Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 11-02-2008 |

ibu-ani

Tulisan ini pun merupakan permohonan maaf kepada seseorang yang pernah diramal saya di Jakarta, pada tahun 2004.

Ketika tinggal di Jakarta, menekuni dunia sinematografi, ada kalanya saya kehabisan job. Hanya ada dua pekerjaan yang saya andalkan; menulis skenario sinetron dan menjadi pemain pembantu. Saya belum pernah menjadi pemain utama, tetapi tidak pernah pula menjadi pemain figuran.

Dalam sinetron “Cinta SMU” (Produksi Rafi Film, ditayangkan di Indosiar), saya menjadi partner Eggy Setta. Kami memerankan tokoh preman stasiun kereta api Bandung, tetapi shootingnya di stasiun Kereta Senen, Jakarta. Dalam adegan sinetron tersebut, kami sedang mabuk di dekar rel kereta api. Tiba-tiba tokoh “Yanti” lewat, dan kami bermaksud memperkosanya. Namun niat jahat kami digagalkan oleh tokoh “Dimas”, kakaknya Yanti. Selanjutnya terjadilah perkelahian, kami mengeroyok Dimas. Tapi… Petrus Haryadi (Sutradara sinetron tersebut) menginginkan kami kalah. Memang seperti itu skenarionya. Saya tidak bisa memaksa untuk mengalahkan Dimas, apalagi mencoba memalingkan cinta tokoh “Putri”. Kalau saya penulis skenarionya, kemungkinan tokoh “Putri” akan dibikin jatuh cinta kepada preman stasiun Bandung.

Dari sanalah awal kedekatan saya dengan Eggy Setta. Sebelumnya memang pernah bareng main di FTV “Siluman Belut Putih” (Produksi Lunar Jaya Film, ditayangkan di TPI), yang disutradarai oleh Amrin Lubisn dan Gustom Castam Gunawan. Tapi sebelumnya tidak terlalu dekat, karena masih belum saling mengenal secara lebih jauh. Setelah selesai shooting “Cinta SMU”, barulah saya semakin akrab dengan Eggy. Saya sering numpang makan dan numpang menginap di rumah Eggy.

Eggy dan istrinya membuka salon di daerah Pulo Mas, Jakarta Timur. Mereka mengontrak sebuah bangunan berlantai dua di Ruko Pulo Mas, Jakarta Timur. Lantai satu untuk salon, dan lantai dua untuk tempat tinggal keluarganya dan karyawan-karyawannya. Kalau numpang nginap di sana, saya disuruh tidur di kamar. Sedangkan karyawan-karyawannya di tengah rumah. Tentu saya jadi malu. Akhirnya saya suka nonton tivi sampai larut malam di tengah rumah, dan pura-pura ketiduran di sana, biar karyawan-karyawannya tidur di kamar.

Setiap tidur, saya suka mendengkur. Bahkan dengkuran saya cukup keras. Tapi… Eggy dan keluarganya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Mendengkur dianggap hal yang biasa. Bahkan kalau saya tidak mendengkur, Eggy suka membangunkan saya dan bertanya: kenapa tidak ngorok? He he he… Eggy memang suka bergurau. Hari-harinya penuh dengan candsa-tawa. Ia termasuk orang yang tidak mau berpikir rumit, hidup sedanya dan bersemangat. Istrinya seorang wanita keturunan Cina. Sangat gesit dalam bekerja, cerdas, dan baik hati. Anaknya satu, bernama Shinta. Gadis kecil yang cantik dan lucu, pada tahun 2004 Shinta masih duduk di bangku SMP. Shinta terlihat senang dan gembira kalau saya menginap di rumahnya. Sebab, saya suka ngajarin musik, sulap, dan bahasa Sunda. Entah tugas dari guru apa, Shinta pernah minta diajarin lagu “Tanah Sunda” karya Mang Koko.

**

Kontrakan saya cukup jauh dari rumah Eggy. Saya tinggal di Pedurenan, Bantargebang, Bekasi Timur. Pada suatu hari, saya benar-benar kehabisan uang. Sebenarnya saya masih bisa tahan kalau tidak makan satu sampai tiga hari. Tapi… di kontrakan saya ada kawan dari Bandung, Abu Rara Sumanding. Ia adalah mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Sudah beberapa minggu, Abu tinggal bersama saya. Abu bercita-cita menjadi pemain sinetron. Dan cita-citanya sudah tercapai. Abu pernah diajak main dalam sinetron “Misteri Ronggeng Bentang” (Produksi Lunar Jaya Film, ditayangkan di TPI). Kebetulan sinetron tersebut, skenarionya ditulis saya, dan saya kenal dekat dengan sutradaranya, Prawoto Soeboer Rahardjo. Saya senang bisa menyalurkan bakat kawan-kawan untuk terjun ke dunia sinematografi. Siapa tahu di antaranya ada yang sukses.

Hari itu, saya bingung, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk makan si Abu. Saya sendiri cukup dengan segelas air kopi. Tapi… kalau rokok saya sudah habis, akan timbul persoalan baru. Saya tidak bisa mikir kalau tidak merokok. Mau ngutang ke warung si ibu pemilik kontrakan? Ah… saya sudah malu, karena kebanyakan ngutang. Bagaimanapun caranya, saya harus dapat uang di hari itu.

Memang di saku celana, masih ada sekitar Rp 6.000,-. Tapi… uang itu tidak berani dibelikan apa-apa, karena motor saya sudah haus pingin minum bensin. Akhirnya, saya berangkat menuju Jakarta. Uang yang Rp 6.000,- digunakan untuk membeli bensin sebanyak Rp 5.000, dan menyisakan Rp 1.000,-. Jadi… jika saya tidak mendapat uang, maka saya tidak akan bisa pulang ke Bekasi.

Saya menuju Virgo Putra Film, Komp. Harco Mangga Dua, Blok P No. 21-22, Jakarta Pusat. Saya bermaksud menemui Pak Yansen (Yan Senjaya). Tiada lain menanyakan kabar naskah skenario yang saya tawarkan beberapa hari sebelumnya. Tapi Pak Yansen tidak ada di kantor, sedang shooting di Studio Alam, Depok. Naskah saya belum di-acc oleh Pak Yansen, sehingga saya belum berani ngomong masalah honor, meski perut saya mulai keroncongan. Wajah Si Abu semakin pucat, karena kecapean naik motor dan… pasti sangat lapar.

Saya pun segera berpamitan dari Virgo Putra Film. Di tempat parkir saya masih belum menemukan ide apa-apa untuk mencari uang, tapi saya harus buru-buru berangkat, karena kalau kelamaan, maka biaya parkir bisa mahal. Alhamdulillah, bayar parkir hanya Rp 1.000,-. Dan habislah uang saya semuanya.

Saya sudah pasrah kepada Alloh SWT. Apapun yang akan terjadi, terjadilah! Dalam kepasrahan itu, tiba-tiba saya teringat Eggy Setta. Hanya dialah harapan saya satu-satunya. Maka, saya dan Si Abu segera meluncur ke Pulo Mas, Jakarta Timur. Sesampainya di rumah Eggy, semuanya menyambut kedatangan saya dengan gembira. Seolah mengerti, istri Eggy langsung menyiapkan makan untuk saya dan Abu. Alhamdulillah… ya Alloh… kami bisa makan dengan penuh kenikmatan. “Sangaaaat nikmat… Gi. Terimakasih, Gi…” (ketika menulis bagian ini, air mata saya tak tertahankan membasuh kedua pipi).

Selepas makan, Eggy segera membelikan sebungkus rokok Dji Sam Soe. Eggy tahu, saya suka rokok itu. Dan rokok Eggy berbeda dengan rokok saya. Eggy biasanya merokok Sampoerna Mild. Sedangkan Si Abu, rokok apapun bisa nyaman di mulutnya, termasuk bako sebul.

O ya, Si Abu itu merupakan orang yang unik. Lahirnya tahun 1979, tetapi tubuhnya tetap kecil layaknya murid SD. Tingginya kira-kira 1 meter lebih dikit. Dia tidak cacat, karena komposisi tubuhnya seimbang. Tapi tubuhnya tidak berkembang sebagaimana layaknya. Orang yang melihat Si Abu, pasti menyangka kalau Si Abu anak kecil (Sekarang dia tinggal di Jakarta, dan sering main dalam beberapa judul sinetron sebagai peran pembantu. Saya sudah mengajarinya untuk menolak menjadi pemain figuran. “Abu, kamu jangan mau menjadi pemeran figuran. Sebab, nanti sutradara akan terbiasa melihat wajah kamu menjadi figuran. Lebih baik kamu tidak makan, daripada menjadi pemain figuran!”).

Di rumah Eggy, saya sangat betah. Tapi… saya tidak enak untuk tinggal berhari-hari di sana. Apalagi saya membawa seorang kawan. Meski Shinta sangat senang melihat Abu, karena punya kawan main “anak kecil”.

Saya bingung, Eggy sudah ngasih makan, beliin rokok, dan sebagainya. Apakah saya berani meminjam uang untuk beli bensin? Ah… tidak. Saya tidak berani ngomong itu. Selama di rumah Eggy, saya ngobrol berbagai persoalan yang sangat jauh dari tema meminjam uang.

Laki-laki pun suka ngerumpi. Eggy menceritakan tingkah beberapa orang tamu salon yang cukup menarik. Di antaranya ada seorang perempuan kaya-raya yang sering curhat tentang suaminya yang pacaran lagi.

Tiba-tiba saya punya ide. “Gi, ntar kalo dia datang lagi, suruh ngobrol aja sama gua! Siapa tahu gua bisa ngebantuin cari solusi…”

Eggy berpikir sejenak. Lalu tersenyum. “Boleh juga tuh. Kamu kan suka ngeramal juga…” begitu kata Eggy sambil tersenyum. Yang dimaksud meramal hanyalah permainan kartu remi dan sebuah trik sulap. Mereka suka terkagum-kagum kalau saya sedang bermain sulap dan meramal dengan kartu. Terus terang, saya tidak bisa meramal nasib saya, apalagi meramal nasib orang lain. Hanya permainan kartu, yang dibumbui dengan trik sulap.

Di depan Elizabeth Salon, Komplek Pertokoan Pulo Mas, Jakarta  Timur

 

Singkat cerita, saya pun diperkenalkan kepada orang tersebut. Di lantai dua, Saya duduk bersila dengan tenang. Di samping saya, Si Abu pun duduk sambil merokok. Melihat tubuh Si Abu yang unik, mungkin membuat dia lebih yakin pada kemampuan saya. He he he… dia duduk dengan sopan di hadapanku. Lalu, kutunjukan sebuah permainan sulap. Wow…dia begitu tercengang dan menunjukan ekspresi takjub. Setelah itu, saya mulai menanyakan masalah yang menimpanya. Dia pun menceritakan seputar suaminya yang selingkuh.

Seingat saya, ada beberapa saran yang meluncur dari bibir saya. Di antaranya:

  1. Bagunlah setiap malam, ambil air wudu, sholat tahajud, dan berdo’a kepada Alloh SWT.

  2. Berpenampilan yang menarik, dan sambutlah setiap suami pulang kerja dengan ceria, penuh kehangatan, romantis.

  3. Memasak makanan kesukaan suami dengan tangan sendiri, bukan oleh pembantu.

  4. Carilah suasana baru dalam bercinta, dan berilah suami kepuasan.

  5. Jangan ngajak ngobrol persoalan lain-lain jika sedang bercinta dengan suami. Fokuslah bercinta.

  6. Mintalah izin suami untuk ikut senam aerobik, agar tubuh semakin sexi.

  7. Janganlah membalas selingkuh dengan perbuatan yang sama

 

Dan belasan poin lainnya terlontar dari bibir saya. Dia mengangguk-angguk tanpa banyak protes. Saya pikir, saran saya tidak mengada-ada, sangat realistis. Selanjutnya, saya tutup kata-kata saya dengan… “Baiklah, Bu. Saya akan turut mendo’akan ibu. InsyaAlloh dalam waktu sebulan, suami ibu akan berubah…” dan saya pun berdo’a dengan ssungguhnya, memohon kepada Alloh SWT, agar suaminya segera sadar dan semakin menyayangi istrinya.

Selesai berdo’a, dia berpamitan sambil memberikan amplop, “Pa Ustad, ini sekedar buat beli roko…” begitu katanya.

Tidak usah, Bu…” jawab saya dengan tenang. Tapi tangan si Abu diam-diam mencubit kaki saya.

Ambilah, Pa Ustad. Saya ikhlas koq…” dia memaksa.

Baiklah, Bu. Terimakasih, jazakallohu khoerun kasiron…” akhirnya saya terima amplop tersebut. Selesai bersalaman, dia langsung ke luar. Si Abu pun langsung membuka amplop, yang isinya uang sejumlah… Rp 150.000,-. Alhamdulillah… ternyata Gusti Alloh selalu memberi jalan keluar, bagaimanapun caranya.

 

Saya tidak merasa menjadi seorang peramal. Oleh karena itu, saya tidak tertarik untuk melanjutkan profesi sebagai konsultan kehidupan. Lantas, kenapa saya berani mengatakan bahwa dalam waktu sebulan suaminya akan berubah? Tentu saja sangat realistis. Dalam sebulan, suaminya akan berubah, minimal usianya yang akan berubah, menjadi bertambah satu bulan.

 

Saya memutuskan untuk pulang dulu ke Bandung, sambil menunggu job lainnya di Jakarta. Penghasilan yang bisa diandalkan, hanya dari menulis. Untuk satu episode skenario, saya dibayar Rp 2.000.000,-. Jadi, kalau naskah saya tidak di-acc, berarti saya tidak akan mendapat uang sepeser pun. Untuk smentara, saya harus kembali ke Bandung membawa kesedihan. Jangankan membawa uang untuk mengirimi ema, saya sendiri pun hampir tidak bisa makan.

Sekali lagi, terimakasih, Egy. Terimakasih, Ibu yang ikhlas memberi uang. Semoga suami ibu saat ini semakin menyayangi ibu setulus hati. Saya tidak bohong, karena saya benar-benar mendo’akan ibu. Tetapi keputusan terakhir, tetap ada di tangan Alloh SWT.

Di hari-hari selanjutnya, kalau saya berkunjung ke rumah Eggy, selalu saja ada yang minta diramal. Padahal, saya sudah menjelaskan bahwa saya bukan peramal. Tetapi, mereka selalu memaksa. Ada sekitar dua atau tiga orang lainnya yang terpaksa saya ramal. Namun, saya tidak menerima apalagi meminta uang barang sepeser pun. Sebab, saat itu kebetulan saya sedang tidak kekurangan uang.

Pada suatu hari, saya diajak Dadan Sutisna untuk berkunjung kepada Ibu Ani Sekarningsih CTGM, seorang ahli baca tarot dan kartu Lenormand terkemuka di Indonesia. Beliau seorang otodidak yang mempunyai hobi membaca, memotret dan melanglang dunia sampai ke pedalaman suku terasing di Irian Jaya. Ibu Ani adalah salahsatu pendiri Yayasan Kemajuan dan Pengembangan Asmat yang tetap aktif mencermati pendidikan TK di empat kercamatan Asmat dan SMU di Agats - Asmat, sejak 1986., yang mengantarka beliau untuk memperoleh penghargaan “Anugrah Citra Kartini 2000″. Untuk mengetahui profil beliau secara lebih detail, silahkan buka situs ini http://www.tarotwayang.com.

Di rumah Ibu Ani, selain dijamu dengan makanan istimewa, saya pun diramal. Setelah saya diramal, saya mempraktekan sebuah permainan sulap. Ibu Ani sempat tercengang dengan sulap saya, dan sempat menganggap permainan sulap saya melibatkan kekuatan gaib. Oleh karena itu, akhirnya gantian, saya yang meramal Ibu Ani. Poto yang ditampilkan adalah adegan saya yang sedang “meramal” Ibu Ani. Sementara Dadan Sutisna sudah mulai tertawa, karena dia sudah dikasih tahu kunci rahasia permainan sulap saya.

Sebelum saya pamitan, saya menjelaskan dulu kunci permainan sulap kepada Ibu Ani, dan tidak lupa memohon maaf. Ya… saya bukan apa-apa dibanding Ibu Ani. Saya sangat menghormati beliau. Semoga Ibu Ani selalu ada dalam lindungan-Nya.

Demikianlah, sepenggal kisah yang mau tidak mau harus saya jalani. Inilah jalan yang saya pilih, menjadi seorang penulis, dan berarti saya harus siap menghadapi segala konsekwensinya. Hidup saya di tangan saya sendiri, tanpa ada kesempatan meminta bantuan materi kepada orang tua. Namun… saya memang tidak mengharap semua itu. Saya sudah bahagia memiliki ema yang selalu mendo’akan siang dan malam. Terimaksih, Ma. Alhamdulillahirobbil’alamiin.

 

DHIPA GALUH PURBA