Kategori: Dunia Malam | Diterbitkan pada: 24-10-2007 |

Setelah Moammar Emka berhasil meraih kesuksesan dalam menuliskan kehidupan malam eksklusif di Jakarta: ”Jakarta Undercover”, tiba-tiba saat itu ada dorongan kepada saya untuk mengikuti jejak Moammar Emka. Tentu saja bukan mengulang perjalanan Moammar, melainkan mencari sisi lain yang berbeda, dan bukan di Jakarta.

Tekad saya semakin kuat untuk menyusun sebuah buku yang rencananya akan diberi judul “Menyusuri Kehidupan Malam di Pesisian”. Maka, perjalanan saya pun dimulai pada tahun 2004, dimulai dari Bekasi, menyusuri Jalan Narogong, kemudian melewati sepanjang jalur Jonggol, sampai ke Cianjur. Ada banyak hal-hal menarik yang saya dapatkan selama megadakan semacam investigasi di wilayah tersebut.

Selanjutnya, setelah di Cianjur sempat tinggal hampir sebulan, berkenalan dengan Ciranjang, Kampung Buni Ayu, Pasirhuni, dan sebagainya. Ada beberapa catatan dari sana, yang sudah terkumpul dalam file. Dari Cianjur, menuju Bandung, saya pun tertarik untuk mengenali kehidupan di Cibogo. Selanjutnya ke Padalarang, menuju arah Purwakarta. Ada beberapa daerah yang menarik perhatian saya, seperti Campaka, Cirangrang, dan sebagainya. Saya hanya sampai Cikalong Wetan, untuk kemudian pulang ke Bandung.

Tentu saja catatan-catatan saya belum cukup untuk dijadikan sebuah buku. Saya mengadakan perjalanan lagi dari Bandung menuju ke arah timur. Setelah melewati Nagreg, daerah yang menarik perhatian saya adalah wewengkon Weda (sebelum Bandrek). Kota Garut pun sempat menjadi lokasi pengamatan. Dan ada pula hal-hal menarik yang saya catat. Termasuk di Tasik dan Ciamis, saya sempat bermalam-malam mengamati kehidupan di beberapa tempat.

Perjalanan saya sampai ke Solo, tepatnya Gunung Kemukus. Saya sudah keburu prustasi, karena belum mendapatkan model yang tepat untuk dijadikan tulisan. Kalau sekedar menulis, tentu saya bisa. Tapi, saya ingin menulis lain dari yang lain. Dalam tulisan saya, harus ada solusi untuk pemecahan persoalan dunia malam. Solusi yang bijak, bukan dengan cara anarkis. Setelah mewawancarai puluhan PSK (Pekerja Sex Komersial), kebanyakan di antaranya memiliki alasan yang klasik: mencari uang untuk menghidupi keluarga, karena ditinggal suami atau suamianya pengangguran. Ya, mereka juga sadar, bahwa pekerjaannya bertentangan dengan norma dan agama. Tapi, apa lagi yang harus dilakukan? Apakah mesti bunuh diri? Bunuh diri bukan akhir dari persoalan, melainkan awal dari persoalan yang sangat besar.

Alasan-alasan semacam itu sering membuat orang menjadi nyinyir. Namun, itulah alasan mereka yang sebenarnya. Mau kerja? Semua orang tahu, di Indonesia sulit mendapat pekerjaan. Kalau tidak sulit, mana mungkin TKI atau TKW berbondong-bondong meninggalkan tanah air, demi mencari pekerjaan sebagai buruh. Lulusan perguruan tinggi, kebanyakan “mencari aman” dengan bekerja menjadi PNS atau di perusahaan swasta. Hanya sebagian kecil, lulusan perguruan tinggi yang mengamalkan ilmunya untuk membuka lahan pekerjaan bagi si kecil.

Banyak pula di antaranya yang secara tegas menghujat para PSK dan tidak memberi kesempatan untuk berpikir, merenung, dan mencari jalan yang lain. Padahal para PSK pun sama-sama manusia, punya perasaan, punya harapan, punya cita-cita, dan punya hak untuk hidup di tanah air yang telah diperjuangkan oleh nenek-moyangnya. Oleh karena itu, untuk menuntaskan penomena PSK, perlu mencari solusi yang benar-benar bijak, dan tetap menganggap para PSK sebagai manusia.

Contoh kecil yang terjadi di Kota Bandung, yaitu ditutupnya lokalisasi Saritem. Apakah dengan ditutupnya Saritem, PSK menjadi hilang? Silahkan berjalan pada malam hari, melewati Jalan Asia-Afrika, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Dewi Sartika, dsb. Saritem boleh ditutup, tapi mereka pasti mencari tempat lain untuk mencari para hidung belang. Kalau tidak begitu, darimana mereka bisa makan? Yang perlu makan, bukan hanya walikota atau anggota legislatif. Mereka pun perlu makan, dan atau memberi makan keluarganya. Lagi pula, jika Saritem ditutup, maka diskotik dan atau tempat-tempat hiburan kelas kakap lainnya pun harus ditutup. Kalau serius mencari jalan keluarnya, pasti ada solusi untuk menuntaskannya.

Dalam menu “DUNIA MALAM” ini, saya akan mencoba mengumpulkan kembali catatan-catatan hasil pengamatan, yang kini memang file-nya sudah berserakan, sebagian ada yang sudah dimuat di media massa. Sudah hampir satu tahun, saya meninggalkan garapan tersebut, karena keburu putus asa. Kendati demikian, hasil pengamatan saya di Gunung Kemukus, telah saya racik menjadi sebuah Skenario Sinetron, berjudul “Bisikan Gunung Kemukus”. Dalam sinetron tersebut, saya tidak terlalu menyoroti kehidupan malam di Gunung Kemukus, karena lebih memfokuskan pada cerita legenda mengenai kisah cinta Pangeran Samudro dan Ratu Ondrowulan.

Skenario “Bisikan Kemukus” telah digarap oleh Lunar Jaya Film, dengan disutradarai oleh Acok, serta ditayangkan di layar TPI. Saya lupa nama-nama pemainnya, karena tidak punya dokumentasi audio-visualnya. Saya hanya menyimpan file naskah skenarionya.

Untuk “DUNIA MALAM”, para pengunjung yang saya cintai, dipersilahkan memberikan komentar dengan sejujur-jujurnya. Demikianlah, tentunya saya akan sangat menghargai semua komentar dari anda semua wahai para pembaca yang budiman.

Ranggon Panyileukan

September 2007

Salam Hangat Selamanya

Dhipa Galuh Purba