Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 19-09-2007 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
“Na, mana
Entah apa yang salah dengan pertanyaanku. Yang pasti, pertanyaan itu membuat wajah Na memerah. Bahkan pertanyaan itu pula yang membuatnya berlari meninggalkanku. Aku hanya mampu menatapnya sambil mematung. Tubuh mungil itu berkelebat di antara derasnya air hujan. Kedua tangannya melenggang bagai selendang bidadari dalam cerita dongeng. Lembut dan putih.
Na terus berlari. Wajahnya lurus ke depan, seolah tak sanggup menoleh dan melihat wajahku. Kakinya yang lurus dan panjang mengayun semakin cepat di atas genangan air, bagai derap kaki kuda liar menyibak air sungai pedalaman
Aku berdiri tak bergeming. Batinku bertanya-tanya. Apakah salah akubertanya kepadanya? Apakah terlalu cepat menanyakan
Na tidak pernah mengatakan bahwa suratku tidak akan dibalas. Namun bukan berarti pula suratku akan dibalas. Buktinya, setelah Na melalui kurun waktu yang cukup panjang, suratku tetap tidak pernah dibalas. Apakah ini berarti guru SMP, guru SMA tidak berhasil mengajarkan surat-menyurat terhadap murid-muridnya? Khususnya kepada Na? Ah, tidak juga. Aku yakin, Na bisa menulis
“Kenapa suratku tidak dibalas?” tanyaku pada suatu siang yang cukup cerah di Masjid Cimahi, ketika kami berjumpa lagi.
“
“Apakah gue harus bales?” Na balik bertanya sambil melemparkan tatapannya ke pekarangan Masjid. Oh, ya, sekarang memang bukan lagi di Masjid Jami Simpar Kesumbar.
Kini Na tidak lagi mengenakan seragam merah-putih. Dia pun tidak berlari ketika aku menanyakan
“
Sebenarnya aku tidak pantas mengatakan hal itu. Buat apa balasan
“Aku tak akan melepaskanmu, Na. Tidak akan!” ucapku dengan tenang. Na mengangguk perlahan.
Detik-detik melaju dengan cepat dan kembali mengubah segalanya. Entahlah, tiba-tiba aku merasakan suatu keraguan di balik langkah Na. Desas-desus yang memuakkan telah menggerogoti perasaan kami. Aku terus maju, untuk membuktikan kekuatan cinta. Namun, rona wajah Na kian meragu, dan akhirnya langkah Na semakin surut ditelan prahara.
“Aku ke
“Inilah
“Legenda cinta Simpar Kesumbar, tidak akan pernah ada!” sungguh memuakkan suara itu. Suara yang sanggup menyurutkan langkah Na. Suara yang kucintai. Suara yang mengharapkan kebahagiaanku.
“Meski demikian, cerita tetap belum berakhir. Masih ada sepenggal harapan, sebelum napasku berhenti, dan sebelum mataku tertutup untuk selama-lamanya…” di sela kepedihanku, masih ada untaian cita-cita. Namun, bukankah sangat berdosa menanti Na saat ini? Sebab bunga Simpar Kesumbar telah dipetik dari tangkainya. Betapa kemilau permata sungguh menyilaukan mata. Tapi itulah realitas yang tidak bisa dipungkiri, bahwa si kumbang tak bersayap tidak akan pernah menjadi pemenang. Siapa bilang tidak ada legenda cinta Simpar Kesumbar? ***
(Dimuat di HU. GALAMEDIA, Sabtu, 7 Januari 2006)







