Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 30-10-2008 |

Oleh Nazharudin Azhar 

BULAN bersinar penuh diatas Taman Budaya Bandung. Seperempat paruh malam, penontonpun mulai memenuhi tempat duduk teater terbuka. Beberapa rombongan bule sudah sejak sore kongkow di tribun atas. Kendati udara dingin musim kemarau mulai menusuk, tidak menjadi penghalang untuk menyaksikan pertunjukan Longser Wayang (Loyang) Sangkala dari Disbudpar Ciamis yang menggelar Lakon Kumbakarna Gugur. Pandu Radea selaku sutradara sekaligus pencipta seni Loyang terlihat gelisah ditempat duduknya. Masih terngiang ucapan rekannya di Taman Budaya, “ Jika seperempat jam tidak rame, penonton pasti bubar” ujar Agus Kabedag saat menyambut kedatangan 45 orang personel tim Loyang di siang harinya.

Bulan semakin tinggi dan membulat. Pertunjukan pun dimulai dengan tampilan medley tarian tradisi dan kreasi yaitu Kandagan, Ronggeng Kipas, Loyang dan Payung Gunung. yang dibawakan oleh 14 orang penari Padepokan Rengganis secara bergantian. Tarian terakhir sekaligus menjadi rawayan bagi Deden Tirayana (Dalang) untuk ngetrok campala. Akhirnya babak-demi babak pun mengalir dengan lancar. Para actor tampil maksimal. Terutama Ma Apay (Emban), Kancil (Kala Marica), Papa (Rahwana), Oom (kumbakarna), Hendi (Rama) dan Elis (Sinta) menunjukan kelasnya sebagai komedian kawakan. Di Ciamis, mereka telah dikenal sebagai pelawak Reog, Calung dan Sandiwara yang sarat dengan pengalaman panggung.

      Hawa dinginpun akhirnya dicairkan oleh gelak tawa penonton. Pandu pun boleh bernafas lega. Soalnya, lakon berdurasi 2 jam lamanya serta merupakan parwa serius dari kitab Ramayana ini dapat diparodikan dengan cerdas oleh kekuatan improvisasi tradisi. Dalang pun mampu memerankan fungsinya sebagai actor. Tidak hanya memainkan wayang golek saja namun berkali-kali Deden pun keluar dari jagat untuk menciptakan kekonyolan bersama rekan-rekannya. Apalagi ketika Dewi Sinta dan seluruh pemain yang dijantur dikiri kanan panggung serentak berhamburan ke tengah panggung untuk memunguti uang recehan yang dilempar penonton, mampu menciptakan tawa berkesinambungan.

      Anton Yustian GR, pupuhu Longser Gaul dan salah seorang kurator Teater Terbuka Taman Budaya menyatakan bahwa pertunjukan Loyang sangat menarik, segar dan baru. Layak untuk ditonton karena sifatnya yang merakyat dan bahasanya komunikatif,  “Pertunjukan Loyang sukses besar. Terbukti kebanyakan penonton tidak beranjak dari awal sampai akhir. Hal ini menepis kekhawatiran mengingat penonton taman budaya sama sekali belum tahu tentang Seni Loyang ini“ ujar Anton yang memperkirakan sekitar 1500 orang penonton hadir di malam Minggu (19/7) itu.  

       Dirinya juga menambahkan agar Seni Loyang ini segera di hak patenkan sebagai kesenian khas Ciamis. “ Jika kesenian ini berkembang, maka masyarakat luas atau generasi berikutnya memiliki referensi yang jelas. Baik itu asal-usulnya maupun penciptanya” imbuhnya. Menanggapi itu, Mamat Suryawijaya, Kasi Kesenian Disbudpar Ciamis akan mengusahakan hal tersebut. “Saat ini kami belum tahu bagaimana prosedur untuk mempatenkan kesenian-kesenian khas daerah kami” ucapnya.

      Sedangkan Eman Hermanysah selaku Ketua Komunitas Sangkala Disbudpar, mengatakan Seni Loyang ini rencananya akan dikelilingkan di beberapa kota di Jawa Barat. Seni Loyang yang sebelumnya tampil di TMII dan Yogyakarta, kali ini didukung oleh seniman-seniman kreatif Ciamis seperti Ce Ocay (Penata Karawitan), Wan Aryaganis (Penata Tari), Noer JM (Asstrada). Mang Ganda/Aris Didu (Penata Artistik), Ocha (Penata Kostum) dan Nko (Penata Cahaya)***

Dimuat di Koran Priangan