Kategori: Curhat Kawan | Diterbitkan pada: 18-10-2007 |

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berdampak pula pada tradisi ucapan selamat hari raya, semisal tahun baru, Idul Fitri, dsb. Semenjak hampir semua orang punya HP, tidak ada lagi kiriman kartu lebaran via pos. Namun, bukan berarti tidak ada sapaan indah nan penuh arti. Justru sapaan tersebut dikirim via SMS atau e-mail, dan bisa sampai tujuan dalam hitungan detik. Kendati demikian, sapaan melalui elektronik pun tak urung memiliki kelemahan. Untaian kata-kata tersebut hampir bisa dipastikan hanya bertahan beberapa hari di memori HP. Apalagi bagi pemilik HP yang kapasitasnya kecil, pasti harus segera dihapus, lantaran penuh dan SMS baru tidak akan bisa masuk. Kalaupun ada yang tetap “dipelahara”, kemungkinan hanya satu-dua SMS yang benar-benar mengesankan. Jadi, hilanglah catatan indah itu untuk selama-lamanya.

Berbeda dengan kartu lebaran, yang “usianya” bisa lebih panjang. Kalau kita apik menyimpan dan mendokumentasikannya, kenangan itu akan tetap ada, dan keberadaannya tidak akan menghabiskan ruangan kamar. Ditambah lagi dengan keorsinilan tulisannya, tulisan tangan si pengirim dan biasanya dibubuhi tanda tangan. Jadi, kartu lebaran jauh lebih berkesan daripada sapaan via SMS atau e-mail.

Terlepas dari kelemahan dan kelebihannya, SMS Idul Fitri merupakan salahsatu saksi kata yang tentunya sangat berkesan. Saya selalu berusaha mendokumentasikan SMS Idul Fitri sejak  1425 Hijriyah. Namun, sayang sekali, hanya sebagian saja yang sudah berhasil ditemukan. Sisanya insyaAlloh akan ditambahkan lagi setelah dokumen lainnya  sudah ditemukan.

Semua SMS dan e-mail Idul Fitri dari kerabat dan kawan-kawan akan diabadikan di situs ini. Ada yang dikirim melalui SMS dan ada juga yang dikirim melalui e-mail. Ada yang sengaja mengirim sapaan indah tersebut, ada juga yang merupakan balasan dari sapaan saya. Dalam hal ini, saya tidak akan membedakannya. Sebelumnya, saya lebih banyak menerima kiriman SMS Idul Fitri atas inisiatif keraban dan kawan-kawan, karena para beliau sudah mengantongi nomor kontak saya, baik nomor HP maupun alamat e-mail.

Lain halnya pada Idul Fitri 1428 H. Kali ini saya lebih banyak menerima balasan SMS, karena nomor HP saya diganti (asalnya 0818217401, sekarang menjadi 081809992699). Semua SMS yang masuk ke nomor HP saya, akan diabadikan di situs ini, kecuali balasan SMS yang isinya cuma menuliskan kata: “Sami-sami”, “Sama-sama”, “Trims”, dan “Hatur Nuhun”. Saya memaklumi kesibukan kerabat dan kawan-kawan, yang tidak sempat mengukir kata-kata dan bersilaturahmi melalui SMS. Tapi biasanya saya tidak mengirimkan lagi SMS pada perayaan Idul Fitri selanjutnya. Di sisi lain, ada yang justru mengirim SMS lebih dari satu kali, dengan untaian kata yang berbeda. Pada Idul Fitri 1428 H, saya menerima dua SMS dari Dadan Sutisna, Ching-Ching Liana, dan Dody Satya Ekagustdiman.

Saya sangat menghargai untaian kata-kata dari kerabat dan kawan-kawan. Oleh karena itu, saya akan seantiasa mengenangnya. Dan saya pun mohon maaf kepada para kerabat dan kawan-kawan yang tidak sempat dikirim SMS Idul Fitri. Sebab, saya tidak hapal semua nomor kerabat dan kawan-kawan. Ada yang belum ngasih tahu dan ada pula yang lupa (tidak sempat disaving atau kehapus). Yang pasti, dengan hati yang ikhlas, saya memohon maaf lahir dan batin kepada semuanya.

Pada Idul Fitri 1427 H, saya mengirimkan SMS kepada para kerabat dan kawan-kawan, yang berbunyi: “Mundut tawakup nu kasuhun, ngahampura tos kantenan: Bruy hurung ngempur, bray narawangan, bréy léléd lalangsé, briy ngusur aling2, broy obor lalakon”. Dan pada Idul Fitri 1428 H, saya menuliskan kata-kata: “Binarung rasa nu lénglang caang, neda sihapunten samudayaning kalepatan lahir batin, anu natrat saparat mangsa. Bray… balébat pangampura”.

Taqobalallohu mina waminkum, syiamana wa syiamakum.