Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 06-12-2007 |

panduINILAH “musuh bebuyutan” Miftahul Malik. Saya memanggilnya Pandu. Meski usianya lebih tua, tetapi ia tampak awet muda, seperti seangkatan dengan saya, bahkan ada juga yang menyangka lebih muda dari saya. Pandu lahir di Ciamis, 25 Méi 1973. Ia adalah alumnus SMAN Kawali, Kabupaten Ciamis.  Pernah juga kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung, tapi tidak diselesaikan. Tulisannya bagus. Secara pribadi, saya menyukainya. Sajak dan carpon karya Pandu, pernah dimuat di Majalah Mangle, Seni Budaya, KSM Galura, dsb.
Pandu menikah dengan gadis Panjalu. Nah… dari sinilah awal cerita yang mempertemukan saya dengan Pandu. Jadi, ia adalah tetangga saya di kampung halaman. Karena memiliki hobi yang sama, akhirnya saya dan Pandu menjalin sebuah persahabatan. Kalau saya pulang kampung ke Panjalu, saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk menemui Pandu. Tema obrolannya selalu menarik, sehingga saya pun menyukai jalan pikiran Pandu. Dan yang lebih penting, saya mempunyai teman berdiskusi di Panjalu.
Sehari-harinya Pandu bekerja menjadi reporter Koran Priangan. Ia banyak menulis segala yang berhubungan dengan kebudayaan. Pandu juga merupakan sosok yang penuh semangat dan mau bekerja keras. Ia sangat menikmati hobinya melakukan penjelajahan menuju situs atau lokasi yang memiliki nilai historis. Ia sangat serius dalam melakukan penelitian situs bersejarah. Tentang polemik dengan Miftahul Malik, ayo teruskan! Ayo “bertengkar” dalam tulisan. Itu namanya orang intelek.
Pandu juga serius dalam mewawancarai artis. Coba perhatikan keseriusan Pandu (sisi kanan) ketika bareng-bareng mewawancarai artis Edies Adelia di sela-sela acara nyangku. Pertanyaan-pertanyaan yang berat dilontarkan kepada Edies, membuat Edies harus menjawabnya dengan serius pula. Sementara saya lebih asyik membaca body language Edies, karena Pandu yang memborong pertanyaan. He he he… saya baru tahu kalau Pandu pun tertarik dan tampak sangat menikmati wawancara dengan artis cantik.
Di masa yang akan datang, saya meramalkan (sekaligus mendo’akan) Pandu Radea akan menjadi peneliti yang teliti. Agus Bebeng akan menjadi seorang fotograper terbaik. Dadan Sutisna akan menjadi web master ternama. Miftahul Malik akan menjadi Pemimpin Redaksi Galura. Gustom akan menjadi sutradara terkenal. Wawan Hermawan akan menjadi pengusaha matrial yang sukses. Jamaliyah akan menjadi psikolog yang bijak. Atep Kurnia akan menjadi kritikus yang cerdas. Lugina Dea akan menjadi pengarang Sunda ternama.***

DHIPA GALUH PURBA