Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
DARI mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Dari mana datangnya Sunda, dari hati naik ke mana-mana. Dari mana Us Tiarsa memiliki data tentang bahasa Sunda semakin ditinggalkan para penuturnya, terutama kaum remaja? Dan dari sinilah tulisan ini bermula, berkenaan dengan pernyataan Us Tiarsa yang dimuat di sebuah koran Jawa Barat, beberapa pekan yang lalu.
Pernyataan Kang Us, semakin menegaskan bahwa beliau tidak pernah melakukan riset sebelum membuat sebuah kesimpulan. Sebagai bahan perbandingan, Pada Kongres Basa Sunda (KBS) VIII tahun 2005 di Subang, Us memaparkan data yang keliru mengenai media berbahasa Sunda. Pada makalah Us yang berjudul “Basa Sunda dina Média Massa”, Us menuliskan bahwa media massa Sunda yang masih terbit hanyalah “Mangle”, “Galura”, “Giwangkara”, “Kujang”, “Mandiri”, ditambah oleh dua majalah berukuran kecil, “Cupumanik” dan “Sunda Midang”. Demikian sebagaimana yang tertuang dalam paragraf ketiga makalah tersebut.
Pada kenyataannya, dari sebelum tahun 2005 (sampai sekarang), media massa berbahasa Sunda semisal “Bina Da’wah”, “Sarakan”, “Iber”, “Seni Budaya”, dan lain-lain, masih setia menemui pembacanya. Selain itu, ukuran Majalah “Sunda Midang” dan “Cupumanik” berbeda. Kalau yang dimaksud kecil adalah ukuran kertas A-5 seperti halnya “Cupumanik”, maka “Sunda Midang” berukukran A-4, atau lebih besar dari majalah “Cupumanik”. Wajar saja jika sekarang pun Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) tidak mengetahui kehadiran Majalah Balebat di Bogor, sebagaimana yang ditulis Djadjas Djasepudin di Tribun Jabar (6/6). Jika kata “memalukan” terlalu kasar, maka kata “memilukan” yang bisa dipilih. Bagaimana mungkin sebuah kongres yang menghabiskan dana ratusan juta tersebut dapat melahirkan ide, gagasan, atau pemikiran baru, jika data-datanya saja bertolak-belakang dengan fakta di lapangan.
Demikian pula pernyataan tentang semakin berkurangnya pengguna bahasa Sunda di kalangan remaja, sepertinya perlu dikaji kembali. Mari membuka mata lebih lebar untuk menyaksikan kenyataan yang sesungguhnya terjadi.
Dunia Maya
Tengoklah dunia maya. Perkembangan teknologi internet yang begitu pesat, telah membawa angin sejuk bagi kehidupan bahasa-bahasa di dunia, termasuk bahasa Sunda. Semakin hari, website berbahasa Sunda atau yang memuat konten budaya Sunda tampak kian marak. Blog dan portal Sunda di dunia maya, banyak membantu masyarakat yang ingin mengenali kesundaan. Tak pelak lagi, banyak website kesundaan yang menjadi rujukan para pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, dan dinas yang mengemban tugas ngamumule budaya Sunda. Misalnya, panitia “Anugerah Budaya Kota Bandung 2009”, tanpa malu-malu melakukan copy-paste data dari sebuah blog untuk menyusun buku panduan “Anugerah Budaya Kota Bandung 2009”, tanpa mau menuliskan sumbernya, apalagi mengedit kesalahan cetak.
Beberapa waktu yang lalu, pernah mencoba mencari tahu, siapa saja para pengunjung blog atau portal kesundaan. Dari beberapa website yang ditanyakan kepada situs alexa.com, ternyata jawabannya adalah: “Based on internet averages, is visited more frequently by females who are in the age range 18-24, received some college education and browse this site from home”. Dari jawaban itulah, rasanya kurang tepat jika menempatkan kaum remaja dan generasi muda sebagai tokoh utama yang tidak suka menggunakan bahasa Sunda.
Terlebih lagi setelah demam jejaring sosial melanda dunia, maka budaya menulis, membaca, dan berbahasa ibu meningkat tajam. Situs socialbakers.com menempatkan orang Indonesia sebagai pengguna terbanyak facebook kedua setelah Amerika. Dari 38 juta pengguna facebook di Indonesia, terdapat urang Sunda yang jumlahnya bisa mencapai jutaan orang. Cara melihat identitas kesundaan di jejaring sosial, salahsatunya dengan memperhatikan bahasa yang digunakannya. Maka dari itulah, LBSS tidak boleh gaptek, agar bisa menyadari bahwa pengguna bahasa Sunda itu masih sangat banyak. Mereka, masyarakat Sunda di dunia maya, tetap berinteraksi di jejaring sosial menggunakan bahasa Sunda, sama sekali tanpa beban apa-apa. Bahkan banyak diantaranya yang berinisiatif mendirikan grup atau komunitas kesundaan, misalnya “Kusnet”, “Salakanagara”, “Wargi Sunda”, “Sunda Sauyunan Sadunya”, “Cinta Budaya Sunda”, dan masih banyak lagi.
Dunia Daratan
Sulit untuk membuat kesimpulan bahwa kaum remaja telah banyak yang meninggalkan bahasa Sunda dibanding orang tua. Salahsatunya, mari kita arahkan pandangan kita kepada Festival Drama Basa Sunda (FDBS), yang rutin digelar Teater Sunda Kiwari. Dari tahun ke tahun, peserta FDBS kian bertambah, dan selalu didominasi kaum remaja. Tentu saja termasuk penontonnya yang selalu membludak dan menyesaki Gedung Kesenian Rumentangsiang Bandung.
Begitu banyak para pelajar yang mendirikan grup teater , baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Meraka menggarap naskah berbahasa Sunda. Bahkan selanjutnya tidak lagi hanya berorientasi untuk mengikuti FDBS, melainkan membuat garapan untuk suatu pertunjukan tersendiri. Misalnya, setiap bulan Ramadhan, Teater Senapati SMA Pasundan 3 Bandung, selalu menggelar drama islami berbahasa Sunda, dengan menggalang penonton sebayanya dari sekolah-sekolah lain.
Gejala positif pengguna bahasa Sunda pun muncul di tengah masyarakat. Misalnya, bahasa Sunda yang mulanya hanya tertuang di baju, kini telah menular pada ekor motor. Fenomena ekor motor bisa menjadi salahsatu contoh nyata. Mari kita perhatikan stiker yang terpasang di ekor-ekor motor yang setiap hari bertebaran memenuhi jalan raya. Banyak ungkapan berbahasa Sunda terpasang di ekor motor, dari mulai yang membikin pembacanya mengerutkan kening, tersenyum, sampai tertawa. Contohnya: “tadad-tidid, geus nyaho macét!”, “Jung wé tiheula da urang mah moal balap, sieun cilaka”, “Kasép nya nu numpak motorna?”, dan lain sebagainya. Lagi-lagi gagasannya muncul dari generasi muda, dan terpasang di ekor motor para muda-mudi.
Sekali lagi, dari mana Kang Us, sebagai Ketua Panitia KBS IX, mendapatkan data tentang bahasa Sunda yang semakin ditinggalkan penggunanya terutama kaum remaja? Jangan-jangan yang berkurang itu justru dari kalangan orang tua.***
Dimuat di Tribun Jabar, 11 Juli 2011








Good job…Ayi Dhipa. mun pamianganana tina leutik hate mah gejed ngalengkah…
Saya sebagai remaja sunda merasa bangga heuheu
ayo dukung terus semangat orang sunda,agar bahasa kita tiasa diakui ku sakabeh warga dunia..
tapi simkuring sakapeung sok asa manglebarkeun pami ningal sawatara inohong nu hohoak ka batur kudu ngamumule basa Sunda, sedengkeun barudakna geus teu biasa make basa Sunda. lieur lah ari wacana wungkul mah… bae ketang, segituh juga sudah uyuhan….