Kategori: Almamater | Diterbitkan pada: 18-10-2007 |

smpn-panjalu-ciamis

Lokasi bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Panjalu terletak di Jl. Raya Timur No. 219, Panjalu, Ciamis, 46264. Sangat kondusip untuk kegiatan belajar-mengajar, karena cukup jauh dari keramaian. Suasananya tentram, didukung oleh udara yang sejuk. SMPN Panjalu berseberangan dengan Situ Ciater. Biasanya saya naik mobil angkutan dari Simpar ke Terminal Panjalu. Dari terminal, jalan kaki sekitar 1,5 KM. Pertama kali diterima menjadi murid SMPN Panjalu pada 16 Juli 1990, dengan nomor induk: 909 11 088.

Berbeda dengan di SD, kali ini gurunya tidak lagi menggunakan sistem borongan. Seorang guru memegang satu mata pelajaran. Setiap kelas, diaping oleh seorang wali kelas. Yang menjadi walikelas saya adalah Bapak Amas (NIP: 480 052 148). Sedangkan kepala sekolahnya adalah Iwa Sutiswa Anggadiharja (NIP: 130 075 299).

Sungguh beruntung saya memiliki wali kelas Pak Amas. Jika bukan Pak Amas walikelasnya, belum tentu saya bisa menuntaskan pendidikan di SMPN Panjalu. Sebab, semasa di SMP, saya sangat nakal, dan pernah berniat untuk berhenti sekolah. Pak Amas berusaha memberikan pengertian dengan penuh kesabaran. Sampai akhirnya, saya bisa merubah cara berpikir. Jadi, selain cerdas, gigih, dan sabar, Pak Amas pun sangat memperhatikan keadaan murid-muridnya. Pak Amas, walikelas saya, guru terbaik yang mampu mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan cermat, sampai akhirnya saya sangat menyukai mata pelajaran tersebut.

Dalam satu tahun, dibagi menjadi dua semester. Jadi, selama duduk di bangku SMPN Panjalu, saya menjalani enam semester. Saya mengawali sekolah dengan hasil yang buruk. Pada Semester I, saya menempati ranking ke-29 dari 39 murid. Di semester II, ranking saya semakin buruk, yakni menempati peringkat ke-31 dari 38 murid. Dan puncak keterpurukan saya terjadi di semester III, dengan menempati ranking kedua dari belakang atau ranking ke-36 dari 37 murid.

Untung saja di Semester IV, semangat belajar saya mulai bangkit. Kalau tidak, kemungkinan besar saya harus ngendog (tidak naik kelas). Berkat dorongan Pak Amas, saya mulai banyak belajar dan tidak banyak bolos. Sehingga pada semester IV, saya bisa meraih ranking 16 dari 37 murid. Selanjutnya pada semester V, saya mendapat ranking 15 dari 36 murid. Menutup masa sekolah, di semester VI, alhamdulillah saya menempati ranking 8 dari 36 murid. Keberhasilan saya bangkit dari keterpurukan adalah kesuksesan Pak Amas dalam membina anak-anak didiknya. “Terimakasih, Pak Amas. Sampai kapan pun, saya akan selalu mengenangnya, dan saya tidak ragu untuk menempatkan Pak Amas sebagai guru nomor satu selama saya menuntut ilmu di lembaga formal manapun.” Saya mendapat Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), dengan jumlah nilai 85 dari 12 mata pelajaran. STTB tersebut ditandatangani oleh Bapak Iwa Sutiswa Anggadiharja pada 7 Juni 1993, dengan nomor STTB: 0147599.

Saya tidak bisa mengingat semua guru di SMPN Panjalu. Kendai demikian, selalu ada yang berkesan dari sosok seorang guru. Saya selalu mengenang Ibu Itje Mindartini (guru Bahasa Inggris), Pak Rustam Efendi (Guru Olahraga), Pak Dedi (Guru Ketrampilan), Pak Elan Tarlan (Guru Matematika), Bu Aan (Guru Bahasa Sunda), Pak Djadjat (Guru Bahasa Sunda), dsb. Tentu saja guru yang menjadi idola saya adalah Pak Amas.

Saya juga tidak bisa mengingat semua nama kawan-kawan yang duduk di kelas “D”. Hanya murid terpandai, terbaik, ternakal, atau tercantik, yang sampai saat ini ada dalam ingatan. Misalnya, murid pandai yang langganan 10 besar ranking kelas di antaranya Yati Suryati, Iis, Yuyu, Sofia Indriani, Reni Haerani, Cucu Abdul Kosim, Yoyong, dan Aan Hasanah. Murid ternakal dan terbandel di antaranya Rizal Jazuli, Dani Sugandi, Wawan Hermawan, Rully Abdurahman Pribadi. Saya pun lebih dikenal dalam kategori murid yang nakal. Sedangkan murid yang tercantik menurut mata saya adalah Rina Susilawati. Sejari-harinya dipanggil “Rina”, dan saya satu-satunya yang memanggil “Susi”. Selain memiliki wajah camperenik, Susi pun termasuk murid yang cerdas. Kini, Susi bekerja di sebuah perusahaan yang beroperasi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

Kawan-kawan lain di SMPN Panjalu, khususnya kelas “D”, yang namnya masih saya ingat adalah Nunur Nurkamal Fatah, Yanto, Anida, Dadang Sulaeman, Tata Rustaman, Ria, Yati Hidayati, dsb.

**

Gedung SMPN Panjalu merupakan sumbangan dari Harapan Group, dan diresmikan pada 31 Agustus 1981 oleh Dr. Daoed Yoesuf (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia).

SMPN Panjalu memiliki visi: Unggul dalam prestasi, berwawasan lingkungan, dan berbudaya Islam. Sedangkan misinya adalah: (1) Meningkatkan kinerja sekolah (prestasi akademis dan non-akademis) melalui inovasi dalam input dan proses pembelajaran; (2) Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusip untuk pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar; (3) Meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan; dan (4) Menciptakan lingkungan sekolah bernuansa nilai-nilai budaya islami.

Program-program strategis SMPN Panjalu, antara lain: (1) Peningkatan prestasi akademis; (2) peningkatan prestasi non-akademis; (3) Peningkatan profesionalisme guru dan karyawan; dan (4) Penataan lingkungan sekolah yang kondusif untuk terwujudnya sekolah sebagai komunitas belajar dan untuk terwujudnya nilai-nilai budaya yang islami.***

 

masa-culun-satu

Ini adalah kawan-kawan sekelas. Sejak kelas I sampai kelas III tidak pernah berubah, tetap kelas “D”. Konon kabarnya kelas “D” itu kelasnya anak-anak nakal. Kalau kelas anak-anak pinter dan bageur, biasanya kelas “A”. Tapi… mitos seperti itu harus dikaji lagi, karena di kelas “D” terselip Kiai Cucu Abdul Kosim, putra pimpinan Ponpes Miftahul Khoer.

Baik, mari kita absen nama-namanya, mulai di barisan depan, dari kiri: Dadang “Sule” Sulaeman, Wahyu, Nunur Nurkamal Fatah, Cucu Abdul Kosim, dan Tisna. Nah, di barisan belakang, dari kiri: Jaja “Ja’un” Miharja, Tata Rustaman “Oy-oy”, Yanto, Yadi, Yayan Cahyani, Rizal “Jurig” Jazuli, Deni, dan Yoyong Sofyan.

 

 

masa-culun-3

Nah ini adalah foto kawan-kawan siswi kelas “D”. Foto ini dikirim oleh Susi dari Jakarta. Gak nyangka, ternyata Susi punya dokumentasi yang sangat berharga. Trims, Susi…Tapi… saya tidak ingat nama-namanya. Biasanya Jurig yang suka menghapal nama-nama cewek. Tapi daripada nunggu Jurig, mendingan Susi aja yang ngirim. Ditunggu ya… O ya, saya hanya ingat nama beberapa orang saja, terutama yang jongkok mengenakan pakaian Pramuka. Ia adalah satutu-satunya siswi yang tidak mengenakan kaos olahraga pada poto tersebut: Ia adalah ANIDA, sahabat terbaik yang tidak sempat menuntaskan sekolah karena telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Semoga Anida mendapat tempat mulia di sisi Alloh SWT, amiiin.

 

tiga-sekawan

Tiga sekawan masa SMP. Sehari-hari kami sering bersama-sama; nonton, merokok, atau ngablu. Rasanya… belum pernah belajar bersama. Paling-paling nyontek bersama di dalam kelas. Saya (sisi kiri), Wawan “Abot” Hermawan (tengah), dan Rizal “Jurig” Jazuli (sisi kanan, jongkok).