Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 |

di-pangkalan-becak-panyileukan

 

 

Di pangkalan becak pintu gerbang Komplek Bumi Panyileukan, Tahun 1993. Saya (x) bersama beberapa orang penambang becak dan seorang pedagang cendol.

14 Juli 1993 merupakan hari pertama menginjakan kaki di kampus SMA Pasundan 7, Jl. Kebonjati 31, Bandung. Saya sendiri tinggal di rumah kakak, Komplek Bumi Panyileukan, Cibiru, Bandung (Sekarang menjadi Kecamatan Panyileukan). Tadinya saya sempat bingung, melanjutkan sekolah atau bekerja? Sebab, setelah bapak meninggal, saya hanya menyandarkan harapan kepada kakak tertua saya, Tuti Sunarti. Sedangkan kakak pun sudah berkeluarga, mempunyai anak, dan menanggung biaya ibu saya. Kakak saya bekerja di penerbit CV. Djatnika, Jl. Banteng 156, Bandung.

Kakak saya merupakan sosok yang patut menjadi suri tauladan. Ia yang memberi semangat untuk melanjutkan sekolah dan berjanji akan membiayai saya. Bahkan kakak pula yang mendaftarkan saya ke SMA Pasundan 7 Bandung. Saat itu, saya pun berjanji tidak akan terlalu membebani kakak. Saya akan bekerja setiap pulang sekolah.

Pekerjaan yang saya pilih adalah narik becak di Komplek Bumi Panyileukan. Istilahnya bisa juga nambangan, ngabeo, ngejek, dan sebagainya. Untuk bisa mengemudikan becak, saya tidak memerlukan waktu yang lama. Dalam waktu sehari pun, saya sudah bisa mengendalikan becak. Dan yang tidak kalah penting, dalam waktu singkat saya sudah bisa beradaptasi dengan kehidupan tukang becak. Saya langsung akrab dengan para penambang becak yang sudah senior. Sehingga saya bisa enjoy dan menikmati pekerjaan saya.

Ketika belum lancar mengemudikan becak, saya sudah nekat narik penumpang. Dulu, di Komplek Panyileukan, bukan becak yang nunggu penumpang, melainkan penumpang yang menunggu becak. Penghasilan dari narik becak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya yang mulai narik jam 16. 00 sampai jam 24.00 WIB, bisa menghasilkan uang rata-rata Rp 15.000,-/ hari.

Waktu kelas I, saya kebagian sekolah pagi. Jadi, bubar sekolah, saya pasti langsung pulang ke Panyileukan. Lalu menghapal dan membaca buku sampai waktunya solat Asar. Setelah itu, saya ngambil becak sewaan dan mulailah narik. Saya pernah sangat menyesal ketika suatu kali becak saya terguling di belokan. Penumpangnya luka-luka, dan saya pun sama mengalami cedera. Sejak itu, saya selalu berhati-hati dan super waspada. Dan Alhamdulillah, kecelakaan seperti itu tidak pernah terulang lagi. Sampai hari ini, saya masih bisa mengemudikan becak, tetapi tidak berani jemping. Dulu, saya sangat gemar jemping-jempingan, dengan cara mengangkat ban becak sebelah. Tentu saja kalau tidak sedang menarik penumpang.

Sekolah dan narik becak. Rutinitas yang sangat mengasyikan. Saya menikmatinya. Bahkan saya pun sering ngalong (narik becak semalam suntuk), dan tertidur di becak. Kalau tidak tidur di becak, saya tidur di trotoar. Untuk bantalnya, saya membuka jok becak. Sungguh nikmat tidur di trotoar. Nyenyak dan selalu bermimpi indah. Saking nyenyaknya, saya sering kesiangan. Tahu-tahu sudah banyak orang yang lalu-lalang, baik yang mau sekolah atau bekerja. Kalau sudah begitu, saya hanya cuci muka dan langsung berangkat sekolah. Kesiangan masuk kelas sudah bukan hal yang aneh. Mungkin guru pun sudah bosan menghukum saya karena kesiangan. Hukuman berlari mengelililingi lapangan basket, tidak membuat saya jera kesiangan. Habis, bagaimana lagi? Saya sering tidur setelah Subuh, dan bangun jam 6 atau 7. Tentu saja kesiangan, karena perjalanan ke sekolah memakan waktu satu jam.

Meski demikian, saya tertarik juga untuk ikut beberapa kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Misalnya pernah ikut Paskibra, PMR (Palang Merah Remaja), dan PKS (Patroli Keamanan Sekolah). Menginjak kelas II, saya pun masuk ke dalam kepengurusan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), menjadi pengurus Sekbid Ketaqwaan Kepada Tuhan YME. Selanjutnya, di kelas III, saya dan beberapa kawan membuat kegiatan ekstra BINTALIS (Bimbingan Mental Islam). Entahlah, apa sekarang masih ada atau tidak. Yang pasti, pada saat serah terima kepengurusan BINTALIS, adik kelas yang terpilih menjadi Ketua BINTALIS adalah Iif Syifa.

Kalau saya sibuk di sekolah, berarti mengorbankan pekerjaan dan tidak mendapatkan uang. Tapi tidak apa-apa, karena saya suka menyisihkan uang untuk disimpan di tabungan. Selain itu, saya lebih mengutamakan apa yang dikatakan hati. Kalau hati saya menyenangi kegiatan sekolah, maka yang lainnya bisa dinomor duakan. Biasanya saya akan habis-habisan narik becak di malam Minggu sampai malam Senin. Alhamdulillah, saya tidak tertarik untuk main-main ke tempat hiburan yang bisa menghambur-hamburkan uang. Sebab, kalau saya tertarik, saya pasti akan memaksakan diri untuk mengunjunginya.

Meski begitu, saya tidak merasa menjadi murid yang baik. Saya tetap nakal. Di sekolah suka merokok, baik di WC, di kantin, atau di kelas. Pernah juga terlibat tawuran. Apalagi di lingkungan pangkalan becak, saya dikenal sangat nakal, tetapi saya mempunyai prinsip: tidak boleh mengganggu dan merugikan orang lain. Selain merokok, pernah ikut-ikutan mengkonsumsi minuman keras dan pil BK. Tawuran di pangkalan becak sering kali terjadi. Saya sangat sedih melihat emang becak yang sudah tua, ikut-ikutan menjadi korban. Padahal yang menjadi biang keladinya hanya segelintir oknum penambang becak yang hobinya membikin masalah. Dalam sebuah tawuran di pangkalan becak, saya pernah menjadi korban dari ulah seorang penambang becak. Dia yang membikin masalah, dan langsung melarikan diri ke kampungnya. Akhirnya penambang becak lain yang menjadi sasaran, termasuk saya.

Betapa kerasnya kehidupan di jalanan. Semua mencari makan, untuknya dan keluarganya. Semua menginginkan bahagia, untuknya dan keluarganya. Seandainya tidak ada tawuran, tidak ada pemabuk, tidak ada pemalak, betapa indahnya hidup di jalanan.

Kepada kawan-kawan penambang becak di Komplek Bumi Panyileukan, mohon maaf jika selama saya narik becak pernah melakukan kesalahan, dan saya pun mengucapkan terimakasih sudah bersedia bersahabat dengan saya. Juga kepada warga Kompleks Bumi Panyileukan yang suka naik becak antara tahun 1993-1995, mohon maaf jika saya melakukan kesalahan yang sengaja atau tidak disengaja. Dan tentu saja, saya mengucapkan terimakasih telah bersedia naik becak, sehingga saya mendapat uang untuk makan, sekolah, dan melakukan berbagai aktivitas. Semoga Alloh SWT membalas segala kebaikan tersebut, Amiiin.*** (dhipa galuh purba)

atraksi-becak

 

Ini adalah foto saya ketika sedang atraksi jemping mengangkat sebelah ban becak di Pangkalan Becak Panyileukan, tahun 1993.

tukang-becak