Kategori: Simpay Dipawikarta | Diterbitkan pada: 18-10-2007 |

Kampung Simpar merupakan salah satu bagian dari desa dan kecamatan Panjalu. Konon, puluhan tahun yang lalu, Simpar merupakan sebuah Desa sampai pada tahun 1908. Ketika Simpar masih merupakan desa, yang menjabat kuwu adalah Bapak Paranadinata (Alm). Merupakan sosok pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan. Sangat mencintai dan menyayangi masyarakat. Tak heran jika Bapak Paranadinata terpilih menjadi kuwu Simpar selama kurang lebih tujuh tahun.
Dari pernikahan Bapak Paranadinata dengan Ibu Minda, gumelarlah putra tunggal yang kemudian diberi nama Muhammad Nas Dipawikarta. Sosok laki-laki yang mengikuti garis dari ayahnya. Peribahasa Sunda mengatakan Téng manuk téng, anak merak kukuncungan. Bapak Muhammad Nas Dipawikarta pun menjabat lurah kampung Simpar.
Bapak H. Muhammad Nas Dipawikarta bersanding dengan bunga mekar kampung Simpar. Sebut saja Ibu Siti Mariyah (Alm), putra sulung Bapak H. Mukhtar (Alm). Waktu itu, menurut cerita orang tua, Ibu Siti Mariyah merupakan sosok gadis jelita yang menjadi rebutan para kawula muda. Namun yang berhasil meluluhkan hatinya hanya Bapak Muhammad Nas Dipawikarta. Akhirnya Ibu Siti Mariyah dan Bapak Muhammad Nas Dipawikarta unggah ka balé nyungcung, merajut mahligai perkawinan.
H. Muhammad Nas Dipawikarta telah menjadi haji dengan dibadalkan ketika Tuti Sunarti (Tunang), cucunya dari E. Asikin Dipawikarta, melaksanakan ibadah haji pada tahun 2005.
Bapak H. Muhammad Nas Dipawikarta melahirkan 13 orang keturunan. Dua diantaranya meninggal waktu masih bayi, yaitu putra ke-6 yang bernama Kania Binarum dan putra ke-10 yang bernama Darpi. Selenngkapnya adalah sebagai berikut:
1. Encang Permata Ningrum (Ibu Encang)
2. Purwa Dinata
4. Siti Madfuah
6. Kania Binarum (meninggal dunia saat masih bayi)
8. Hj. Siti Mariah (Mah Enang)
9. Bahrum
10. Darpi (meninggal dunia saat masih bayi)
11. Suwarna
Kini, sebelas putra-putri Bapak Muhammad Nas Dipawikarta telah melahirkan generasi selanjutnya. Namun, dari sebelas orang putra-putri, hanya tinggal seorang yang masih hidup, yakni Hj. Enang (Mah Enang). Semuanya telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.
Penelusuran keturunan Bapak Muhammad Nas Dipawikarta, dimaksudkan untuk mempererat dan atau menyambungkan simpay keluarga, agar tidak pareumeun obor. Sampai saat ini, redaksi belum bisa melacak jejak keluarga secara sempurna. Masih banyak data-data keluarga yang belum ditemukan. Oleh karena itu, dengan sangat, kami mohon partisipasi para kerabat untuk mengirimkan data keluarga yang bisa melengkapi penelusuran Simpay Dipawikarta.




wah..sae pisan…
sing lengkap sadayana
InsyaAlloh, Téh. Ku kituna, simkuring nuhunkeun bantosan data (sanés dana) ka kadang wargi nu uninga runtuyan kulawargi Muhammad Nas Dipawikarta.
DHIPA GALUH PURBA
kang abdi mah muji ka akang beut apal sadayana rundayan kulawarga akang abdimah boro2 pareumeun obor kang kumaha ti luhurna panginten kang aya paripaos TENG MANUK TENG ANAK MERAK LALUNCATAN KITU JIGANA SIL SILAH KULAWARGA ABDI MAH……