Kategori: Tourism | Diterbitkan pada: 11-12-2008 |
Oleh ROCHAJAT HARUN
Dalam dunia kepariwisataan segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat disebut “atraksi”, atau lazim pula dinamakan “objek wisata”. Atraksi atau objek wisata, baik yang hadir secara natural, maupun yang biasa berlangsung tiap harinya serta secara khusus diadakan pada waktu tertentu, di Tanah Air kita
Atraksi yang merupakan karunia Tuhan, keajaiban Illahi dan sebagai budaya hasil daya cipta manusia ada dimana-mana.Tiap sudut Tanah Air kita, tiap daerah Nusantara kita memiliki kekhasan budaya hasil daya cipta manusianya sendiri-sendiri. Termashur dengan istilah Bhineka Tunggal Ika.
Suatu daerah wisata, disamping akomodasi (hotel atau tempat menginap sementara lainnya) akan disebut “daerah tujuan wisata” apabila ia memiliki atraksi-atraksi yang memikat sebagai tujuan kunjungan wisata. Atraksi-atraksi ini antara lain: Panorama keindahan alam yang menakjubkan seperti gunung, lembah, ngarai, air terjun, danau, pantai, matahari terbit/terbenam, cuaca udara, komoditas pertanian dan lain-lain yang berkaitan dengan keadaan alam sekitarnya.
Disamping itu ada yang merupakan budaya hasil cipta manusia. Misalnya monumen, candi, bangunan klasik, peninggalan purbakala, musium, mandala budaya, arsitektur kuno, seni tari, musik/gamelan, adat istiadat, upacara, , pekan raya, peringatan/perayaan hari jadi, pertandingan/ kompetisi, pameran/demonstrasi, atau kegiatan-kegiatan budaya, sosial dan keolahragaan lainnya yang bersifat khusus , menonjol dan meriah.
Dalam kegiatan pariwisata, atraksi-atraksi ini harus dikoordinasikan dalam suatu penyajian atraksi yang harmonis, menarik dan mengagumkan. Dengan kata lain, berbagai ragam atraksi disajikan secara terpadu, dengan latar belakang panorama keindahan alam, peninggalan kebudayaan purbakala yang megah serta seni tari atau hiburan eksotis berupa pertunjukan. Dipentaskan secara harmonis dalam suatu paket penyajian serta ditangani secara baik dan mengindahkan kaidah-kaidah lingkungan masyarakat setempat, sebagai upaya kelestarian tatacara hidup yang harus dihormati.
Paket penyajian atraksi wisata ini akan dapat mengatur kesibukan seseorang wisatawan di negeri asing yang dikunjungi dengan berbagai kegiatan antara lain di waktu siang hari acaranya berdarmawisata melihat dan menikmati keindahan alam, monumen kemegahan masa lampau serta adat istiadat, cara hidup sehari-hari masyarakat setempat. Sedangkan malam harinya ia berkesempatan menyaksikan dan menikmati pertunjukan kesenian atau pagelaran sendratari atau atraksi lain dikala malam telah tiba.
Di Indonesia, dewasa ini pemanduan atraksi-atraksi wisata dalam satu paket penyajian, nampaknya telah mengalami kemajuan namun masih harus dikembangkan. Artinya pemanduan ini harus diintensifkan dan diatur secara baik. Pemanduan paket penyajian atraksi wisata ini secara teknis disebut “penanggalan atraksi” atau dikenal dengan istilah calender of events.
Biasanya dalam menyajikan calender of events, tersedia buku-buku petunjuk yang memuat berbagai macam acara atraksi tahunan yang dilukiskan secara lengkap untuk tahun yang sedang berjalan. Dengan demikian, sang wisatawan secara prospektif dapat mempelajarinya terlebih dahulu. Kalau penyajiannya memang baik dan mengandung kebolehan, ia akan merasa tertarik tentunya.
Perkembangan aktivitas pariwisata yang dianggap murah dan diyakini lebih ramah lingkungan, baik lingkungan sosial maupun alamiah, telah tumbuh dan berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir ini. Aktivitas pariwisata baru ini memiliki berbagai bentuk, antara lain pariwisata bersenang-senang (leisure tourism), pariwisata petualangan (adventure tourism), pariwisata alternatif (alternative tourism), pariwisata alam (geo-tourism atau eco-tourism), dan pariwisata sosial (ethnic and cultural tourism), atau bahkan agro-tourism dan green tourism.
Konsep pariwisata berkembang sebagai reaksi terhadap pariwisata konvensional yang dianggap terlalu sempit dan rekreasi sentris. Konsep pariwisata yang lebih utuh dan ber”visi” kan pengembangan masyarakat ini telah mengubah perilaku pelaku kepariwisataan, mulai dari pemerintah, operator usaha-usaha pariwisata, sampai pada biro perjalanan wisata dalam merencanakan dan menjual produk wisata kepada para wisatawan dalam maupun luar negeri.
Sebagai sebuah aktivitas, pariwisata tadi memiliki ciri-ciri: fleksibel (jadwal, jenis, dan waktu aktivitas dapat disesuaikan), pangsa pasar dengan kategori dan ciri yang jelas (segmented) dan mampu mencitakan relung (niche) pasar, terdapat hubungan/interaksi dua arah yang saling menguntungkan antara wisatawan dengan lingkungan dan masyarakat, dan disertai dengan tingkat kesadaran akan pelestarian lingkungan yang tinggi.
Aktivitas pariwisata saat ini dan di masa datang memiliki kecenderungan untuk lebih menekankan pada:
1. Kemandirian wisatawan dalam memilih produk wisata;
2. Keinginan untuk melakukan interaksi dengan lingkungan dan masyarakat yang lebih leluasa;
3. Penyediaan produk wisata yang lebih komprehensif yang tidak hanya terbatas pada menikmati alam dan budaya semata.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pengembangan Pariwisata berbasis komunitas, masyarakat setempat memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai subjek (pelaku) dan juga sebagai objek (atraksi). Sebagai komunitas lokal memiliki karakteristik dan keterbatasan-keterbatasan sosial, budaya dan ekonomi yang mungkin belum sesuai dengan aktivitas Pariwisata. Sedangkan sebagai atraksi masyarakat juga harus dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan kebutuhan wisatawan yang juga memiliki tuntutan spesifik.
Dengan demikian, yang harus dicermati dalam merencanakan pembangunan pariwisata adalah bagaimana memadukan dan mengintegrasikan fenomena pariwisata sebagai sebuah industri jasa (hospitality industry) yang mempunyai karakteristik dan tuntutan-tuntutan spesifik dengan kemampuan kondisi, dan karakteristik masyarakat lokal.
Proses produksi di sektor pariwisata dipandang akan memberikan manfaat yang besar kepada proses sosial dan ekonomi apabila spektrum industri pariwisata dimekarkan. Dengan demikian aktivitas kepariwisataan diletakkan berdampingan dengan proses sosial budaya, sosial ekonomi, dan industri dalam suatu wilayah/daerah. Kelangsungan aktivitas kepariwisataan dapat dijaga melalui penciptaan keseimbangan dan kesinambungan kegiatan tersebut secara terintegrasi.
Berdasarkan karakteristik pariwisata baru tersebut analisis isi terhadap kepariwisataan yang dapat dilakukan harus menekankan prinsip pembangunan dari bawah (bottom-up approach) sehingga akan tercipta produk pariwisata yang berbasis masyarakat (community’s tourism product). Pembangunan kepariwisataan harus diarahkan pada pembangunan komunitas secara utuh. Community are regarded as the vocal point of the tourism planning exercise, not the tourist. (Murphy, 1985).
Pendekatan ini menganggap bahwa sumber daya dan fasilitas dengan seluruh atributnya merupakan rekayasa komunitas dan dapat dimanfaatkan sebagai produk wisata. Dengan demikian konsep produk wisata yang berbasis komunitas (community based) melihat kepariwisataan sebagai fenomena sosial dan merupakan interaksi manusia dengan lingkungan dalam arti yang seluas-luasnya.
Apabila konsep ini dapat diterapkan sebagai salah satu pendekatan pengembangan destinasi wisata, maka hal ini akan dapat merangsang tumbuhnya kawasan dan objek-objek wisata baru. Konsep ini dapat lebih diterima oleh komunitas suatu daerah karena lebih mengutamakan peran serta masyarakat secara langsung dalam aktivitas kepariwisataan. Murphy (1985) mengemukakan: ”Tourism development is a local issues because that is the level where the action takes place” .
Lebih lanjut, Murphy menyatakan bahwa pariwisata yang berbasis masyarakat mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
1. Integrasi dan koordinasi;
2. Kelenturan dan keikutsertaan masyarakat;
3. Pasar yang terseleksi;
4. Kekayaan budaya setempat;
5. Investasi dan lapangan pekerjaan secara setempat;
6. Efek demonstrasi kebudayaan;
7. Daya dukung dan berfungsi secara majemuk;
8. Sinergi antar sumberdaya potensial.
Kesemua unsur tersebut sangat tergantung pada tujuan pembangunan yang ditentukan, metode pelaksanaannya, fasilitas dan aksesibilitas suatu ODTW dan destinasi pariwisata. Demikian pula tingkat keramahtamahan yang dimiliki dan dinilai perlu dikuasai dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar; nilai keotentikan sumber daya pariwisata, dan daur hidup produk, serta manfaat yang dapat diperoleh dan dinikmati dari pariwisata.








Ass…
Suatu objek wisata sudah pasti harus memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri agar dapat diminati oleh para wisatawan…..juga harus didukung dengan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan para pengunjung……dan tentu saja suatu objek wisata tidak akan berkembang jika tidak ada dukungan dari masyarakat setempat……..masyarakat mempunyai multifungsi un tuk memajukkan objek wisata itu sendiri….
Ws…….
Segala sesutu yang dijual harus memiliki daya tarik, keistimewaan, keunikan dan yang paling penting adalah berbeda dari yang sudah ada. Begitu pula suatu ODTW pun harus meiliki itu semua agar dapat bersaing dengan yang lain yang tentunya sudah lebih dahulu dikenal. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya untuk mendukung semua itu adalah tersedianya sarana dan prasarana penunjang bagi suatu ODTW haruslah baik. Setelah itu baru bagaimana cara mengemas suatu ODTW tersebut menjadi suatu yang berharga dan dapat bersaing dengan ODTW lain. Seluruh komponen tersebut bisa berjalan dengan lancar harus ada dukungan baik dari pemerintah, investor dan juga masyarakat.
memang benar wisata berbasis komunitas sangatlah baik dalam pengembangan wisata daerah itu sendiri, oleh karena komunitas pastinya lebih terstruktur dan memiliki program kerja serta visi misi dari komunitas itu sendiri,
wisata yang berbasis komunitas biasanya bergerak dalam bidang atraksi wisata dan hal ini sangatlah baik dalam meningkatkan motivasi bagi wisatawan untuik berkunjung
As… Pa Rochayat
dalam satuan komunitas PARIWISATA, pariwisata tidak akan pnah berjalan dengan 1 unsur saja, membutuh smua aspek, dalam aspek wisatany saja, terdapat jg komunitas, tnpa itu obyek wisata akan berjalan dengan pincang!
sebenarny dengan simulan training yang diberikan kepada pelaku wisata, sudah cukup menunjang jalany komunitas pa, dengan sering diadakan simulan training, akan timbul kesadaran, dan ini sangat penting!
ass.pa
saya sangat setuju dengan artikel bapak bahwa suatu yang bisa dijual,dapat dilihat dan dinikmati oleh semua kalangan harus dan wajib memiliki kekhasan dan keunukan masing-masing,dan fasilitas-fasilitas intern maupun ekstern yang mendukung agar objek itu bisa dinikmati dan ODTW tsb tidak kalah menarik denagn ODTW lainnya .