Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 06-12-2007 |

malikBERBEDA dengan Agus Bebeng, Miftahul Malik sangat memperhatikan penampilannya. Pakaiannya selalu rapi dan memperhatikan keselarasan perpaduan warna. Bicaranya lancar dan memiliki pengetahuan yang cukup luas. Ngobrol masalah apapun, pasti akan selalu nyambung. Bicaranya sangat meyakinkan.
Saya memanggilnya “Malik”. Ia memang lebih akrab dengan sapaan Malik. Sehari-harinya bekerja menjadi redaktur kesenian Koran Sunda Mingguan (KSM) Galura (group Pikiran Rakyat). Persahabatan dengan Malik terjalin secara alami, seperti air yang mengalir. Saya sering bolak-balik ke kantor KSM Galura untuk mengambil honor tulisan. Tentu, saya sering bertemu dengan Malik. Bermula dari saling menyapa, ngobrol barang sebentar, bercanda, bertukar pikiran, dan tanpa terasa terjalinlah hubungan persahabatan.
Setelah kenal cukup lama, saya mulai berkunjung ke rumah kontrakannya. Sebaliknya, Malik pun berkunjung ke Pondok Mustika (kostan saya di Jl. Manisi, Cibiru,  sebelum saya pindah ke Ranggon Panyileukan). Ketika saya pindah ke Ranggon Panyileukan, Malik sering berkunjung. Saya pun menjadi tahu, ternyata ia sangat pandai memasak. Saya senang kalau Malik berkunjung, karena ia pasti mau memasak. Termasuk mencuci piring, menyapu lantai, dan membereskan isi rumah. Pokoknya ia sangat pandai mengerjakan pekerjaan perempuan. Bahkan belakangan saya pun tahu, Malik adalah seorang ahli di bidang pertamanan. Ia tahu karakteristik bermacam bunga, dan bisa membuat taman. Cita-citanya pun ingin menjadi penata taman. Ia pernah ikut pelatihan pertamanan yang digelar oleh Persatuan Arsitek Lansekap Indonesia. Hasil dari pelatihan tersebut, Malik pernah mendapat borongan membuat taman yang bernilai puluhan juta rupiah. Namun setelah merampungkan proyek itu, sampai hari ini Malik belum mendapat order lagi. Jadi, siapa saja yang mau membuat taman, silahkan kontak Miftahul Malik. Hasilnya pasti memuaskan. Sebab, ada perpaduan dengan jurnalistik, sastra, dan masak-memasak.
Meski banyak beban di pundaknya, tetapi pengarang asli Garut ini tidak pernah terlihat murung apalagi mengeluh. Ia tetap bersemangat menjalani hidup dan selalu penuh dengan berjuta harapan. Ide-nya banyak, meski hanya berkutat pada teori. Ide-idenya jarang yang direalisasikan.
Tulisannya bagus. Cukup sistematis dan kritis. Belakangan tulisannya di HU. Pikiran Rakyat tentang dalang, “dibantai” habis-habisan oleh Pandu Radea. Tapi Malik sangat berbesar hati. Ia bersyukur tulisannya dibaca dan dikritisi. Bahkan ia berjanji akan mentraktir makan kepada Pandu, jika suatu kali dipertemukan secara langsung. Itu adalah cara yang berpikir yang bagus. Dalam tulisan, tidak apa-apa “saling membantai”, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak sampai bermusuhan. Apalagi Pandu pun termasuk dalam daftar sahabat saya. Lebih baik, teruskan berpolemik di surat kabar: Malik VS Pandu. Sementara kali ini saya hanya akan menjadi penonton saja.
Foto Malik (sebelah kiri) diambil di sebuah hotel di kawasan Lembang, ketika saya dan Malik menjadi peserta lokakarya alih bahasa UUD 1945 ke dalam bahasa Sunda. Lihat saja ekspresi wajahnya. Ia adalah seorang wartawan yang selalu bersemangat. Kelemahan Malik hanya satu: terlalu penakut berhadapan dengan tunangannya. Jadi, kalau berurusan dengan hal-hal yang berbau wanita, Malik selalu lebih awal menghindar. Pada suatu ketika, Malik pernah diajak untuk investigasi ke sebuah rumah kost PSK. Ia tampak ketakutan, dan meminta pulang lebih awal. Yaaa… ia memang sangat takut terhadap tunangannya. Bulan Februari mendatang, tepatnya tanggal 7, usia Malik genap 33 tahun. Tapi sampai hari ini, saya belum mendengar kapan rencana pastinya untuk menikah dengan tunangan yang sangat ditakutinya itu.
Di masa yang akan datang, saya meramalkan (sekaligus mendo’akan) Miftahul Malik akan menjadi Pemimpin Redaksi Galura. Agus Bebeng akan menjadi seorang fotograper terbaik. Dadan Sutisna akan menjadi web master ternama. Pandu Radea akan menjadi peneliti yang teliti. Gustom akan menjadi sutradara terkenal. Wawan Hermawan akan menjadi pengusaha matrial yang sukses. Jamaliyah akan menjadi psikolog yang bijak. Atep Kurnia akan menjadi kritikus yang cerdas. Lugina Dea akan menjadi pengarang Sunda ternama.

DHIPA GALUH PURBA