Prasarana dan Sarana Kepariwisataan


Oleh ROCHAJAT HARUN

Sebagai sebuah Organisasi, Pariwisata merupakan suatu sistem, yang mempunyai unsur-unsur yang satu sama lain saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Keberadaan (eksistensi) dan keeratan hubungan unsur-unsur itu menggambarkan sampai seberapa kuat Sistem Kepariwisataan tersebut. Apabila salah satu unsur tidak ada atau lemah, maka sudah dipastikan kesisteman pariwisata akan terganggu atau tersendat-sendat kegiatannya. Karenanya dalam mengelola kepariwisataan diperlukan Manajemen Pariwisata yang betul-betul handal dan tepat sasaran.

Implikasinya, Pariwisata merupakan fenomena yang multidimensional dan multisektoral yang harus dilihat dalam satu kesatuan sistem, yang berada di dalam sistem yang lebih luas. Sistem kepariwisataan dapat dilihat dari berbagai aspek:

1. Melihat pariwisata dari sisi penawaran dan permintaan;

2. Mempunyai hubungan ketergantungan atau keterkaitan antara destinasi dan sumber pasar yang dihubungkan dengan transportasi;

3. Didasari oleh arus informasi yang dapat mendorong dan memungkinkan wisatawan datang.

4. Sistem yang lain melihat keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain antara berbagai komponen kepariwisataan, yang tak dapat dipisah-pisahkan sebagai satu kesatuan produk: transportasi yang menyediakan akses, daya tarik yang menjadi faktor utama kunjungan, amenities yang disiapkan untuk memberikan pelayanan bagi wisatawan.

5. Dilihat dalam hubungan input-output, sistem ini berada dalam lingkungan yang lebih luas, output-nya akan tergantung bukan hanya kepada input tetapi kepada bekerjanya faktor-faktor strategis lingkungan dan instrumen-instrumen kelembagaan.

Salah satu komponen dari kesisteman Pariwisata adalah Prasarana dan Sarana Kepariwisataan, yang merupakan komponen terbesar dan paling menentukan dalam menyukseskan penyelenggaraan Pariwisata. Di dalam komponen ini terdiri dari berbagai subsistem yang memang benar-benar perlu mendapatkan perhatian dan penyediaan serta pemeliharaan yang seksama.

Wisatawan adalah orang yang pada umumnya melakukan perjalanan untuk sementara waktu ke tempat atau daerah yang sama sekali masih asing baginya. Karena jauh dari tempat tinggalnya, maka ia memerlukan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, yaitu semenjak ia berangkat sampai di tempat tujuan, hingga ia kembali ke rumahnya. Dibutuhkan prasarana dan sarana yang lengkap mem­berikan kepastian suatu kenyamanan bagi wisatawan. Mereka terlebih dahulu ingin mengetahui:

1. Fasilitas transportasi yang akan membawanya dari dan ke Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang ingin dikunjunginya.

2. Fasilitas akomodasi, yang merupakan tempat dimana yang bersangkutan dapat menginap sementara di DTW.

3. Fasilitas Catering Service, yang dapat memberikan mereka pelayanan sehubungan dengan makanan dan minumannya yang sudah tentu sesuai dengan seleranya.

4. Obyek dan atraksi wisata yang ada pada DTW yang akan dikunjunginya.

5. Aktivitas Rekreasi (Recreation Activities) yang dapat dilakukannya di DTW yang akan dikunjunginya.

6. Fasilitas Perbelanjaan (Shopping Facilities), dimana ia dapat membeli ataupun juga kadang-kadang juga untuk mereparasi kamera, mencuci cetak film dan lain-lain.

7. Fasilitas Kantor pos (Post office), untuk pengiriman surat-surat bagi sanak keluarga, sahabat atau instansi sehubungan dengan perjalanan yang sedang dilakukan.

8. Fasilitas komunikasi melalui Telephone, telex dan faxcimile serta alat komunikasi lainnya untuk pengiriman informasi yang dibutuhkannya selama melakukan perjalanan.

Keseluruhan informasi tersebut di atas adalah menyangkut prasarana dan sarana kepariwisataan yang harus ada atau tersedia sebelum kita mempromosikan suatu daerah seba-gai daerah tujuan wisata.

Prasarana Kepariwisataan tidak berbeda dengan prasarana dalam perekonomian pada umumnya karena pada dasarnya kegiatan kepariwisataan tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonominya. Yang termasuk ke dalam kategori prasarana umum adalah: Sistem penyediaan air bersih; Pembangkit tenaga listrik; Jaringan jalan raya; Pelabuhan udara, pelabuhan laut; Terminal taxi, terminal bus; Stasiun kereta api; Kapal penyeberangan; Jaringan telekomunikasi. Sedangkan prasarana yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak ialah rumah sakit, apotik, bank dan kantor pos.

Prasarana (infrastucture) kepariwisataan adalah semua fasilitas yang tersedia serta yang memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

Sedangkan sarana kepariwisataan (tourism superstrucures) adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Kita dapat membagi atas tiga bagian yang penting sarana kepariwisataan yaitu: 1. Sarana pokok kepariwisataan; 2.Sarana pelengkap kepariwisataan; dan 3.Sarana penunjang kepariwisataan.

Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Superstructures).

Sesuai dengan namanya, sarana ini menyediakan fasilitas pokok yang ikut menentukan keberhasilan sesuatu daerah menjadi daerah tujuan wisata. Banyak perusahaan yang menggantungkan hidup­nya dari arus kunjungan wisatawan, atau orang yang melakukan perjalanan wisata, baik wisatawan manca-negara maupun wisatawan nusantara.

Termasuk juga kedalam kelompok sarana pokok kepariwisataan itu adalah perusahaan-perusahaan yang menyediakan fasilitas pelayanan kepada para wisatawan di tempat yang dituju: Travel Agent dan Tour Operator; Tourist Transportation; Hotel dan akomodasi lainnya; Catering, Trades; Obyek Wisata dan Atraksi Wisata.

Ada lagi satu kategori yaitu yang termasuk ke dalam kategori “Subvek Sentra” perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha agar orang merasa tertarik akan kebutuhan untuk mengadakan perjalanan atau memberi kesempatan pada mereka untuk menikmati perjalanan apabila mereka sendiri tidak mampu untuk berbuat demikian, yaitu:

1. Perusahaan penerbitan kepariwisataan yang memajukan dan mempromosikan pariwisata secara umum ataupun khusus.

2. Kantor yang membiayai kepariwisataan seperti Bank-bank Pariwisata (Travel Bank), Travel Credit, Social Tourism, Youth Travel.

3. Asuransi Pariwisata.

Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Suplementing Tourism Superstructures).

Yang dimaksud dengan sarana pelengkap ini adalah perusahaan ­perusahaan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak lain hanyalah untuk me­lengkapi sarana pokok kepariwisataan. Fungsi yang terpenting adalah untuk membuat agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal pada suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW). Yang termasuk dalam kategori ini adalah Sarana Olah Raga, Sarana Ketangkasan dll.

Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Superstructures)

Adalah perusahaan yang dapat menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok yang berfungsi bukan saja untuk membuat wisatawan lebih lama tinggal tetapi yang lebih penting adalah untuk membuat wisatawan lebih banyak mengeluarkan uangnya atau membelanja­kan uangnya di tempat yang dikunjungi. Sarana penunjang ini baik juga disediakan untuk wisatawan ­wisatawan yang datang walaupun itu tidak mutlak, karena tidak semua tamu membutuhkan pelayanan tersebut, seperti umpama­nya : night club, steambaths, dan casinos.

Ada beberapa perusahaan yang merupakan perantara atau saluran distribusi yang tentunya memperoleh pendapatan dari hasil komisi penjualan yang dilakukannya. Semakin banyak perusahaan yang diwakilinya akan semakin banyak pula komisi diterimanya. Bila kita perhatikan beberapa perantara yang bertindak dalam rantai distribusi dalam industri pariwisata, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam kondisi yang berbeda-beda. Misalnya suatu Travel Agent biasanya bekerja atas dasar komisi yang besarnya berkisar 5 % s/d 40%. Pada umumnya hotel dan akomodasi lain hanya memberikan komisi 10% dari kamar yang dijualkannya.

Jadi komisi hanya 10% dari harga kamar yang terjual saja, sedangkan dari penjualan makan dan minuman tidak diberikan komisi. Komisi yang lebih besar biasanya diberikan kalau pihak hotel dalam persaingan sehingga mereka berebutan mendapatkan tamu. Kalau dalam keadaan yang demikian, maka pihak Travel Agent tinggal pilih, logis bila ia akan lari ke hotel yang memberikan komisi yang lebih tinggi.

Disamping sarana dan prasarana seperti yang telah diuraikan diatas, masih ada berbagai macam bentuk usaha (tourism business) yang ada dalam kegiatan kepariwisataan, baik sebagai distributor maupun perantara, antara lain:

Tour Operator: Yaitu suatu badan usaha yang merencanakan dan menyelenggarakan paket wisata (packet tour) yang dijual, baik yang dijual sendiri maupun melalui retail Travel Agent lainnya. Dalam industri pariwisata Tour Operator biasa juga disebut sebagai manufacture karena menciptakan dan menghasilkan paket wisata yang siap jual pada wisatawan. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai wholesaler yang bertindak sebagai pedagang besar yang menjual paket wisata pada para retailer Travel Agent atau perantara lainnya.

Tour Operator-retailer: Adalah Tour Operator biasa, tetapi selain tugasnya sebagai Tour Operator ia juga bertindak sebagai pengecer (retailer) melalui retail outlet atau by Mail order. Contohnya, Neckermann di Jerman yang mempunyai outlet atau retail 150 retail Outlet dan WAGON-LITS di Perancis yang memiliki kira-kira 400 outlet di seluruh dunia. Di Indonesia yang dapat disamakan dengan ini adalah NITOUR yang banyak mempunyai cabang di daerah-daerah tujuan wisata.

Direct Mail: Adalah cara penjualan secara langsung kepada konsumen dengan mengirimkan brosur tentang paket wisata yang telah dipersiapkan dengan baik. Biasanya dilakukan oleh suatu Tour Operator, seperti halnya dengan Neckermann di Jerman.

Producer Retailer: Adalah suatu bentuk perusahaan terpadu / integrasi di mana beberapa perusahaan inudstri pariwisata bergabung bersama, soperti: Travel Agent, Transportasi, Hotel, Restoran dan lain-lain. Secara bersama mereka membentuk retail outlet yang berfungsi untuk melakukan penjualan. Contoh yang paling terkenal adalah Club Mediterranea di Eropa dan sepanjang Laut Tengah.

Institutional Selling: Adalah salah satu bentuk sales dari suatu Tour Operator yang bertugas menjual paket wisata secara langsung pada lembaga, kantor-kantor, jawatan, Bank, departemen ­departemen dan perusahaan asuransi. Jadi sasarannya adalah kelompok formal dalam masyarakat dan tidak secara individu.

New Mass Outlets: Adalah bentuk lain dari perusahaan yang menjualkan paket wisata melalui new mass outlet seperti: super market, hypermarket, toko buku, apotik, toko obat, toko alat ­alat olah raga, pelabuhan udara, stasion dan terminal atau pada arcade di hotel- hotel.

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>