Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 11-08-2008 |
Sajak DHIPA GALUH PURBA
Di tepi jurang kehancuran
aku berdiri termangu dalam bisu
sebelum melangkah menuju
batas penghabisan
biarkan mata ini menatap
dan tetap menyembunyikan ratap
Tak akan mata ini bertanya meski hanya isyarat
pada rindangnya pohon
pada air, pada awan, pada rerumputan
sebab semua tlah membisu
ada yang berselimut ragu
ada yang bersarung senyum
ada yang bercadar tawa riang
ada yang memendamkan iba
ada yang meliuk haru
tapi semua tak bersuara
membisu semua
semua membisu
bisukah semua?
semua buta
membuta semua
butakah semua?
Nun di dasar jurang kehancuran
ada setitik luka yang tersenyum
ia tidak bisu, tidak buta
bisikan jiwa kukirimkan padanya
ia mendengar, ia melihat:
wahau setitik luka, beginilah ceritanya:
aku bercinta dengan pelangi yang membentang
dari langit dusun embun sampai ke langit Amerika
kami lalui dengan irama warna-warni nan indah
ku bawa pelangi bertengger di atas pohon
berenang di air sejuk
bergumul di rerumputan
kukenalkan pada awan, bintang, bulan
angin, tanah, dan semuanya…
namun tiba-tiba pelangi hilang warnanya…
wahai setitik luka, salahkah aku bercinta dengan pelangi?
meski ia terlalu tinggi untuk kugapai
meski ada cinta lain di lubuk hati
bukankah aku bebas memilih warna di dunia ini
sebab aku belum memutuskan memiliki sebuah warna
untuk menyusuri hari-hari yang penuh arti
bahkan sampai detik ini
setelah pelangi kehilangan warna-warni
setelah pelangi ingkari janji
setelah pelangi ditelan mentari
di tepi jurang kehancuran
kututup erat mataku
terpejam mataku
mataku terpejam
tiba-tiba kulihat pelangi membentang penuh warna
berwarna pelangi itu
pelangi bercengkrama dengan pohon rindang
pelangi bercengkrama dengan ranting
bercengkrama dengan dedaunan
bercengkrama dengan air
bercengkrama dengan rerumputan
bercengkrama dengan mega
bercengkrama pelangi itu
pelangi itu bercengkrama
dengan semua yang telah kukenalkan
pada pelangi
pelangi
Pe
La
Ngi
Pelan-pelan
Lambat-laun
Ngilang
Kulihat lagi setitik jiwa yang besar di dasar jurang kehancuran
jiwa besar yang setitik
ia tersenyum dan berkata:
jembatan itu tidak akan rapuh selamanya
jembatan itu sangat kuat
kuat jembatan itu
hanya orang kuat
yang jadi jembatan
jembatan
Jem
Ba
Tan
Jemari
Bagiku
Tantangan
Jemari bagiku tantangan
Tantanganku jemari
Jemari
Hidupmu di ujung jemarimu!
Demikian kata setitik jiwa besar
Setitik luka berpelukan dan
Bergumul dengan setitik jiwa besar
Hingga bibirku mulai tersenyum
Merelakan hilangnya warna pelangi
Aku tengadah dan tersenyum kepada-Nya
Ia tempatku berlindung dari angin gurun dan badai kehidupan
Kasih-Nya sangat agung
dimana ada kegagalan, disitu selalu ada keberhasilah
dimana ada luka, disitu ada bahagia
dimana ada hinaan, disitu ada pujian
dimana ada kesengsaraan
maka selepasnya: adalah kemudahan…
Ranggon Panyileukan, 11 Agustus 2008




Betapa mengris-ngiris kalbuku kisahmu itu,
siapa gerangan yang membuat hidupmu begitu murung?
Bukankah ungkapan Sunda mengatakan, “Lalaki Lalanang Jagat?”
Tak usah itu sedih bersetia di sisimu, tak usah itu perih bersemayam di rasamu.
Bahwa hidup itu seperti ini, susah senang silih berganti, cinta benci pun tipis batasnya, seperti tirai kelambu pengantin baru.
He he he… itu bukan kisah saya. hanya coretan dalam rangka belajar membuat sajak.
DHIPA GALUH PURBA
Puisinya… Sumpah. Bagus!
Atas nama pelangi
Biasnya samar
karena terlalu sering bergradasi
Hingga menjadi sunyi