Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 22-10-2008 |
Oleh Dhipa Galuh Purba
Beruntung Bandung memiliki sastrawan dan pencipta lagu yang piawai meracik lirik dan memanggungkan senandung. Nama Bandung melambung melalui lantunan lagu, dari jenis kawih, tembang, katem, sampai bandungan. Berbagai tema diangkat dalam rumpaka (lirik/syair) yang berkenaan dengan
Tentu saja ada yang romantis, mengenang masa lalu, penuh keindahan, keprihatinan, kekhawatiran, optimisme, dan ada pula yang melontarkan kritik tajam. Pada dasarnya, jelas sekali terciptanya lagu-lagu tentang
Tentu saja ada nama-nama lain yang melahirkan sanggian lagu bertema Bandung, misalnya Machjar Angga Kusumadinata, Sambas Mangundikarta, Nano S, Ubun Kubarsyah, Yoyo Risyaman, Ujang Suryana, OK Yaman (Barmara), dan Apung S Wiratmadja. Rata-rata mereka pun pandai menulis rumpaka. Lagu “Jalan Braga”, “Babakan Siliwangi”, “Bale Endah”, “Bandung-Lembang”, dan “Isola” adalah ciptaan Nano S yang rumpaka-nya ditulis sendiri oleh Nano S. Lagu katem yang bercerita tentang Bandung berjudul Dalem Bandung (Rumpaka Deddy Windyagiri).
Jika Nano S membuat racikan katem, Ubun Kubarsyah melahirkan bandungan. Lagu bandungan yang bertema
Lagu “Peuyeum Bandung” ditulis dan disanggi oleh Sambas Mangundikarta. Lagu “Kabaya Bandung”, “Jalan Cihampelas”, “Oncom Bandung”, “Patepung di Dayeuh Bandung” adalah lagu ciptaan Ujang Suryana. Lagu “Di Bandung Kidul Hate Ngancikna”, “Mojang Bandung”, “Pasini di Dayeuh Bandung”, “Pileuleuyan Dayeuh Bandung” adalah ciptaan Yoyo Risyaman. Lagu “Bandrek Bandung” adalah ciptaan Barmara. Pergolakan batin Apung S Wiratmadja mengenai nasib Bandung bisa disimak dalam buku Lagu Liwung Urang Bandung yang memuat puluhan dangding dan dua judul sawer.
Karya sastra
Hampir semua rumpaka lagu-lagu di atas layak disebut karya sastra karena di dalamnya mengandung tema yang jelas, rasa penulis, nada atau sikap penulis, dan amanat. Jika diselami, isinya akan terasa mengandung wirahma, wirasa, dan purwakanti, baik purwakanti sejenis pangluyu, maduswara, cakraswara, laras purwa, laras wekas, laras madya, margaluyu, maupun yang lain.
Rumpaka “Bandung Bermartabat” (ciptaan Nana) tidak termasuk dalam kategori karya sastra karena tampaknya hanya merupakan rumpaka “pesanan” untuk menyukseskan program “bermartabat”, tidak mencerminkan rasa atau sikap penulisnya. Berbeda dengan lagu bandungan berjudul “Cikapundung”, “Bandung Alum Nguyung”, dan “Nyawang Bandung” yang jelas merupakan refleksi kejujuran seorang penulis rumpaka dalam memandang Bandung, mengenang Bandung, dan mengkritik Bandung dengan segala kecintaannya.

Wajah murung Bandung
Sampailah pada usia
Nama Jalan Braga atau Jalan Cihampelas kemungkinan akan diganti. Entah apa pertimbangannya, Pemerintah Kota Bandung begitu bersemangat mengganti nama-nama jalan yang sudah akrab dengan masyarakat, dan tentunya memiliki nilai historis. Seandainya ada lagu berjudul “Jalan Kiaracondong”, tentu saja ia akan kebingungan mencari letak jalan tersebut. Padahal, daripada menghambur-hamburkan anggaran untuk mengganti nama jalan, lebih baik digunakan untuk memperbaiki jalan-jalan yang sudah rusak.
Di mana pagunungan (pegunungan)
Kemacetan lalu lintas, kesemrawutan tata ruang, kebudayaan, dan kesenjangan sosial masih menjadi persoalan utama yang mayung
Mari merenung untuk
Dimuat di KOMPAS Jawa Barat, Sabtu, 18 Oktober 2008. Klik di sini untuk melihat langsung di Kompas Jawa Barat.













Jangan bingung jangan termenung, ayo kita reformasi daerah Bandung !
Revolusi!!!
DHIPA GALUH PURBA
Hanjakal, neangan carita2 buhun ngeunaan Bandung jaman baheula asa langka pisan. Dina ayana ge bet di loakan Palasari, mani geus barulukan. Untungna we aya urang Jawa nu haat nulis ngeunaan Bandung Tempo Dulu nyeta Hari Kunto. Na ari urang Sundana kamarana atuh.
Oge ngeunaan lagu2 klasik Sunda sanggian mang Koko sesah milarianana. Langka nu dina VCD atanapi DVD. Supaya leuwih moderen, ulah na kaset keneh na kaset keneh.
Kantos sim kuring meredih ka Nano S., “Cing eta lagu2 klasik mang Koko (komo eta mah lagu Malati di Gunung Guntur, nu naskahna kenging Wahyu Wibisana) cing jieun VCD na, tapi nu tembangna ulah ku Ida tapi ku Neneng ti Banjaran, ambeh leuwih halimpu)”.
Ari jawab Nano teh enteng we:”Bisi teu payu”.