Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 02-11-2007 |

 

ketika-menjadi-calo-angkot

Saya (x) ketika menjadi calo angkot jurusan Cicadas-Cibiru
Ketika menginjak kelas II SMA, ada jugarasa jenus menjadi penambang becak. Tapi… bekerja apa lagi yang bisa menghasilkan uang? Saat itu, angkutan kota jurusan Cicadas-Cibiru suka ngetem di depan Komplek Panyileukan. Diam-diam saya punya ide untuk menjadi calo angkot.

Tanpa banyak berpikir, saya pun langsung melakukannya. Jadilah saya seorang calo angkot. “Binong, Cadas! Binong, Cadas! Cadas! Cadas, Bu! Cadas, Pak! Cadas, Neng!” begitulah teriakan saya setiap pagi, dari jam 06.00 sampai jam 09.00 WIB. Hanya tiga jam, karena saya harus bersiap-siap sekolah. Di kelas II, saya kebagian sekolah siang. Alhamdulillah, waktu kelas II, sangat jarang kesiangan.

Pulang sekolah jam 17.00 WIB. Sampai di Panyileukan biasanya bersamaan dengan adzan Magrib. Malam hari, sekitar jam 21.00 WIB saya baru mulai narik becak, ngalong dan sering tertidur di becak. Pagi-paginya bangun, cuci muka, dan langsung jadi calo angkot. Begitulah seterusnya.

Saya bersahabat dengan sopir-sopir angkot. Para sopir pun sepertinya tidak merasa keberatan ketika ngasih uang Rp 100,- atau Rp 200,-. Bahkan ada juga di antaranya yang suka ngasih Rp 500,-. Kalau tidak mendapat penumpang, saya tidak suka meminta uang, tapi mereka memaksa memberi uang. Ada pula sopir angkot yang suka ngajak saya, sekalian menjadi kernet. Tentu saja saya mau. Jadi, saya sering menjadi kernet Cibiru-Cicadas. Bukan sekali dua kali, saya bertemu dengan teman sekolah ketika saya sedang jadi calo, kernet, atau narik becak. Tapi… saya cuek saja. Saya tidak malu, karena pekerjaan saya halal.

Sebelum menjadi calo angkot, saya berangkat dan pulang sekolah suka naik bis kota. Tapi, setelah jadi calo dan kernet, saya suka naik angkot saja. Kalau berangkat sekolah, saya tidak usah bayar angkot dari Panyileukan sampai Bersama. Lalu naik angkot St.Hall-Gedebage. Hanya sekali saja yang bayar. Begitupun pulang sekolah, dari Jl. Kebonjati naik angkot St.Hall-Gedebage, turun di Bersama. Lalu naik angkot Cibiru-Cicadas, dan Alhamdulillah tidak usah bayar ongkos.

Pada saat sopir-sopir angkot mengetahui saya anak sekolahan, sikap mereka semakin baik. Bahkan ada yang suka bermurah hati memberi uang Rp 700,- sampai Rp 1.000,- ketika saya mau berangkat sekolah, atau pada saat saya tidak sedang menjadi calo. Sungguh indah hidup di jalanan, jika dilalaui dengan suasana persaudaraan, saling menyayangi, saling mengasihi.

Sampai hari ini, saya masih mengenali beberapa sopir angkot jurusan Cicadas-Cibiru yang dulu selalu berbaik hati. Sayang sekali, saya lupa mencatat nama-namanya. Hanya seorang saja yang sampai saat ini namanya tercatat dalam lubuk hati. Sebut saja namanya Engkos, sopir muda, sopan dan baik hati.

Semoga Alloh SWT membalas kebaikan hati orang-orang yang menyayangi saya ketika saya masih hidup di jalanan, Amiiin.*** (dhipa galuh purba)