Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 |

 

stsi-bandung

Kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung terletak di Jl. Buah Batu No. 212, Bandung. Untuk lebih mengenal STSI Bandung, silahkan kunjungi Web Site STSI Bandung

Saya diterima menjadi mahasiswa STSI Bandung pada tahun 1998. Saat itu, ada empat jurusan yang tersedia di STSI Bandung, di antaranya Jurusan Teater, Tari, Karawitan, dan Seni Rupa. Saya memilih Jurusan Teater, dan mendapat Nomor Induk Mahasiswa (NIM): 98. 33. 027. Jika di SMA ada wali kelas, maka di perguruan tinggi ada Dosen Wali. Yang mendapat tugas menjadi dosen wali saya adalah Bapak Herman Effendi, seorang fotografer ternama.

Di STSI Bandung, saya pernah mendapat beasiswa PPA (Penghargaan Prestasi Akademis). Sayang sekali, pada Semester IV, saya banyak bolos sehingga prestasi menurun, dan akhirnya beasiswa PPA pun dicabut. Semester selanjutnya, saya semakin banyak bolos, karena terlalu sibuk berkegiatan di luar kampus. Persoalannya, saya kurang pandai membagi waktu. Semakin lama, kuliah saya kian berantakan, sampai akhirnya pada tahun 2006, saya divonis DO (Drop Out) pada masa kepemimpinan Bapak Arthur S. Nalan. Surat pemberitahuan DO tersebut dikirimkan ke alamat saya yang dulu, dan diterima oleh ibunya Susan Setia Asih. Sebelumnya, saya tidak menerima semacam Surat Peringatan (SP). Jadi, kemungkinan di STSI Bandung tidak ada SP, langsung saja mengeluarkan vonis DO.

Ada seorang dosen Jurusan Teater yang sampai saat ini selalu terkenang, yakni Bapak Benny Johanes (Benjon). Beliau adalah seorang teaterawan terkemuka. Saya banyak belajar kepada beliau, baik secara formal maupun non-formal, terutama dalam hal penulisan cerita.

Meski kuliah di Jurusan Teater, tetapi saya lebih merasa dekat dengan dosen-dosen Jurusan Karawitan. Bahkan saya pernah berpikir untuk pindah ke Jurusan Karawitan. Di antaranya Pak Dody Satya Ekagustdiman, Pak Dedi Satya Hadianda, Pak Dinda, Pak Yus Wiradiredja, Pak Ismet Ruhimat, dsb.

Banyak kawan-kawan angkatan 1998 yang sampai saat ini selalu terkenang, baik dari Jurusan Teater, Tari, Karawitan, maupun Seni Rupa. Di antaranya Apip, Rano Sumarno, Yosep Sonjaya, Yuli Ripayanti, Pipih, Heni Ocktaviani Wulandari, Sri Devi, Erikson, Dadan, Yulia, Rosul, dsb. Kalau tidak salah, Rano Sumarno merupakan mahasiswa yang paling cerdas di Jurusan Teater angkatan 1998. Ada sahabat mahasiswi angkatan 1998 yang nama belakangnya sering saya “pinjam”, mahasiswi Jurusan Tari, dengan NIM: 9811003. Tentu saja sekarang sudah lulus. Dia dinyatakan lulus pada tanggal 15 Desember 2003, dengan nomor ijazah 579/L05.3/PP/S/2003. Nama belakangnya sering saya pinjam untuk nama tokoh dalam berbagai cerita. Sebut saja namanya Iswari. Dalam sinetron “Misteri Ronggeng Bentang”, nama tokoh utamanya adalah Nyai Layung dan Nyai Iswari. Dalam drama Sunda berjudul “BADOG”, nama Iswari juga yang saya pilih sebagai nama tokoh utama. Dan nama Iswari membawa keberuntungan bagi saya, karena naskah drama Sunda “BADOG” terpilih menjadi Juara III pada Lomba Menulis Drama Sunda yang digelar oleh PPSS dan Teater Sunda Kiwari. Selain itu, ada juga sebuah cerpen berbahasa Sunda yang berjudul “Iswari”. O ya… terimakasih atas “pinjaman” namanya…

Meski berujung DO, saya tetap merasa bangga dan bahagia pernah mengenyam pendidikan formal di STSI Bandung.

di-surabaya

Bersama Kawan-kawan mahasiswa Jurusan Karawitan di Taman Budaya Jawa Timur

berdiskusi

Diskusi di sebuah kamar kost bersama kawan-kawan mahasiswa Jurusan Tari

rita-tilla

Berdiskusi dengan adik angkatan, Rita Tilla, di Radio Kencana FM

di-sunan-ambu