Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Keindahan, kedamaian, bangkitnya gairah hidup, dan berbagai kesan lainnya muncul dalam setiap benak hati penonton.. Tentu saja akan menjadikan bermacam multi tapsir bagi insan yang memenuhi ruangan gedung kesenian tersebut. Walau tak ada yang tahu persis, makna apa sebenarnya yang terkandung dibalik tarian kontemporer seorang Intan Dewi Ayu berjudul Menembus fatamorgana itu. Yang pasti, berbagai pasang mata menyaksikannya dengan penuh pesona. Para afresiator tari, pelajar dan mahasiswa dari sekolah kesenian, pelajar dan mahasiswa yang respon terhadap seni tari, wartawan budaya dari berbagai media massa, ditambah oleh para undangan yang kebetulan bisa menyisihkan sebagian waktunya.

Seperti biasanya dalam setiap pertunjukan yang dianggap berbobot, hanya sebagian kecil masyarakat umum, yang turut menyaksikannya. Sebab gedung kesenian itu terlalu jauh dari jangkauan masyarakat. Belum lagi ditambah dengan suasananya yang terkesan angker. Mengakibatkan masyarakat pun seperti yang segan untuk masuk ke dalam wilayah tersebut. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika mereka berpikir, bahwa gedung kesenian itu hanyalah untuk para tokoh intelektual tertentu.

“Memang, pertunjukan ini hanyalah diperuntukan bagi masyarakat intelek.” Begitulah yang dikatakan Intan, sebelum memulai pertunjukannya.

“Alasannya?” seorang wartawan bertanya dengan nada yang serius.

“Menyaksikan pertunjukan ini, sangat memerlukan daya afresiasi yang kuat.” Jawabnya dengan tenang.

“Kalau begitu, Pak Dokter atau Pak Polisi bukan seorang intelek!”

“Kenapa?”

“Sebab, mereka tidak nonton.” Entah berceloteh atau tidak. Yang jelas, perkataan itu sempat membuat wajah Intan merah padam. Bahkan Intan pun segera berlalu, meninggalkan dua orang wartawan yang belum selesai mewawancarainya.

Raden Jubaedi duduk pada barisan kursi penonton yang paling depan. Terpancar seraut wajah yang penuh kebanggaan. Mungkin merasa bangga menjadi seorang ayah dari koreograper ternama, sekaliber Rosikin WK. Di sampingnya, duduk pula dengan tenangnya, seorang pemuda tampan yang wajahnya berseri-seri. Kedua bola mata yang tak ingin terlewatkan untuk mengikuti setiap lenggak-lenggok gerakan gemulai tarian Intan. Entah mengerti atau tidak. Yang pasti, pemuda itu dan semua penonton pun bisa menyaksikan visualisasi keindahan racikan tari Intan. Tubuh sexi Intan yang berbentuk biola. Kecantikan parasnya makin nampak dengan bantuan lighting warna-warni. Ditambah lagi dengan penataan artistik yang cukup mengagumkan. Semuanya berbaur menjadi satu. Menampilkan gerak-gerik harmonik yang ditata dalam kebebasan idiom disharmoni, disosiasi dan juga differensiasi. Memang, sepintas lalu bisa dikatakan menggairahkan. Walau gairah tersebut bisa saja sangat berbeda artinya.

Riuh tepuk tangan dan sorak sorai, menggema serta bergemuruh dengan cukup meriah. Tak lama kemudian, lampu dinyalakan. Keadaan menjadi terang benderang. Nampak sekali, hampir semua penonton masih terpana dalam kursinya masing-masing. Tapi itu pun tak lama. Satu demi satu segera beranjak. Ada yang langsung meninggalkan ruangan. Sebagian lagi, naik ke atas panggung dan bergabung dengan para wartawan yang ingin menemui Intan. Jabatan tangan dan ucapan selamat dari para penonton, membuat Intan makin terlihat berbunga-bunga.

“Menembus fatamorgana, sangat mengesankan. Seberapa jauh anda menyelami makna dari tarian ini?” tanya seorang wartawan yang sejak tadi tak lepas menatap wajah Intan dengan penuh kekaguman.

“Menembus Fatamorgana adalah pemberontakan saya terhadap sangkar kehidupan yang membatasi setiap gerak langkah. Saya ingin bebas dan terbang dalam awan menuju langit ke-tujuh, bahkan menembus Swarga Maniloka,” jawab Intan, diiringi oleh gurauannya yang khas. Semuanya tersenyum.

“Anda telah mempunyai seorang pacar?” pertanyaan yang mungkin dianggap agak konyol, sebab Intan hanya tersenyum simpul, tanpa berkomentar satu kata pun.

“Apakah anda telah lari, atau melepaskan pengaruh tarian tradisi?” ada yang bertanya lagi dengan nada serius. Intan melirik. Ternyata masih wartawan yang tadi.

“Tidak juga. Sebab keberangkatan saya justru dari tarian tradisi. Saya sangat mengagumi makna tari tradisi. Seperti yang temukan pada tari jaipongan, tari pergaulan ketuk tilu, tari topeng, tari galaksi nongnong atau tari lainnya. Justru ada tarian tradisi seperti itulah, saya bisa menemukan kekuatan wirahma, wiraga dan wirasa pada seni tari.” Jawab Intan seraya mengeluarkan pengetahuan seni tari yang diperoleh di sekolahnya. Membuat semua wartawan mengangguk-anggukan kepala. Ada yang benar-benar mengerti. Ada yang sedikit mengerti. Ada yang pura-pura mengerti. Bahkan tak sedikit yang sama sekali tidak mengerti.

“Ini semua berkat dukungan yang sangat berharga dari ayah saya tercinta.” Begitu yang dikatakan Intan pada akhir perbincangannya. Membuat Raden Jubaedi tertawa dengan riang sambil memeluk tubuh anaknya. Di belakangnya telah berdiri seorang pemuda tampan, yang sedari awalnya duduk di samping Raden Jubaedi. Dalam genggaman tangannya, terselip sekuntum bunga mawar yang masih segar dan harum. Wanginya sempat merasuk hidung orang-orang yang berada di sekeliling Intan .

“Selamat, yah. Tarian adik, begitu mengesankan,” kata pemuda itu, sambil menyerahkan bunganya kepada Intan .

“Terimakasih telah menyempatkan waktu untuk menonton.” Intan kembali mengulaskan senyumannya.

“Sama-sama. Saya pun sangat puas menyaksikannya. Oh, ya, Yanto nama saya,” begitu yang dikatakannya, sambil mengulurkan tangan. Intan pun segera menerima uluran tersebut. Yanto menjabat tangan Intan dengan eratnya. Sejenak Intan termangu, mungkin dikarenakan ada semacam getaran aneh yang merasuki tubuhnya. Hatinya pun berdebar-debar. Apalagi ketika Yanto menatap wajahnya dengan pancaran mata yang begitu teduh.

“Oh, sungguh indah sekali bunga ini…” Intan mengalihkan perhatian Yanto, serta berusaha menyembunyikan perasaan yang bergejolak dalam lubuk hatinya. Matanya dibuat-buat supaya berkesan terbelalak atas bunga pemberian Yanto. Tapi tetap saja, sorot kedua mata Intan, sangat sulit untuk diajak berdusta.

“Kapan adik akan pentas lagi?” tanya Yanto kemudian.

“Mungkin bulan depan. Kalau tidak ada hambatan, saya akan mengadakan pentas keliling ke berbagai kota besar. Tapi itu pun kalau dana hibah seni bisa saya peroleh,”

“Bagaimana kalau perusahaan saya mensponsorinya?” Yanto menawarkan jasa.

“Betulkah itu?” Intan terbelalak, hampir tidak percaya.

“Kenapa harus bohong? Saya yang akan mempersiapkan segala sesuatunya. Bikin saja proposal pertunjukannya secepat mungkin.”

“Terimakasih sebelumnya. Kapankah saya harus menemui Bapak?”

“Jangan panggil Bapak, sebut saja nama saya.”

“Oh, tak mungkin. Saya panggil Mas Yanto aja, yah.”

“Terserah adik.”

“Jadi, kapan euh…saya harus menyerahkan proposal pertunjukannya?”

“Tak usah repot-repot menemui saya. Kalau ada waktu, saya yang akan menemui adik ke rumah. Boleh?” lagi-lagi Yanto membuat Intan semakin bersuka cita.

“Tentu saja. Saya sangat menunggu kedatangan Mas Yanto. Pintu saya selalu terbuka untuk Mas Yanto, kapan pun Mas Yanto akan datang. Bahkan kalau perlu, pintu rumah saya akan dibongkar sekalin, untuk Mas Yanto” Intan menambahkan dengan gurauannya.

Intan terlihat semakin asik berbincang-bincang dengan Yanto. Seakan mereka tidak sadar dengan keadaan malam yang semakin larut. Bahkan semakin memperlebar arah perbincangannya. Tak mempedulikan lagi stage crew yang tengah sibuk membereskan properti. Terlebih lagi, Intan sepertinya belum sadar kalau dirinya masih menggunakan kostum pertunjukan. Tentu saja, kostum tarinya memamerkan setiap lekuk tubuh indahnya. Satu, dua orang laki-laki yang kebetulan melirik ke arah Intan, sempat menelan air liurnya. Termasuk seorang wartawan yang sudah sejak lama memperhatikan setiap gerak-gerik Intan.

Dari lirikan matanya, sebenarnya Intan pun menyadari bahwa ada seorang wartawan yang terus mematainya. Tapi Intan seperti berusaha untuk tidak terlalu menghiraukannya. Sampai pada akhirnya memang wartawan itu membereskan perlengkapannya pada sebuah tas yang cukup besar. Lalu membalikan tubuhnya, dan segera berlalu dari gedung kesenian. Diikuti oleh sepasang mata Intan, sampai menghilang di balik pintu. Beberapa saat lamannya Intan pun seperti terpaku. Dari raut wajahnya terlukis suatu kegundahan yang tersembunyi. Mungkin juga dikarenakan Intan begitu mengenal wartawan itu. Bahkan teramat mengenalnya.

*

“Kau memang seorang ronggeng yang hebat!” ucapnya sambil melepaskan napas yang panjang.

“Sekali lagi mengatakan ronggeng, akan kucekik lehermu!” suara Intan serak dan tertahan.

“Memang benar kau seorang ronggeng. Apa yang salahnya? Ronggeng, penari, atau koreograper, apa sih bedanya? Kenapa seorang penari tak mau disebut ronggeng? Padahal ronggeng itu tidak berarti negatip. Kalaupun ada beberapa orang ronggeng yang suka menjual tubuhnya, itu bukanlah salah ronggeng. Buktinya penari atau koreograper pun…” tak sempat menyelesaikan perkataannya, sebab Intan lebih dulu memotong.

“Nurna, sampai kapan kau akan memperlakukan aku seperti ini?” begitulah yang dikatakan Intan sambil menarik selimut yang berserakan di atas lantai, berbaur dengan pakaiannya. Kemudian Intan menutup bagian tubuhnya dengan selimut itu. Rambutnya yang terurai panjang, masih terlihat sangat kusut tiada menentu. Napasnya pun masih masih bergerak turun naik dengan agak kencang.

“Ini adalah untuk yang terakhir kalinya,” jawab Nurna dengan perlahan. Membuat Intan menjadi terkejut, dan seakan tidak percaya akan perkataan itu.

“Kau bilang apa?”

“Yah, memang ini adalah untuk terakhir kalinya, kita melakukan perbutan terkutuk,” Nurna menegaskan ucapannya.

“Benarkah…?” ucap Intan seraya menatap wajah Nurna, yang masih terbaring di sampingnya dengan raut wajah yang penuh kepuasan. Sedangkan Nurna hanya menganggukan kepalanya saja. Tapi walaupun begitu, tampak sekali reaksi wajah Intan teramat puas. Kedua tangannya memeluk tubuh Nurna yang masih belum ditutupi oleh selembar kain pun.

“Dan kau tak akan mengekspos hubunganku dengan Si Tua Bangka itu?” Tanya Intan lagi sambil mempererat pelukannya. Nurna pun kembali menganggukan kepala.

“Kau telah membebaskan saya?” Intan menambahkan lagi pertanyaannya.

“Yah. Kau bebas dariku, In. Sebab, aku tahu bahwa kau jatuh cinta pada pemuda yang bernama Yanto itu,” barulah Nurna berkata agak panjang lebar, dan membuat Intan tertegun beberapa saat.

“Apakah kau juga tidak akan mengusik hubungan swaya dengan Yanto?” lagi-lagi Intan bertanya dengan penuh kecemasan.

“Tidak. Sama sekali tidak. Hanya saja, ada satu hal yang perlu kau ketahui,” Nurna berbalik menatap Intan dengan pandangan yang sangat aneh.

“katakanlah!” Intan pun terkejut. Dadanya berdebar-debar dengan penuh ketegangan.

“Yanto adalah anaknya… Si Tua Bangka.”

“Apa?!” mata Intan terbelalak.. Sekujur tubuhnya menjadi lemas. Kedua tangannya pun terlepas dengan sendirinya dari tubuh Nurna. Intan tergolek dengan pandangan mata yang kosong. Tiba-tiba Nurna segera bangkit, seraya memunguti pakaiannya yang juga berserakan tiada tentu.

“Kau akan meninggalkanku?” nada suara Intan berubah seketika. Ada setitik air mata yang menetes dan membasahi kedua pipi mungilnya. Membuat Nurna tertegun dan membalikan lagi tubuhnya. Lalu menghampiri Intan, yang masih terbaring diatas tempat tidur.

“Aku memang mau meninggalkanmu, In. Sebab aku tak mau melakukan ini lagi untuk selama-lamanya. Kecuali…” ucapan Nurna terputus. Bola matanya seakan ingin menembus ke dalam dada Intan yang tetap menatapnya dengan pancaran yang sayu.

“Kecuali apa?”

“Kecuali, jika kau melakukannya dengan setulus hatimu. Sebab…sebab, aku telah jatuh cinta padamu. Aku cemburu, In.” begitulah kata yang terucap dari bibir Nurna. Bersama itu pula, serentak kedua tangan Intan memeluk lagi tubuh Nurna. Ada senyuman manis yang tersirat dari bibir Intan. Membawanya pada sebuah nuansa baru, yang penuh dengan keindahan.

“Kau mau menikahiku?” bisik Intan dengan nada yang berharap. Bibirnya hampir menyentuh telinga Nurna. Tak ada jawaban dari bibir Nurna. Hanya ada sebuah kecupan mesra yang dirasakan Intan pada keningnya. Ada sebuah kebahagian yang tidak terlukiskan dalam benak hati mereka. Yang pasti, impian mereka hampir sama. Berpegangan tangan, dan berlari mengejar pelangi. Hijau, kuning, merah, biru, bertaburan menerpa sebuah cinta kasih. ***

Bantar Gebang Setu, 2002-2004

(Dimuat di Majalah Seni Budaya No. 151, Mei 2004)