Kategori: Skenario | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |
20. INT. WARUNG BI ANING. SIANG
Beberapa orang laki-laki sedang duduk sambil meneguk minuman. Mereka tertawa terbahak-bahak. Bi Aning pun wajahnya berseri-seri.
LAKI-LAKI 1
Setiap kali Nyai Layung mengadakan pesta perkawinan, pasti kita semua ketiban rezeki nomplok.
BI ANING
Bukan hanya kita. Tapi seluruh warga Pasir Haur. Lihat aja Si Ujang sejak pagi ngelilingin desa, membagi-bagikan uang dan beras.
LAKI-LAKI 2
Iya. Tapi yang mengherankan, kenapa setiap yang kawin sama Nya Nyai Layung, pasti selalu mati mengenaskan.
LAKI-LAKI 3
Sudahlah. Jangan kau pikirkan itu! Yang penting kita semua bisa bersenang-senang. Betul enggak, Bi?
BI ANING
Betul pisan ieuh. Perkara mati mah, da sudah takdir atuh.
LAKI-LAKI 2
Bukan begitu. Maksudku, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?
LAKI-LAKI 1
Apa kau bilang? Jangan seenaknya kalau ngomong. Ingat ya, kalau saja kau tidak dibantu Nyai Layung, mana mungkin kau bisa hidup dengan enak.
LAKI-LAKI 2
Iya, iya. Aku pun tahu. Tapi aku kan tidak bermaksud mengadukan Nyai Layung ke polisi. Aku hanya ingin melapor saja, bahwa Gan Ocen telah mati.
BI ANING
Tidak usah, nyaho! Jangan suka bikin masalah, bisa-bisa semua warga yang katempuhan buntut maung.
CUT TO
21. INT. RUANG TENGAH RUMAH BI IROH. SIANG.
Insert: Air dari poci kayu, mengucur ke dalam sebuah gelas kayu.
Poci itu dipegang oleh Bi Iroh.
Bi Iroh menyodorkan gelas itu kepada Darma.
BI IROH
Minumlah dulu. Kau akan menempuh perjalanan yang cukup jauh.
DARMA
(Menerima gelas) Terimakasih, Bi. Bibi sangat baik. Entah bagaimana aku membalasnya.
BI IROH
Sudahlah, jangan memikirkan hal itu. Aku senang dapat membantu orang yang membutuhkan. (berhenti sejenak) Tapi, sebaiknya kau tidak membawa kendaraan ke sana.
DARMA
Kenapa, Bi?
BI IROH
Itu akan menjadi perhatian warga Pasir Haur. Sangat berbahaya, jika orang kaya memasuki kampung Pasir Haur.
DARMA
Berbahaya bagaimana, Bi?
BI IROH
Sudahlah. Sebaiknya, turuti saja nasehat Bibi. Kau akan tahu sendiri, jika kau sudah berada di sana.
DARMA
Baiklah, Bi. (seperti teringat sesuatu) O ya, apakah Bibi punya potret Nyai Layung?
Bi Iroh hanya menganggukan kepala.
DARMA
Bolehkah aku melihatnya?
BI IROH
Ada di bawah tempat tidurmu.
Darma kaget. Ia segera beranjak, masuk ke dalam kamar. Lalu ke luar lagi sambil membawa potrt tanpa figura. Darma menatap potret itu. (Padahal potret itu adalah potret Nyai Iswari, bukan Nyai Layung)
DARMA
Cantik sekali adik Bibi ini.
Bi Iroh hanya tersenyum kecut. Tiba-tiba ada tetesan air mata, ketika Darma mengecup poto tersebut.
DARMA
(kaget) Kenapa, Bi? Maafkan aku, jika aku menyakiti perasaan Bibi.
BI IROH
Tidak apa-apa. (memaksakan tersenyum) Apakah kau punya seorang kekasih?
DARMA
(Menggelengkan kepala) Tak tahu lah. Aku mengalami trauma psikologis setelah pacarku menikah dengan laki-laki lain. (Ragu) Apa adik Bibi sudah punya seseorang yang akan…
BI IROH
(memotong) Sudah.
Darma tersenyum kecut. Ada ekspresi kekecewaan yang tergambar di wajahnya.
DARMA
Aku mau berangkat sekarang.
BI IROH
Hati-hati di perjalanan. Kau baru akan sampai ke Pasir Haur pada malam hari.
DARMA
Terimakasih, Bibi.
Darma menyalami Bi Iroh, serta mencium tangannya. Bi Iroh. Ia mengusap rambut Darma.
BI IROH
Pergilah…
Darma segera beranjak menuju pintu ke luar.
Insert: Bi Iroh menatap Darma dengan penuh ekspresi. Matanya lalu berputar ke arah potret yang tergeletak di atas meja.
Bi Iroh memungut potret itu. Lalu menatapnya dengan penuh ekspresi.
Insert: Potret Iswari.
DISOLVE TO
22. EXT. JALAN DESA. MALAM.
Darma tengah berjalan dengan tenang. Tampak ia menggendong tas berukuran besar.
Insert: Dari balik pohon, Nyai Layung memperhatikan Darma.
Ketika Darma sudah melewati pohon persembunyian Nyai Layung, tiba-tiba Nyai Layung keluar.
NYAI LAYUNG
Akang…!
Darma terkejut sambil membalikan tubuhnya. Ia mengerutkan keningnya, menatap Nyai Layung. Keduanya saling berpandangan mata.
Tiba-tiba sebuah mobil meluncur dari belakang Darma. Lalu berhenti tepat di dekat Nyai Layung. Penumpangnya (Andi) segera turun dari dalam mobil dengan tergesa-gesa.
ANDI
Mojang Priangan nu geulis kawanti-wanti, éndah kabina-bina. Mau ke mana gerangan malam-malam begini? Tadi akang ke rumah nyai, tapi nyai tidak ada. Pantasan, nyai tersesat di sini geuningan.
Insert: Darma membuang mukanya. Lalu berjalan lagi, meninggalkan tempat tersebut.
Nyai Layung. Kecewa. Tapi ia menyembunyikannya. Nyai Layung menatap Andi.
NYAI LAYUNG
Akang ini siapa?
ANDI
Oh, iya, hampir saja lupa. Nepangkeun, nama akang mah Andi. Akang teh sangat menyukai tarian bajidor. Apalagi kalau melihat Nyai menari, akang mah suka kebawa mimpi. Pokoknya akang teh fans berat Nyai lah, ari kudu dibejer-beaskeun mah.
NYAI LAYUNG
O ya? Terimakasih, Kang Andi. Tapi saya harus segera pulang.
ANDI
Alah, masa sih wayah begini udah mau pulang? Mending ikut Kang Andi saja. Mau kan?
Nyai Layung menggelengkan kepalanya. Tapi Andi dengan sigap memegang tangan Nyai Layung. Lalu memapahnya ke pintu mobil.
ANDI
Ayolah, jangan takut. Aku bukan laki-laki jahat.
Nyai Layung akhirnya menurut, naik ke mobil Andi. Tentu saja Andi sangat girang. Ia pun naik ke mobil. Lalu mobil pun melaju dengan cepat.
CUT TO
. 23. INT. DI DALAM MOBIL ANDI. MALAM.
Andi sibuk menyetir mobil. Namun matanya terkadang melirik ke arah Nyai Layung, yang duduk dengan tenang.
ANDI
Nyai Layung. Namamu sungguh begitu indah. Aku suka menerawang di villaku pada wanci sariak Layung. O ya, mungkin kau lahir di saat wanci sariak Layung?
Nyai Layung hanya tersenyum
ANDI
Atau ibumu menyukai Carpon Sunda karya Dadan Sutisna, yang berjudul Layung Kemba?
Nyai Layung tetap diam. Ia hanya meresponnya dengan senyuman.
ANDI
Atau juga, ibumu pengagum Mang Koko, yang menyanggi kawih Sariak Layung karya Dedi Windiagiri?
NYAI LAYUNG
Kau bisa menyanyi lagu Sariak Layung?
ANDI
Tentu saja. Aku sangat menyukainya. Apalagi setelah mengenalmu. Aku akan lebih menyukainya.
NYAI LAYUNG
Aku ingin mendengarnya
ANDI
(menyanyikan lagu Sariak Nyai Layung, tapi terkesan sumbang) Sariak Layung di gunung, iber pasini patepung lawung. Teuteup jauh ngawangwang nu dipigandrung, eh… ngawangwang nu dipigandrung aduh.
Nyai Layung tertawa.
CUT TO
05 24. EXT. HALAMAN VILLA. MALAM.
Tampak sebuah Villa yang cukup bagus dengan taman bungan yang sejuk.
Mobil Andi memasuki halaman Villa tersebut. Andi turun. Lalu membukakan pintu kiri mobil. Nyai Layung turun dari mobil dengan ekspresi yang ragu.
ANDI
Percayalah, aku tak akan menyakitimu.
NYAI LAYUNG
Apakah istrimu tidak akan marah?
ANDI
Ha ha ha… Aku belum punya istri. Ayolah kita masuk.
NYAI LAYUNG
Kau masih perjaka?
ANDI
Tentu saja atuh, Nyai. Yang namanya belum kawin, ya pasti masih perjaka tulen.
Andi memegang tangan Nyai Layung, dan membawanya masuk.
CUT TO
25. INT. WARUNG BI ANING. MALAM.
Darma sedang makan dengan lahapnya. Bi Aning menyodorkan minuman ke meja Darma.
DARMA
Bi…
BI ANING
Iya, Den. Mau tambah nasinya?
DARMA
Tidak, Bi. Aku hanya mau tanya, apakah Bibi kenal pada… euh.. (ragu)
BI ANING
Siapa, Den? Katakan saja atuh, tidak usah ragu-ragu.
DARMA
Nyai Layung.
BI ANING
Tentu saja atuh, Aden. Semua orang Pasir haur mah, pasti bakal kenal sama Nyai Layung. Tapi… yang lebih hebat mah Nyai Iswari. Belum ada yang bisa menandingi kepandaian ngaronggeng Nyai Iswari. Sayang sekali…
DARMA
Kenapa, Bi?
BI ANING
Nyai Iswari mah sudah mati. Dia menceburkan diri ke sungai.
DARMA
Innalillahi Wa Inna Illaihi Roziun. Lalu, Bibi tahu rumahnya Nyai Layung?
BI ANING
Tentu saja atuh, Aden. (Melihat ke luar) Tuh geuningan ibunya Nyai Layung, kayanya baru pulang ngabagi-bagi uang.
DARMA
Membagikan uang?
BI ANING
Iya, Aden. Nyai Layung mah pokona is the best. Sudah cantik teh, jaba béréhan deuih. Tukang ngabagi-bagi harta.
CUT TO
26. EXT. JALAN BESAR, DEPAN WARUNG BI ANING. MALAM.
Insert: Mak Ijah sedang berjalan sambil membawa keranjang yang sudah kosong.
Darma berlari-lari kecil menghampiri Mak Ijah.
DARMA
Mak…!
MAK IJAH
Saha ieu teh nya? (sambil meletakkan keranjang belanjaannya)
DARMA
Namaku Darma. Aku mendapat petunjuk dari Bi Iroh untuk menemui Emak. (sambil meraih tangan Mak Ijah, menyalami dan menciumnya)
(Mengerutkan keningnya) Saha Bi Iroih téh?
DARMA
(Kaget) Bukankah… bukankah… Bi Iroh itu anak Emak?
MAK IJAH
Anak? Anak ti mana horéng? Emak mah teu boga anak nu ngaranna Iroh.
Mak Ijah mengambil lagi keranjangnya. Lalu beranjak pergi, meninggalkan Darma.
Insert: Darma menatap Mak Ijah dengan bingung. Lalu Darma masuk lagi ke dalam warung Bi Aning.
CUT TO
27. INT. WARUNG BI ANING. MALAM.
Cont. Scene. 22
Bi Aning menatap Darma dengan keheranan, bercampur rasa kasihan.
BI ANING
Apakah, apakah…dia tidak kenal sama Aden?
DARMA
Dia memang tidak akan mengenaliku. Tapi yang membuatku heran, kenapa dia tidak mengenal anaknya sendiri?
BI ANING
Maksud Aden, dia sudah lupa sama Nyai Layung? Ah, piraku…
DARMA
Bukan Nyai Layung. Tapi Bi Iroh, kakaknya Nyai Layung.
BI ANING
Ké, ké, ké, kélanan… Da Nyai Layung mah asa tidak punya kakak, da dia mah anak cikal. Punya adik satu juga, sekarang mah sudah mati, ya Nyai Iswari itu. Mungkin Aden salah.
DARMA
Nyai Iswari? Aku benar-benar bingung. O ya, di mana tempat tinggal Mak Ijah itu? Aku akan menyusul ke rumahnya.
BI ANING
Mak Ijah mah sudah tidak punya rumah, da kahuruan. Sudah lama juga dia téh tinggal di rumah anak sekaligus majikannya.
DARMA
Majikannya?
BI ANING
Iyah, Nyai Layung teh apan anaknya Mak Ijah, sekaligus majikannya juga.
DARMA
Terimakasih, Bi. (merogoh sakunya) Jadi berapa semuanya, Bi?
CUT TO



