Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 30-03-2008 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA dan YULIANTO AGUNG
YOSEPH Iskandar, sosok sastrawan motékar telah berpulang ke pangkuan Allah Yang Mahaakbar. Ia menderita komplikasi jantung dan gula, sampai akhirnya meninggal dunia di rumahnya, Kecamatan Ujungberung,
Yoseph adalah satu-satunya sastrawan Sunda yang berhasil mempertemukan sejarah Sunda dengan karya sastra. Ia sangat gigih mengangkat ajén-inajén Sunda melalui karya-karyanya. Ketika naskah Wangsakerta menjadi bahan polemik di kalangan para sejarawan, dengan berani Yoseph menulis novel-novel yang bersumber dari naskah kontroversial tersebut, seperti Perang Bubat (1998), Wastukancana (1990), Prabu Wangisutah (1991), Pamanahrasa (1991), Putri Subanglarang (1991), dan Prabu Anom Jayadéwata (1996).
Yoseph berhasil mereka ulang sejarah ke dalam karya fiksi. Roman sejarahnya, Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana (Unggul Dalam Perang, Sejahtera Dalam Hidup, 1991) mendapat hadiah Sastra Rancagé tahun 1992. Pada tahun 1997, ia mendapatkan kembali hadiah sastra Sunda paling bergengsi tersebut atas romannya yang berjudul Tri Tangtu di Bumi (1996). Biarlah naskah Wangsakerta diragukan kebenarannya, tetapi roman sejarah karya Yoseph Iskandar tidak diragukan lagi kehadirannya. Ia telah merasuk ke dalam hati masyarakat Sunda yang pareumeun obor kepada leluhurnya.
Ketertarikannya pada sejarah Sunda bermula dari kedekatannya pada Saleh Danasamita ketika Yoseph menjabat redaktur di majalah Manglé (1979-1985). Maka, artikel Yoseph mengenai sejarah Sunda pun menghiasi Manglé. Tentu saja, minatnya yang serius terhadap sejarah sangat membantu proses kreatifnya dalam menulis karya sastra.
Seolah tidak mau kalah oleh para sejarawan, Yoseph pun membuktikan diri bahwa ia mampu menulis sejarah. Silakan simak buku Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa) yang diterbitkan Geger Sunten, atau Sejarah Kebudayaan Jawa Barat (empat jilid), Sejarah
Selain menulis prosa, Yoseph Iskandar menulis puisi dan drama Sunda. Sastrawan kelahiran Purwakarta, 11 Januari 1953 ini tercatat sebagai penulis drama berlatar sejarah yang paling produktif. Tengok saja naskah drama berjudul “Ngadegna Pajajaran”, “Pemberontakan Cakrawarman”, “Runtagna Pajajaran”, “Nyi Puun”, “Tanjeur Pajajaran”, “Haji Prawatasari”, dan sebagainya. Ia sangat berperan dalam membangun gairah dan tradisi drama berbahasa Sunda.
Sebagai penulis yang peduli terhadap sejarah, Yoseph pun terbilang peka dalam menyelami realitas sosial di sekitarnya. Silakan tengok naskah drama berjudul “Juag Toéd”, “Haréwos Nu Gaib”, “BOM”, atau “Cucunguk”. Di dalamnya, banyak kritikan pedas nan berani. Pada Festival Drama Basa Sunda (FDBS) IX tahun 2006, “Cucunguk” menjadi naskah drama yang paling banyak dipilih oleh peserta FDBS.
Drama “Juag Toéd” (1984) dipentaskan berkali-kali di Bandung,
Orang teknik
Yoseph Iskandar sebetulnya orang teknik. Selepas SMA, ia meneruskan kuliah ke Akademi Teknik Pekerjaan Umum (ATPU)
Bahkan, selanjutnya Yoseph memilih untuk meninggalkan dunia teknik, demi mendalami sastra Sunda. Bersama sastrawan seangkatannya seperti Eddy D. Iskandar, Godi Suwarna, Juniarso Ridwan, Beni Setia, dan sebagainya, ia mendirikan sebuah organisasi para sastrawan Sunda generasi muda yang bernama Durma Kangka. Saksi dan bukti dari sejarah Durma Kangka di antaranya adalah buku Antologi Puisi Sunda Mutakhir (1980) dan Tumbal (1982).
Nama Yoseph telah terukir pula di bidang pers Sunda dan dunia pendidikan. Selain pernah menjadi redaktur Manglé, ia pun pernah menjadi redaktur tabloid Giwangkara. Sementara itu di bidang pendidikan, Yoseph pernah menjadi dosen di UNPAS, UNTIRTA, dan bahkan di UC
Dari perjalanan karier Yoseph Iskandar, kita bisa menyimpulkan bahwa ia adalah seorang sastrawan yang produktif, penulis sejarah, penggiat teater Sunda, organisator, insan pers yang gigih, dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Di hari-hari terakhirnya, dalam keadaan sakit pun Yoseph masih tetap berkarya, seakan mau nyacapkeun kasono kepada sastra Sunda, sebelum akhirnya harus berpisah untuk selama-lamanya.
Tentu, sangat layak jika Yoseph Iskandar mendapat penghargaan dari pemerintah atas karya-karya dan perjuangannya dalam nanjeurkeun Ki Sunda.***
Dimuat di Rubrik Khazanah HU. Pikiran Rakyat, 28 Maret 2008. Melihat langsung di HU. Pikiran Rakyat.














boleh kirimin aku naskah drama jgn terlalu panjang ke e-mail ku nggak?
Tentu saja boléh mengambil di web ini tanpa harus saya kirim ke e-mail. Terimakasih atas kunjungannya.
DHIPA GALUH PURBA
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)
Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).
JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.
Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.
Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?
Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).
YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).
Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.
SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).
Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.
Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).
Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.
SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).
Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.
Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).
Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.
SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)