Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 30-10-2008 |


Oleh Pandu Radea

 

Dogong, Simbol Adu Jajaten

Nun jauh di mumunggang gunung, tepatnya di Desa Pagergunung Kecamatan Pangandaran,  secercah  harapan hadir kembali dalam puluhan mata api yang menyala terang dari 8 damar sewu yang terpasang di areal pakalangan, yang sengaja dipersiapkan untuk menerangi pagelaran Ronggeng Gunung dari Lingkung Seni Rasa Kagugat. Arena pakalalangan yang terletak disamping makam keramat Eyang Kertasedana, yang dikenal sebagai leluhur lembur, sontak dipenuhi penonton sejak sore. Nyaris semuanya membawa sarung maupun samping kebat. selain untuk mengusir rasa dingin, berfungsi juga sebagai pelengkap untuk bekal ngengklak di pakalangan.

Tampil dihabitatnya ternyata Ronggeng Gunung memiliki daya magis yang terasa kuat. Walau hanya diiringi tabuhan kendang, bonang dan goong untuk menghasilkan irama sederhana namun auranya mampu menggetarkan hati penonton.  Nyi Ronggong yang berjumlah tiga orang mulai berdiri  menghadap nayaga. Dan ini adalah pertanda pertunjukan akan segera dimulai. Akhirnya lengkingan khas ngalaeu dalam tembang KudupTuri dengan iringan lulugu terdengar dari mulut Nyi Atih Setiasih, peronggeng yang dianggap paling senior diantara kedua rekannya.

Setelah itu, ketiga Ronggeng ini mulai mengelilingi dan berhenti ditengah arena, perlahan-lahan tangan dan kakinya pun mulai menari. Dan tembang yang dinyanyikan terus dihaleuangkeun baik oleh Nyi Atih,  Ny. Kasminah dan Ny. Acih tembang-tembang tersebut diantaranya Jangganom, Ladrang, Sisigaran, Golewang, Kawungan, Liring, Raja Pulang, Manangis, Cacar Burung, Obyog, Kidung, Canggreng, Tunggul Kawungan dsb. Menurut Ki Sarjan (63, nayaga sepuh Rasa Kagugat, untuk mengusai lagu-lagu ronggeng gunung  membutuhkan latihan yang keras. “ boh latihan lahir boh batin. Margi lalaguan Rongeng gunung  mah kedah tiasa ngawasa luhur handapna sora. Kukituna  kedah kiat nafas. Sajabi ti eta, gurah sareng saom ge biasana sok kedah dilakonan.” Ujarnya.

Sarjan juga mengatakan bahwa rongeng gunung yang sudah berpengalaman biasanya menguasai mantra atau doa tertentu untuk melepaskan suara agar terdengar keras dan nyaring yang disebut uluk-uluk. “ Margi kapungkur mah teu aya sound system. Janten sora teh kedah tarik sangkan kakuping kamana-mana.” Ujarnya. Boleh jadi, salah satu alasan kenapa waditra dan tetabuhan ronggeng gunung terlihat minimalis mungkin untuk memberi ruang resonansi lebih agar suara Nyi Ronggeng terdengar dominan.

Ronggeng Gunung mungkin dapat dikatakan  berbeda dengan jenis tarian sunda lainnya yang cenderung mengolah gerakan kepala, tangan dan badan. Tarian Ronggeng Gunung lebih menumpukan gerakan pada kaki yang harus seirama, bergerak melingkari Nyi ronggeng sebagai porosnya dengan pola langkah tertentu. Sedangkan gerakan tangan atau tubuh lainnya cenderung bebas.“Sepintas terlihat mudah, namun bagi yang pertama kali mencoba pasti terlebih dulu akan mengalami pabeulit suku.” Ujar Wan Aryaganis, kareografer Ciamis yang mengikuti pagelaran tersebut.

Pada katagori tertentu Ronggeng Gunung dapat disebut juga olahraga tradisional. Hal itu disebabkan adanya adegan Dogong yang tampil pada babak tertentu. Para penari pria yang terbagi dalam dua kelompok mengadu kekuatan dengan saling mendorong menggunakan pundak. Dan uniknya selama menari, biasanya penari pria selalu diharudung sarung, sehingga wajahnya tertutupi

 

**

 

Malam semakin larut, walau bulan tidak menampakan dirinya, namun langit cukup cerah oleh cahaya bintang gemintang. Dan, menikmati pagelaran ronggeng gunung pun semakin afdol setelah ditemani kopi panas, bubuy sampeu maupun susuguh lembur lainnya. Sehingga pelataran tanah tempat ngaronggeng yang terletak di samping makam Keramat Eyang Kertasedana yang biasannya geueuman dan dikenal angker itu, terasa menjadi pikabetaheun. 

  Menyaksikan langsung Ronggeng Gunung di ranahnya sendiri sedikit menepis kekhawatiran para pecinta seni tradisi akan punahnya kesenian buhun ini. Ternyata peronggeng gunung yang masih setia menekuni profesinya tidak hanya Bi Raspi seorang, yang telah dikenal sebagai maestro ronggeng gunung satu-satunya di Ciamis, bahkan di Jawa Barat, seperti yang ditulis oleh salah satu media masa nasional. Terbukti malam itu tiga orang peronggeng gunung yaitu Ny. Atih Setiasih , Ny. Kasminah dan Ny. Acih tampil sekaligus.

Walau tentu saja tidak sekahot dan se eksis  Bi Raspi, ketiga Nyi Ronggeng itu masih mampu memperlihatkan warisan tradisi yang telah langka itu.  Yang terasa istimewa diantara ke tiga peronggeng adalah Ny. Atih Setiasih (40) yang merupakan istri dari E. Suherman, Kades Pagergunung. Karirnya sebagai Ronggeng dimulai sejak usia 17 tahun, sembari belajar pada Ny. Rasti dari Cicurug Padaherang. “ Sajabi ti abdi, nu diajar ka Bu Rasti diantawisna Teh Raspi. Mung Teh Raspi mah langkung tipayun. Malihan mah Teh Raspi kantos di Pagergunung.” Ujarnya mengenang masa lalunya. Sehingga boleh disebut, Atih adalah adik seperguruan Bi Raspi, sang maestro Ronggeng Gunung.

    Namun semenjak Atih menikah dengan E. Suherman, maka 18 tahun lamanya tug sampai kini,, kiprahnya sebagi Nyi Ronggeng nyaris berhenti. Padahal sebelum menikah terutama tahun 1970-an Atih termasuk ronggeng yang laris manggung. “Pa Kuwu ge kapincut ku abdi waktos nuju ngaronggeng. Ayeuna mah abdi Ngaronggeng Gunung teh mung ukur pakaulan wungkul” Ujarnya sambil tersenyum. Untuk menjadi Ronggeng menurut wanita yang akrab dipangggil Bu Kuwu ini memang harus serius. Termasuk menjalani lelaku khusus. Karena seorang peronggeng gunung selain mahir menyanyi dan menari, juga dianggap oleh masyarakat memilki kemampuan supranatural. Seperti Nyarang, mendatangkan hujan, ataupun tradisi ritual lainnya, termasuk juga menguasai ilmu pangirutan, asihan maupun uluk-uluk, sebagai daya tarik seorang Ronggeng.

“Kapungkur mah mun ngajemput Ronggeng ari bade manggung teh kedah ku duaan. Nyi Ronggengna kedah ditengah. Margi mun nu ngajemputna nyalira, Ronggeng teh sok leungit aya nu ngiwat. Kajabi ti kitu ronggeng teh kedah cacandakan. sapertos, sarung, salempay sareng sinjang, mun teu nyandak barang-barang eta, sami sok ilang.” Ujarnya. Walau tidak seaktif dulu kecintaanya untuk memelihara seni tradisi tersebut ditularkan kepada Kasminah dan Acih, sehingga Desa Pagergunung memiliki 3 orang peronggeng gunung, walau lingkung seni yang menaunginya hanya tinggal Rasa Kagugat satu-satunya (Pandu Radea/Priangan)

**

 

Pagelaran Ronggeng Gunung di Desa Pagergunung tersebut memang sengaja diselenggarakan untuk kepentingan shooting sinetron Gadis Putih yang diproduksi oleh Waw Production SMPN 1 Ciamis dan Galuh TV SMKN 1 Ciamis.  “Untuk memenuhi tuntutan scenario, kami harus mencari ruh Ronggeng Gunung langsung di habitatnya. Dan ternyata Desa Pagergunung ini merupakan salah satu basis kesenian Ronggeng Gunung yang masih ada. selain di Ciulu, Banjarsari.”  Ujar Dang Qmost, sutradara Gadis Putih dengan nada terharu, mengingat betapa sulitnya perjuangan untuk mewujudkan sinetron yang sarat dengan nuansa tradisi itu.

Dang Qmost juga menjelaskan bahwa informasi adanya Ronggeng Gunung di Desa Pagerageung secara tidak sengaja datang dari Camat Pangandaran, Drs.Tantan Rusnandar. Maka ibarat mobok manggih gorowong akhirnya seluruh rombongan diboyong ke Desa yang berjarak 10 km dari pusat kota kecamatan Pangandaran. “Kami sangat berterima kasih sekali kepada Pa Camat, yang sudah memfasilitasi tampilnya Ronggeng Gunung yang sangat kami butuhkan. Dan itu menjadi perngganti yang sangat bergharga akibat rencana awal untuk shooting di Cagar Alam Pananjung, gagal karena tidak adanya izin birokrasi dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Ciamis.

Padahal menurut Dang Qmost sinetron ini adalah karya munggaran seniman Ciamis, baik pemerannya maupun crew nya. termasuk misi di dalamnya untuk mengangkat seni tradisi local yang memang patut dilestarikan. Beberapa orang actor yang terlibat seperti Wan Aryaganis, Tjahyono Soejadi dan Anggi Sri Wilujeng  juga merasa terkesan melihat Ronggeng Gunung dari Pagergunung itu. Rupanya mereka baru tahu, bahwa selain di Ciulu Banjarsari, di Pangandaran juga masih ada kelompok Ronggeng Gunung yang masih eksis walau kwantitas dan wilayah pagelarannya semakin terbatas.

Hal tersebut diakui oleh Ki Warsa, pimpinan Lingkung Seni Rasa Kagugat yang sudah berkecimpung sejak tahun 1950  “nu nanggap teh ngirangan pisan kasilih ku kasenian kiwari. Keun we, ari nabeuh mah teu hariwang pisan da abdi saparakanca oge nuju ngalatih murangkalih SD, mung nu hariwang mah teu aya nu hoyong diajar janten ronggeng gunungna ”  Ujarnya. Padahal wilayah sekitar Pagergunung banyak melahirkan Ronggeng Gunung yang terkenal dimasanya, seperti Rasti, Pejoh, Kasem, dan tentu saja Raspi. Selain itu di Pagergunung memiliki warisan seni tradisi lainnya yang tak ternilai harganya, seperti Rengkong dan Gondang.

“Pikeun pribados saparakanca, tos terang kieu mah teu pati hariwang teuing ayeuna mah. Duka taun-taun kapayun, eta ge kumaha pamarentahna. Mun hoyong lestari, enggal atuh geura lungsur kadieu longokan bari bro na. lebar.” Kata Anggi sembari murak bubuy sampeu. Sementara Wan Aryaganis melihat bahwa adanya campurtangan pemerintah terkadang merubah pula keaslian sebuah seni tradisi. “Contohnya kostum, sayang sekali ronggeng yang tampil saat ini tidak memakai busana asli Ronggeng Gunung, seperti apok, kace dan sabuk. Karena sebelumnya, kalau tidak salah, perubahan tentang busana, pernah disosialisasikan dalam sebuah gempungan antara pemerintah dan seniman tradisi. Hasilnya, termasuk busana asli ronggeng diganti dengan kebaya dengan alasan agar lebih sopan” Paparnya.

 

Dimuat di koran Priangan