Kategori: Tourism | Diterbitkan pada: 07-12-2008 |

Oleh ROCHAJAT HARUN

Berbicara soal pariwisata orang harus pula membicarakan pengangkutan atau transportasi. Merupakan suatu yang tidak mungkin apabila di jaman yang ultra modern ini, ada orang melakukan perjalanan wisata tidak mendapat fasilitas pengang­kutan yang memadai.

Pada jaman seperti sekarang ini rasanya tidak mungkin lagi bila orang melakukan perjalanan dengan menggunakan onta, keledai atau gajah untuk menuju suatu daerah tujuan wisata yang jaraknya cukup jauh, yang bahkan harus menyeberangi sungai, lautan atau samudera. Kalau ada, itu pun merupakan kekecualian dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pariwisata sebagai suatu industri.

Penggunaan onta, keledai dan gajah dalam pariwisata pada jaman sekarang ini hanya terbatas sebagai atraksi saja. Dipertunjukkan jika wisatawan mengunjungi suatu daerah tujuan wisata seperti di Muangthai, India atau Mesir serta negeri Arab lainnya.

Dapat dikatakan bahwa wisatawan yang melakukan perjalanan sudah merupakan suatu manifestasi dari interaksi, sebagai akibat perpindahan orang dari tempat di mana ia biasanya tinggal. Transportasilah yang dapat menggerakkan banyak orang, dari suatu negara ke negara lain, dari suatu daerah ke daerah lain dan dari suatu kota ke kota lain dan dari kota ke daerah pedalaman dan sebaliknya.

Aktivitas kepariwisataan banyak tergantung pada transportasi dan komunikasi. Faktor jarak dan waktu sangat mem­pengaruhi keinginan orang untuk melakukan perjalanan wisata. Dewasa ini transportasi menyebabkan pertumbuhan pariwisata yang sangat pesat sekali. Kemajuan fasilitas transportasi mendo­rong kemajuan kepariwisataan dan sebaliknya ekspansi yang ter­jadi dalam industri pariwisata dapat menciptakan permintaan akan transportasi yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa fungsi utama transportasi sangat erat hubungannya dengan “accessibility”. Maksudnya, frekuensi penggunaannya, kecepatan yang dimilikinya dapat mengakibatkan jarak yang jauh seolah-olah menjadi lebih dekat. Hal ini berarti mempersingkat waktu dan tentunya akan lebih meringankan biaya perjalanan. Dengan demikian transportasi dapat memudahkan orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu, seperti misalnya daerah tujuan wisata.

Dalam kepariwisataan kita mengenal tiga macam transportasi yang biasa digunakan oleh wisatawan, yaitu: 1. Transportasi Udara (International Flight, Domestic Flight). 2. Transportasi Laut (Regular Lines, Charter Lines Cruiser). 3) Transportasi Darat ( Sepeda, Dokar atau Delman, Sepeda Motor, Mobil penumpang, Kereta Api).

Dalam pemakaian transportasi untuk keperluan kepariwisataan jarang yang hanya menggunakan satu macam angkutan saja, ham­pir selalu merupakan kombinasi yang banyak tergantung pada kondisi tempat atau daerah tujuan wisata. Jadi ada macam-macam kombinasi pengangkutan yang digunakan di daerah tujuan wisata, tergantung bagaimana penga­turan Tour Operator yang merencanakan sesuai dengan “tour itinerary” yang mereka susun.

Suatu studi yang pernah dilakukan oleh PATA mengenai transportasi yang digunakan oleh wisatawan yang berkunjung ke daerah Pasifik dan Timur Jauh, diperoleh kesimpulan bahwa yang menggunakan pesawat udara 99% dan hanya 1% saja yang menggunakan kapal laut. Studi itu berdasarkan questionaires yang mengambil sample wisatawan yang berkunjung pada bebe­rapa negara di Pasifik dan Timur Jauh.

Dewasa ini penggunaan pesawat udara untuk tujuan per­jalanan wisata sangat memegang peranan yang menentukan. Hampir semua perjalanan wisatawan dari negara-negara asalnya (tourist generating countries) dilakukan dengan pesawat udara. Hal ini tidak lain disebabkan oleh kemajuan yang dicapai dalam teknologi penerbangan setelah Perang Dunia II.

Perubahan yang nyata dapat kita lihat dengan adanya penggunaan pesawat Jet yang mempunyai kecepatan melebihi kecepatan suara, seperti halnya dengan pesawat Super Sonic Transportation (SST), Con­corde, Jumbo Jet Boeing 747, Airbus, sebagai pengganti pesawat yang dijalankan dengan sistem baling-baling (propeller).

Bila kita adakan sedikit analisa secara umum, hubungan antara pariwisata dan transportasi, maka secara kualitatif kita dapat mengasumsikan bahwa pariwisata tidak dapat berkembang tanpa tersedianya sarana transportasi, khususnya pengangkutan melalui udara. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan bahwa walau tersedia atraksi wisata yang menarik, fasilitas rekreasi dan olah raga yang lengkap, hotel yang serba mewah, tanpa tersedia­nya sarana transportasi yang cukup memadai, semuanya akan sia-sia dan tidak berarti.

Saling ketergantungan antara pariwisata dengan sarana peng­angkutan udara khususnya, banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang datang dari luar misalnya situasi politik, krisis ekonomi, cuaca yang buruk. Di samping itu peraturan pemerintah sering pula membatasi perjalanan warga negaranya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

Sebagai ilustrasi, kita ambil contoh tindakan yang pernah dilakukan oleh Presiden Amerika Lindon B. Johnson dalam mengatasi orang-orang Amerika agar tidak melakukan perjalanan ke luar negeri dan agar berlibur saja di dalam negeri. Hal ini merupakan suatu periode yang sangat buruk bagi maskapai pener­bangan, Tour Operator, Travel Agent di Amerika Serikat pada waktu itu.

Faktor musim juga mempengaruhi pengangkutan wisata, seperti misalnya di Indonesia pada waktu hari raya Idul Fitri. Karena ramainya orang bepergian ke daerah dan sebaliknya, yang berarti frekuensi penggunaan transportasi sangat tinggi, maka banyak perjalanan wisatawan yang tertunda, terutama wisatawan yang melakukan perjalanan yang tidak melalui Travel Agent.

Dari sudut pandangan kuantitatif dirasakan masih ada keku­rangan dalam penelitian tentang hubungan antara pengeluaran untuk keperluan transportasi (transportation expenditures) secara keseluruhan pada pelbagai negara. Pengetahuan ini diper­lukan untuk dapat digunakan dalam rangka menetapkan kebijak­sanaan penerbangan udara sipil (civil aviation policy), terutama dalam pemberian izin bagi maskapai penerbangan asing untuk membawa penumpang dalam jaringan penerbangan tertentu, peraturan penerbangan borongan (charter flight) agar tidak meru­gikan maskapai penerbangan “national flag carrier”.

Hasil penelitian di Spanyol menunjukkan bahwa pengeluaran wisatawan untuk biaya pesawat udara lebih besar dibandingkan dengan biaya selama tinggal di sana, seperti biaya hotel, makan dan minuman serta pelayanan lain yang berkaitan. Ratio antara pengeluaran untuk pengangkutan udara dengan biaya selama tinggal di Spanyol adalah 110,8%. Hal ini disebabkan karena wisatawan yang datang ke Spanyol adalah wisatawan yang datang dari Eropa Barat, seperti Norwegia, Swedia, Jerman, Inggeris yang mempunyai jarak relatif cukup jauh.

Pemakaian pengangkutan udara untuk keperluan perjalanan wisata semakin mendapat tempat, terutama setelah berkem­bangnya penggunaan penerbangan borongan; prospeknya semakin baik karena biaya perjalanan menjadi lebih murah dibandingkan kalau menggunakan penerbangan biasa (normal flight).

Ada beberapa faktor yang dapat menguasai atau mempengaruhi agar orang-orang melakukan perjalanan wisata dengan pesawat udara, hingga permintaannya dapat berulang ulang. Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Daya tarik suatu daerah tujuan wisata, apa yang dimilikinya, fasilitas apa yang tersedia di sana, atraksi apa yang dapat disaksikan, olah raga apa yang dapat dilakukan, barang-barang apa yang dapat dibeli. Dengan perkataan lain, suatu daerah tujuan wisata hendaklah memenuhi tiga syarat, yaitu tersedianya: a)Something to See; b) Something to Do; dan c) Something to Buy.

2) Keadaan sosio-demografi dihubungkan dengan negara asal wisatawan (Keadaan sosio-demografi Kuwait jauh lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan sosio-demografi India atau Indonesia).

3) Faktor Keuangan, sampai di mana kekuatan tenaga beli masyarakatnya, di mana hal ini banyak pula ditentukan oleh “disposable income” penduduknya.

Di antara ketiga faktor ini yang paling dominan adalah faktor keuangan, karena biaya perjalanan akan banyak mempengaruhi calon wisatawan untuk mengambil keputusan. Dengan kondisi keuangan yang ada, apakah akan menggunakan pesawat udara atau kendaraan lain, atau liburan cukup di daerah sekitar saja dengan menggunakan kendaraan umum.

Atas pertimbangan di atas, maka elastisitas permintaan untuk melakukan perjalanan dengan pesawat udara, faktor tarif (fares) akan sangat menentukan dalam membuat suatu perencanaan kepariwisataan pada suatu negara.

Politik pengangkutan suatu pemerintah sangat mempengaruhi adanya arus lalu-lintas pariwisata, sebab politik pengangkutan ini menentukan jarak serta waktu yang ditempuh oleh wisata­wan yang merupakan salah satu unsur pokok daripada industri pariwisata. Dengan perkataan lain, politik pengangkutan dalam hubungan­nya dengan industri pariwisata harus ditujukan kepada soal­-soal, bagaimana caranya agar jarak serta waktu dapat ditem­puh dengan cepat, efisien, murah dan penuh kelegaan (com­fort) sebagai faktor yang merupakan bagian yang integral dalarn keseluruhan gejala yang menyangkut perjalanan sang wisatawan.

Dalam hubungan ini, yang dimaksudkan dengan politik peng­angkutan yang langsung mengenai kehidupan industri pari­wisata, adalah kebijaksanaan pemerintah di dalam mengatur lalu-lintas, kelengkapan serta perlengkapan jaringan-jaringan dan alat-alat yang dipergunakan dalam operasi angkutan ini dalam arti kata seluas-luasnya, seperti misalnya pembangunan pelabuhan laut, pembuatan lapangan udara, pembangunan stasion kereta api, pembikinan jalan raya, import berbagai alat pengangkutan seperti lokomotif, gerbong, mobil, bus, pesawat udara dan sebagainya. Itu semua merupakan kelengkapan fasilitas di dalam bergeraknya wisatawan-wisata­wan dari suatu tempat ke tempat lain selama mereka mengada­kan perjalanan.

Dengan adanya kemajuan peningkatan motorisasi daripada alat-alat pengangkutan di segala bidang pada dewasa ini, maka politik pengangkutan ini penting sekali artinya dalam industri pariwisata. Harus diperhitungkan peraturan-peraturan dan fasilitas seperti pada musim kunjungan yang ramai, langkah-­langkah kebijaksanaan keselamatan lalu-lintas dan tarif ang­kutan yang dalam keadaan yang tertentu menghendaki keis­timewaan yang khusus. Misalnya, demi untuk memajukan industri pariwisata, oleh pemerintah atau perusahaan-perusaha­an pengangkutan yang bersangkutan diadakan penurunan har­ga karcis atau harga karcis istimewa bagi wisatawan, potongan sewa (ongkos) untuk keperluan-keperluan berdarmawisata, karcis murah bagi keperluan berlibur (holyday season tickets) dan sebagainya.

Berkaitan dengan transportasi wisata, beberapa saran yang perlu dipertimbangkan :

Pertama, hendak­nya diciptakan suatu penyelenggaraan yang menyenangkan terutama bagi wisatawan luar negeri dengan suatu sistem pengurangan ongkos, atas dasar pemikiran bahwa mereka akan tinggal di negeri yang bersangkutan untuk jangka waktu tertentu, dengan maksud untuk mengurangi arti daripada jumlah penge­luaran untuk ongkos-ongkos transpor dalam proporsinya dengan jumlah pengeluaran seluruhnya, selama mengadakan perjalanan. Kedua, agar keringanan-keringanan khusus dalam bidang pariwi­sata harus diadakan dengan jalan menyajikan konsesi-konsesi biaya (ongkos) bagi wisatawan luar negeri, baik dalam hal pengangkutan maupun penginapan mereka.

Pemakaian penerbangan borongan (charter flight) mulai terjadi dalam periode tahun 1945-1950 di mana untuk pertama kalinya diperkenalkan untuk pengangkutan wisatawan, yaitu dengan mencarter suatu pesawat dan seluruh awaknya dengan tujuan suatu daerah wisata tertentu. Dengan adanya sistem borongan ini penerbangan pesawat dapat disesuaikan dengan rencana perjalanan wisata yang disusun oleh Tour Operator yang mencarter pesawat tersebut.

Kemudian dalam tahun lima puluhan kepariwisataan di Eropa berkembang dengan pesatnya, permintaan untuk melakukan perjalanan wisata jarak jauh (long-haul) menunjukkan kecende- rungan meningkat, mulailah beberapa Travel Agent dan Tour Operator memikirkan untuk mencarter pesawat untuk membawa wisatawan ke daerah tujuan wisata tertentu dengan sistem “back to back charter”. Ternyata usaha semacam itu banyak menarik wisatawan dan karenanya beberapa Tour Operator yang bekerja­sama dengan perusahaan angkutan mulai merencanakan penye­lenggaraan tours dengan menggunakan pesawat carteran.***