Save Dayeuhkolot

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Ketika genangan air sudah mencapai genting, artinya keadaan sudah sedemikian genting

MARI mengarahkan pandangan ke Dayeuhkolot dan Baleendah yang kini kembali dilanda musibah banjir. Sebuah tradisi yang selalu terjadi di setiap musim penghujan. Milyaran kucuran dana dari pemerintah daerah atau pusat untuk penanganan banjir, sepertinya tidak membuahkan hasil. Paling tidak, belum berhasil. Sebab, pada kenyataannya sampai tahun ini air masih belum mengerti apalagi memahami bahwa rumah tidak perlu digenangi. 

Banjir di Kabupaten Bandung merupakan masalah seluruh masyarakat di Bandung dan sekitarnya. Tentu saja termasuk musibah banjir di daerah lainnya. Karena  banjir tidak mengenal batas administratif. Misalnya, ketika di Kota Bandung terjadi hujan lebat, maka Baleendah dan Dayeuhkolot dipastikan banjir meskipun cuaca di Kabupaten Bandung jauh dari mendung. Itulah yang kemudian dikenal dengan banjir kiriman, dilengkapi dengan aneka macam sampah yang siap menerjang pintu rumah pada saat cuaca demikian cerah.

Sulit untuk mempercayai untaian cerita para sesepuh, yang mengisahkan keindahan Citarum di masa lalu. Airnya bening, bisa berenang, banyak ikannya. Bahkan dalam Ensiklopedi Sunda  (Pustaka Jaya, 2000) dipaparkan bahwa Citarum merupakan tempat bercengkrama bupati dan para pembesar bumi putera, dengan riang gembira menangkap ikan bersama-sama masyarakat sekitar Citarum. Selain itu, disebutkan pula bahwa tanaman yang bernama “tarum” itu merupakan tumbuhan bernilai ekonomis, laku di pasaran internasional.

Bercengkrama, tanaman tarum, bening, dan bersih. Kata-kata kunci Citarum yang kini sulit untuk dibayangkan. Sebab, kini nama Citarum sudah berubah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat Baleendah dan Dayeuhkolot, terutama pada saat musim hujan seperti sekarang.

Perlu ada penanganan yang lebih serius dan sistematis dalam menuntaskan persoalan banjir. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, seperti juga awal mula proses terjadinya banjir sendiri. Kurang terkendalinya alih fungsi lahan, jelas merupakan salahsatu biang terjadinya banjir. Dampaknya tidak langsung terasa, melainkan pelan-pelan tetapi pasti. Sebagai contoh, Kampung Bojongasih, Desa/ Kecamatan Dayeuhkolot baru mulai banjir pada tahun 2005. Sebelumnya tidak ada banjir.

Debit aliran air semakin ekstrim, dan sungai Citarum sudah tidak mampu lagi menampungnya. Meluaplah. Itulah rumus sederhana terjadinya banjir. Bagaikan ekstrimnya penambahan kendaraan bermotor yang mengakibatkan kemacetan kian parah. Namun untuk kemacetan di jalan raya, pemerintah cukup sigap mengatasinya. Memperlebar ruas jalan raya, membuka jalan baru, membuat fly over, dan lain-lain. Kalau masih macet, polantas sigap memperpanjang arah untuk belok dan memutar balik, atau juga memberlakukan jalan satu arah secara bergantian. Berbagai cara dilakukan untuk memperlancar arus kendaraan dari berbagai penjuru. Lantas bagaimana dengan pengaturan lalu-lintas air yang juga “macet’?

Banjir Baleendah

Bagaimanapun juga, ketika genangan air sudah setinggi genting, maka keadaan sudah sangat genting. Maka perlu ada  revolusi, reformasi, dan evolusi uutuk mencapai suatu resolusi. Revolusi misalnya lebih memaksimalkan pembangunan waduk, kolam penampungan banjir (retention basin), tanggul penahan banjir, normalisasi sungai, membuat sumur-sumur resapan, dan yang lebih penting lagi adalah segera salurkan bantuan kepada masyarakat yang saat ini sedang dilanda kebanjiran.

            Reformasi kaitannya dengan jajaran birokrasi yang memiliki peran dalam mengeluarkan suatu kebijakan. Perlu lebih teliti lagi dalam menentukan alih fungsi lahan dan mengeluarkan  perijinan pemanfaatan lahan. Pemerintah bisa mengerahkan ahli tataruang untuk menyusun kembali desain aliran sungai dari hulu hingga ke hilir. Kalau perlu, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air bisa membentuk lembaga semisal polisi sungai yang bertugas memantau kualitas dan kuantitas air sungai, hingga mengatur aliran air pada saat terjadi “kemacetan” air. SDM yang tidak produktif, lebih baik dipensiun-dinikan saja.

Adapun revolusi mental yang digembor-gemborkan dalam kampanye Jokowi, sebenarnya merupakan evolusi untuk mengubah keadaan. Sebab, ketika hari ini kita tidak membuang sampah ke sungai, tidak akan membuat  air sungai Citarum menjadi bening keesokan pagi. Atau juga gerakan sejuta biopori yang digalang Walikota Bandung, tidak akan membuat Gedebage bebas banjir keesokan harinya.

Meski begitu, langkah-langkah bijak seperti itulah yang sangat diperlukan untuk mengubah keadaan, meski membutuhkan waktu yang cukup lama. Gerakan ramah lingkungan perlu lebih digalakan lagi. Sebab, seandainya ada kebijakan relokasi pemukiman, tidak ada jaminan lingkungan baru akan terbebas banjir jika gerakan perusakan alam terus berlangsung dari waktu ke waktu.

            Mari menengok saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir. Lantas, masihkah kita akan semena-mena memperlakukan sungai? Rumus sederhana banjir yang kedua adalah air meluap karena alirannya tersendat. Apalagi kalau bukan sampah.*** (Tribun Jabar, 25 Desember 2014)

Save Dayeuhkolot dan Baleendah

 

Leave a Comment