Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 15-03-2008 |

 

ching-ching-liana-budi-utam.jpg

 

Tahun 1992 ketika minggat dari kampung dan bekerja sebagai tukang aspal di Bandung.

Di suatu hari yang begitu terik, panas mentari terasa membakar kulit. Saya sedang menggali tanah, untuk pengerjaan pengaspalan jalan. Tubuh saya sudah dibanjiri keringat. Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba seorang gadis keturunan Tionghoa menghampiri saya. Kira-kira usianya 20 tahunan. Wajahnya cantik, putih tentu saja, putih, dan tinggi. Potongan tubuhnya ideal dan memiliki daya pesona yang kuat.

“Kamu pasti haus ya?” begitu tanyanya dengan sikap yang bersahabat.

“Emm… iya, Teh…” jawab saya, sejujurnya. Saya memanggil “Teteh”, karena sudah jelas dia lebih tua.

“Mari ke rumah saya. Ada minuman dingin di sana….” ajaknya dengan serius.

Sebelum saya mengiyakan, terlebih dulu melirik Udi yang sama-sama sedang sibuk bekerja. Udi seperti mengerti dengan lirikan saya. Udi mengangguk, sebagai isyarat agar saya mau menuruti ajakan gadis cantik itu. Bahkan sebelum saya pergi, Udi berbisik agar membawakan air dingin untuknya. Kebetulan saat itu tidak ada mandor. Wah… kalau ada mandor sialan itu, istirahat sebentar pun bisa didamprat. Mandor itu sangat menjengkelkan dan tidak manusiawi.

Saya sampai ke halaman rumahnya. Dia menyuruh saya masuk, dan segera membawakan beberapa botol air dingin. Saya langsung meneguknya, kalau tidak salah sampai habis dua botol.

“Berapa upah kamu bekerja di sana?” tanyanya, setelah saya menghabiskan tiga botol air.

“Tiga ribu sehari…” jawab saya.

“Anak segede kamu belum pantas bekerja seberat itu,”

“Kalau tidak kerja, saya tidak akan makan, Teh…”

“Iya, tapi mestinya cari kerjaan yang sesuai lah,”

“Kalau ada yang lebih baik, pasti saya mau pindah kerja, Teh,”

“Kamu mau kerja di tempat saya?”

“Kerja apaan, Teh?”

“Membikin kue,”

“Mau, Teh!” tanpa berpikir lagi, saya langsung memutuskan. Sebab, saya sudah jenuh bekerja sebagai tukang aspal jalan.

Singkat cerita, saya pun akhirnya bekerja di rumah gadis cantik itu. Dialah Ching-Ching Liana, usinya delapan tahun lebih tua dari saya. Dia sangat baik. Ketika mengajari saya, tampak sabar dan menyenangkan. Setiap pulang kerja, saya dikasih ongkos dan kue bikinan saya. Udi pun tampak senang melihat kemajuan saya. Apalagi hampir setiap hari, saya membawa kue yang cukup banyak. Sekali-kali, saya pun suka membagi kue kepada tetangga.

Ada perubahan yang sangat berarti dalam hidup saya. Sejak bekerja di rumah Ching-Ching, saya berhenti meminum minuman keras. Sebab, kalau saya sedang bekerja, Ching-Ching sering menasehati saya agar menjadi orang yang baik, orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Pada suatu hari, sambil bekerja, Ching-Ching kembali mengajak berbincang-bincang.

“Kamu sekolah sampai mana?”

“SD, Teh,”

“Ah, kamu gak mungkin lulusan SD. Kayanya kamu terlalu cerdas jika disebut lulusan SD…”

“Mmmm… memang SD, Teh…” jawab saya.

“Kamu putus sekolah ya?”

“Tidak, eh iya, Teh…” saya ragu menjawab pertanyaan itu. Tadinya saya tidak akan bercerita masalah sekolah.

“Sudah berapa lama kamu putus sekolah?”

“Mmmm… berapa lama ya?”

“Hayo… jujur aja!” kata Ching-Ching sambil menatap tajam. Saya langsung tertunduk, tidak berani melihat wajahnya.

“Dua bulan, Teh,” akhirnya saya mulai berterus terang.

“Hah… dua bulan? Kamu sekolah di mana?”

“Di Ciamis, Teh,”

Sejenak Ching-Ching tertegun sambil menatap saya. Dia seperti tengah berpikir keras. Tapi… entah berpikir apa. Yang pasti, sore hari, ketika saya mau pulang, Ching-Ching mengajak bicara dengan serius. Saya lupa lagi detail pembicaraannya. Yang pasti, Ching-Ching “mem-PHK” saya, dan menyuruh saya untuk melanjutkan sekolah. Ching-Ching memberi uang yang cukup banyak untuk ukuran anak SMP, rasanya lebih besar dari upah sebulan bekerja sebagai tukang aspal.

Ching-Ching menasehati saya, dan menekankan betapa pentingnya sekolah, untuk meraih masa depan yang gemilang. Dia juga berjanji akan membantu saya semampunya, kalau di kampung mendapat kesulitan keuangan.

Semua perkataan Ching-Ching merasuk ke dalam sanubari, dan menghancurkan kerasnya hati saya yang membatu. Saya sadar, seraya bertekad untuk mengikuti saran dan nasihat Ching-Ching.

“Terimakasih, Teh Ching-Ching. Saya tidak ragu untuk menganggap Teteh sebagai kakak saya…”

Esoknya, saya berpamitan kepada Udi, Akew, dan semua kawan-kawan di Gang Hanura. Saya memutuskan untuk pulang kampung dan melanjutkan sekolah. Bekal uang dari Ching-Ching sangat berguna dan begitu berarti bagi saya.

Saya melanjutkan sekolah. Alhamdulillah, wali kelas saya, Bapak Amas, menyambut kembalinya saya dan bahkan beliau membimbing serta mengarahkan dengan penuh kesabaran. Pada akhir Semester III, nilai raport saya bertaburan tinta merah, dan menempati ranking 36, dari jumlah 37 murid. Sebuah angka yang sangat pantas bagi saya, si tukang bolos. Namun Alhamdullah, pada Semester IV, saya berusaha memperbaiki kekurangan saya, sekaligus berusaha untuk tekun belajar. Hasilnya, saya menempati ranking ke-16, dan tentunya bisa naik ke kelas III. Pada semester V, saya semakin bersemangat untuk mengejar prestasi, dan berakhir dengan menempati ranking ke-15. Pada semester akhir, saya bisa menempati ranking ke-8, sekaligus menuntaskan masa studi di SMPN Panjalu pada tahun 1993.

Selama sekolah, saya tidak lupa mengirim kabar kepada Ching-Ching. Namun saya belum pernah meminta uang, meski saya dalam kesulitan. Saya ingin membuktikan bahwa saya menghormatinya bukan karena uang, tetapi iklas dan terdorong oleh hati yang terdalam.

Setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah di Bandung, tepatnya di SMA Pasundan 7, Jl. Kebon Jati No. 31. Saya lebih dekat dengan Ching-Ching. Dan dia pun tampak gembira menyaksikan saya sekolah. Tanpa diminta, Ching-Ching sering membantu saya. Ching-Ching datang ke kampus SMA Pasundan 7 untuk mengambil STTB saya, ketika saya sudah berhasil menuntaskan studi di sana.

Saya pun semakin mengenali sosoknya yang patut dijadikan suri tauladan. Ching-Ching ternyata seorang seniwati yang mendalami dunia musik. Saya pernah diundang ke Eldorado untuk menyaksikan pementasannya. Dia pemain piano yang hebat. Pada pergelaran di Eldorado, Ching-Ching mengiringi Dewi Gita dan grup Warna.

Ching-Ching, seorang gadis kelahiran Gunung Geulis, Tanjungsari, Sumedang, 26 Februari 1969. Sejak usia delapan tahun, dia sudah belajar bermain piano. Tidak heran ketika menginjak remaja, Ching-Ching pernah mengadakan show musik berkeliling Asia. Dia pernah menjadi dosen di HITS Universitas Pelita Harapan.

“Sekali lagi, terimakasih Teh Ching-Ching. Semoga Tuhan selalu melindungimu sepanjang masa…”

Ranggon Panyileukan, Malam Ulang Tahun, 24 September 2007

DHIPA GALUH PURBA