukah disediakan tempat karokean atau night-club, apakah di hotel ada mushola atau mesjid dan sebagainya.

Ketiga, tersedianya pramuwisata yang tidak hanya fasih berbahasa arab dan Inggris, tapi perilaku, sifat dan dandanan pakaian yang wajar. Tidak sensual dan seksi yang mungkin saja menggoda mereka. Sebab masyarakat dari Timur Tengah biasanya lebih mudah terangsang. Beda dengan para turis yang berasal dari Erpah dan Amerika.

Empat, suguhan kesenian kepada mereka, hendaknya tidak sembarangan asal lagu maupun gerakan gual-geol saja, atau ajrag ajragan seperti nyanyian-nyanyian pop atau rok, atau dangsa-dangsa, yang dewasa ini sedang menjamur di negara kita.

Lima, mengingat kondisi alam dan cuaca pada bulan Desember ini yang kemungkinan besar potensial jadi hambatan perjalanan, karena hujan dan banyak longsor, hendaknya dipertimbangkan betul-betul matang jangan sampai mengganggu perjalanan wisata mereka. Misalnya saja, walaupun objek wisata di Pamijahan (Syeh Abdul Muchyi) cocok sebagai objek wisata agama/rochani, namun karena karena kondisi jalan serta keadaan hujan yang kemungkinan akan turun lebat pada bulan Desember, hal tersebut perlu dipertimbangkan dan direncanakan secara seksama.

Akhirnya, adanya rencana kunjungan wisatawan dari Arab Saudi ini, merupakan peluang besar, tidak hanya untuk peningkatan PAD Jawa Barat saja, tapi juga sekaligus sebagai salah satu upaya meningkatkan citra, kualitas dan kuantitas kepariwisataan Indonesia. Kita sudah mentargetkan 7 juta wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia tahun 200, apalagi bila dikaitkan dengan gerakan kepariwisatan Visit Indonesia 2008. Selamat, semoga sukses kepada Jawa Barat sebagai tuan rumah.

Bandung, 6 November 2008