Kategori: Skenario | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |
12. INT. RUANG PRAKTEK DUKUN. MALAM.
Bah Dinta (dukun) sedang konsentrasi membaca mantra sambil memejamkan matanya. Di hadapannya, Intan duduk dengan tegang.
F.S: Bah Dinta terperanjat.
INTAN
Bah Dinta tampak tegang, tetapi berusaha tersenyum.
BAH DINTA
Tidak, tidak ada apa-apa. Oh, ya, apa tadi masalahmu?
INTAN
Aku benar-benar sakit hati, Bah. Cukup lama aku membina hubungan dengan Gan Ocen. Tapi akhirnya sia-sia belaka. Malam ini, Gan Ocen sedang melalui malam pertamanya dengan Nyai Layung.
BAH DINTA
(kaget) Jadi kamu punya masalah dengan Gan Ocen? (kemudian dia terkekeh-kekeh) Tapi itu bukan masalah besar. Maung ngamuk, gajah meta, Abah selalu siap menghadapinya! Apalagi hanya urusan cinta.
INTAN
Terimakasih, Abah.
BAH DINTA
Apa yang kau inginkan sekarang? Katakanlah. Tidak usah ragu-ragu. Abah dan seluruh karuhun Pasir Haur, pasti akan membantumu.
INTAN
Hanya satu, Bah. Aku ingin membunuh Nyai Layung dengan tanganku sendiri.
BAH DINTA
Ha ha ha…hanya itu?
INTAN
Iya, Abah. Karena itu aku mohon petunjuk abah, bagaimana caranya agar niatku itu bisa kesampean..
BAH DINTA
Ingat, Neng, Nyai Layung itu memiliki ilmu sakti. Dia hanya bisa dikalahkan dengan keris Karang Pati ini (memperlihatkan sebuah keris). Abah akan memberikan keris ini buat Eneng, tapi…
INTAN
Tapi apa, Bah?
ABAH
Mas kawinnya agak mahal.
INTAN
Katakan, Abah. Berapa pun akan aku bayar.
Intan membuka tas-nya. Lalu mengeluarkan segepok uang.
INTAN
Uang ini untuk Abah.
Bah Dinta dengan sigap menerimanya. Lalu memasukan ke dalam kolornya.
BAH DINTA
Abah sebenarnya tidak butuh uang, hanya sebagai sarat saja. Uang ini semuanya akan dipersembahkan kepada karuhun abah. Untuk Abah sendiri, Eneng boleh memberi berapa saja seridonya.
Intan mengeluarkan lagi uang, dan menyerahkannya kepada Bah Dinta.
INTAN
Terimalah, Bah. Ini untuk abah.
BAH DINTA
(malu-malu) Apa Eneng punya untuk ongkos pulang?
INTAN
Uangku masih banyak, Bah.
BAH DINTA
Baguslah kalau begutu. Tunggu sebentar.
Bah Dinta berkonsentrasi lagi.
BAH DINTA
(membaca jampe-jampe) Nini-Aki Brajaneluh, Nini Adag-Idig, Aki Adag-Idig nu calik di kolombéran. Sang beledug ireng nu calik di tengah imah. Nini Épor-Épor, Aki Épor-Épor…
CUT TO
13. EXT. JALANAN DESA. MALAM.
Nyai Leunyay melayang dengan geram.
CUT TO
14. INT. DI DALAM MOBIL DARMA. MALAM.
Bi Iroh bersandar di jok mobil, sebelah Darma. Tiba-tiba matanya terbuka perlahan-lahan. Lalu memperhatikan keadaan sekelilingnya. Pandangannya berakhir ke arah Darma.
Darma melirik Bi Iroh. Tampak makin jelas, wajah Bi Iroh yang banyak bintik hitam di wajahnya, mengganggu kecantikannya.
BI IROH
(Suaranya lemah) Emh, ssiapa kau? Mengapa? Mengapa aku berada di sini?
DARMA
Sukurlah kalau sudah siuman. Maafkan aku, Bi. Tadi aku tidak sengaja menabrakmu.
Bi Iroh mengerutkan keningnya, seperti mengingat-ngingat kejadian yang telah dialaminya.
BI IROH
Lalu, lalu, mau dibawa ke mana… aku mau dibawa ke mana?
DARMA
Bibi memerlukan perawatan seorang dokter. Aku mau membawa bibi ke rumah sakit.
Bi Iroh terkejut. Ia memaksakan bangkit.
Darma menginjak rem mobil.
DARMA
Kenapa, Bi?
BI IROH
Bibi tidak apa-apa. Tidak usah ke rumah sakit. Tempatnya pasti sangat jauh.
DARMA
Tenanglah. Aku tidak punya maksud jahat. Percayalah…
BI IROH
Bukan begitu, Nak. Bibi percaya padamu. Namun Bibi akan merasa lebih senang, jika Bibi diantarkan saja ke rumah.
DARMA
Di sebelah mana rumah Bibi?
BI IROH
Rumah Bibi di Cijéngkol..
DARMA
Cijéngkol?
BI IROH
Tampaknya kau orang baru, Nak. Maju saja dulu. Nanti kau akan menemui pertigaan jalan. Beloklah ke arah kiri. Rumah Bibi tak jauh di sana. Tapi, tapi, mobilnya tidak bisa sampai ke pekarangan.
DARMA
Tidak apa-apa, Bi.
Darma menyetir lagi mobilnya. Bi Iroh kembali berbaring di jok mobil
DISOLVE TO
15. INT. RUANG PRAKTEK DUKUN. MALAM
Cont. Scene. 12
Bah Dinta sedang konsentrasi. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya. Bah Dinta nampak terkejut. Terus dia mengedarkan tatapannya ke sekelilingnya lagi. Kemudian dia menatap ke arah Intan.
BAH DIANTA
Jangan mengganggu Abah. Kalau Abah lagi baca mantera.
INTAN
Saya tidak mengganggu, Abah
BAH DINTA
Lalu siapa? Di ruangan ini cuma kita berdua, tidak ada orang lain.
INTAN
Memang tidak ada orang lain, Bah. Tapi sungguh saya tidak mengganggu Abah..
BAH DINTA
Ya, sudah. (bah Dinta kembali konsentrasi) Aki Epor-Epor! Nu ti wétan ka kulonkeun, nu ti kulon kawétankeun. Nu ti kalér kakidulkeun, nu ti kidul kakalérkeun. Sato, jurig, genderewo, siluman-silemin, diu, bandawasa, ulah sirik pidik, jail kaniaya.
(Membuka matanya sejenak) Siapa nama lengkapmu?
INTAN
Intan Risna Yuswana.
BAH DINTA
Binti?
INTAN
Cahyo Yuswana.
BAH DINTA
Lahir?
INTAN
25 Oktober 1977.
BAH DINTA
Maksud Abah, Kau lahir hari apa?
INTAN
Selasa, Bah.
BAH DINTA
Hobi?
INTAN
(mengerutkan keningnya) Shoping, Berenang, nonton, dan dengerin musik.
Bah Dinta memejamkan lagi matanya. Membaca mantra lagi.
BAH DINTA
Nini aki Brajaneluh pangriksakeun ieu budak nu ngaranana Intan Risna Yuswana Binti Cahyo Yuswana, wedal poé Salasa, hobina shoping, berenang, nonton, dan dengerin musik. Pur katuhu, pur kenca, pur luhur, pur handap, pur gigir, pur dig-dig pur, pur dig-dig pur!
Bah Dinta meniup keris tiga kali. Lalu membuka matanya.
INTAN
Sudah, Abah?
BAH DINTA
Sudah. Tapi…
INTAN
Apa lagi, Bah? Apa uangnya masih kurang?
BAH DINTA
Bukan, bukan itu maksud Abah. Sekali lagi, Abah tidak butuh uang.
INTAN
Lalu, apalagi, Bah?
BAH DINTA
(menatap tubuh Intan) Pusaka ini harus Abah kawinkan dengan jiwa raga Eneng.
INTAN
Maksud abah?
BAH DINTA
Maafkan Abah, Neng. Yang namanya kawin, tentunya harus ada mas kawin…
INTAN
Lho, tadi kan mas kawin-nya sudah?
BAH DINTA
Ya, mas kawinnya memang sudah. Tapi, apakah Eneng tahu, bahwa setiap kawin itu ada yang namanya malam pertama?
INTAN
(wajahnya memerah) Maksud Abah… Aku harus…
BAH DINTA
Itu pun jika Eneng benar-benar mau memiliki pusaka ini.
Intan tampak bimbang. Namun akhirnya hati Intan luluh. Intan membuka kancing bajunya satu persatu. Bah Dinta tidak sabar. Bah Dinta langsung menyerbu tubuh Intan.
Selang beberapa saat, ruangan praktek dukun bergetar dengan hebat. Semua barang yang ada di ruangan berhamburan. Hancur berantakan. Lalu muncullah Si Leunyay.
Dengan sadis, Si Leunyay membunuh Bah Dinta dan Intan. Tubuhnya dicabik-cabik oleh kuku tangannya yang panjang dan tajam.
SI LEUNYAY
Hi hi hi…
DISOLVE TO
16. EXT. JALANAN DESA. MALAM.
Si Rewok dan Si Cebol sedang berlari dengan cepat. Tiba-tiba muncul Si Leunyay di hadapannya. Mereka terkejut. Tapi mereka bersiap-siap untuk melawan Si Leunyay.
SI LEUNYAY
Malam ini, tamatlah riwayat kalian.
Si Leunyay menyerang Si Cebol. Dalam waktu singkat, Si Cebol dicekik lehernya sampai mati. Si Rewok berusaha menyelamatkan Si Cebol, tapi tubuhnya malah terpental.
Si Rewok menguhunus keris pusaka.
REWOK
Ayo! Majulah Iblis!
Si Leunyay menyerang, tapi serangannya kandas, karena Si Leunyay ketakutan oleh sinar yang memancar dari keris pusaka. Namun Si Leunyay tidak putus asa. Dia bersiap-siap untuk menyerang kembali Si Rewok.
O.S: Suara kokok ayam jago.
Si Leunyay terkejut. Dia menatap ke langit. Tampak sudah ada fajar. Dia meringis. Lalu cepat-cepat menghilang. Rewok bermaksud mengejarnya, tetapi Si Leunyay lebih cepat menghilang. Rewok pun segera menghampiri mayat Si Cebol. Lalu menyapu wajahnya. Si Rewok berdiri, lalu pergiri meninggalkan tempat tersebut.
DISOLVE TO
17. EXT. HALAMAN RUMAH BI IROH. PAGI.
Nampak Darma sedang berlatih bela diri. Gerakannya lincah dan bertenaga.
CUT TO
18. INT. RUANG TENGAH RUMAH BI IROH. PAGI.
Bi Iroh masih menata makanan di meja yang baru saja dibawanya di atas baki. Darma masuk.
DARMA
Maaf, Bi. Karena udara di sini sejuk, saya jadi ingin berolaraga. Padahal sudah lama saya tidak olah raga.
BI IROH
Anak muda seperti kamu tidak pantas masuk ke Kampung Pasir Haur. Apakah di kota tempat tinggalmu sudah kehabisan perawan? Lagi pula, seluruh gadis cantik di Pasir Haur, pastilah seorang ronggeng.
DARMA
Memangnya kenapa kalau ronggeng, bi? Apa bedanya ronggeng dengan penari atau sinden?
BI IROH
Aku yakin kamu sendiri sudah tahu bedanya. Ronggeng kan selalu disamakan dengan wanita penghibur yang bisa diajak berbuat apapun.
DARMA
Maksud Bibi, ronggeng selalu disamakan dengan seorang pelacur?
BI IROH
Memang begitu pandangan orang selama ini.
DARMA
Saya tidak sependapat dengan pandangan orang selama ini. Karena tidak semua ronggeng itu pelacur. Kalaupun ada ronggeng yang jadi pelacur, itu pasti orangnya yang salah jalan, bukan ronggengnya.
BI IROH
Kamu yakin dengan pendapatmu itu?
DARMA
Saya kemari agar saya bisa lebih meyakininya. Saya sedang menyusun skripsi tentang ronggeng, Bi.
BI IROH
Kalau kamu ingin mencari ronggeng yang baik seperti yang kamu bayangkan, rasanya kamu salah melakukan penelitian di kampung Pasir Haur ini. Memang jaman dulu, waktu nenek bibi masih hidup, ronggeng di sini sangat terkenal kelembutan dan sopan santunnya. Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda. Seorang ronggeng harus selalu siap menjalankan hal-hal yang berbau mesum. Ia harus selalu bersedia menjadi penari, penyanyi sekaligus penghibur.
DARMA
Apa bibi juga dari keluarga ronggeng? Kelihatannya bibi tahu betul kehidupan ronggeng.
Bi Iroh mengangguk.
BI IROH
Terutama emak dan adik bibi.
DARMA
Lalu, di mana mereka sekarang? …
BI IROH
Saat ini, mereka berdua tinggal di Pasir Haur.
DARMA
Siapa nama adik bibi?
BI IROH
(Ragu) Nyai Layung.
CUT TO
19. INT. RUMAH NYAI LAYUNG. SIANG..
Nyai Layung tampak sedang berpikir dengan keras.
Mak Ijah (ibunya) muncul sambil membawa gelas di atas baki.
MAK IJAH
(sambil meletakan gelas) Di jaman sekarang, mencari seorang lelaki yang benar-benar perjaka itu sangat sulit. Meskipun statusnya belum kawin, belum terntu dia itu masih perjaka.
NYAI LAYUNG
Aku harus mendapatkannya, Mak.
MAK IJAH
Terserah kau saja. Emak tak akan menghalangi niatmu, asalkan kau merasa senang dan puas.
Nyai Layung tersenyum
CUT TO







