Kategori: Di Belakang Layar | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Pada bagian I dab II telah diceritakan pengalaman ‘aheng’ dalam perjalanan shooting sinetron Tiga Pendekar. Tapi yang paling mengejutkan adalah terjadinya kecelakaan yang cukup fatal. Kejadian ini dialami oleh Somad (40), salah seorang crew yang bertugas untuk menjalankan gengset/diesel. Tiba-tiba saja gengset yang digandeng oleh sebuah mobil hartop itu menjadi terguling. Sedangkan mobil hartop-nya tidak ikut terguling. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, hanya menjadikan gegernya penghuni Gunung Kareumbi dan masyarakat Leuwi Liang.
*
Pengalaman Somad yang sehari-harinya lebih dikenal dengan nama ‘Babeh’, sepertinya sudah tidak usah diragukan lagi dalam hal menjalankan mobil gandengan. Sudah bertahun-tahun, Babeh menjadi pengemudi mobil hartop yang menarik gengset. Bahkan Babeh pun bisa dikatakan cukup ‘makan garam’ dalam menghadapi
Waktu itu bertepatan dengan hari kamis, menghadapi malam Jum’at kliwon, masih disaat ‘wanci sareupna’. Secara tidak sadar, Babeh menjalankan mobil hartop menuju lokasi shooting. Sebenarnya Babeh tidak terlalu kencang menjalankan mobilnya, tapi entah mengapa secara tiba-tiba gengsetnya melenceng ke sebelah kiri, lalu terguling. Untungnya tidak ada seorang pun yang kebetulan sedang berada berada di tempat tergulingnya gengset. Kendati demikian, semuanya merasa kaget dan terkejut, sebab
Belum reda keterkejutan para crew dan masyarakat yang kebetulan menyaksikan, tiba-tiba Babeh pun ‘kesurupan’. Tubuhnya bagaikan dikendalikan oleh makhluk lain, ditambah dengan suaranya yang menjadi berubah. Tentu saja membuat para crew semakin panik. Sampai pada akhirnya pertolongan pun datang dari warga Leuwi Liang. Babeh bisa disembuhkan, dan gengset pun bisa diangkat kembali, walau keadaannya sudah rusak cukup berat.
“Kita harus berjiarah ke makam Eyang Masinah di daerah Cimulu,” begitulah yang dikatakan Abah Rukanda, ketika diberi tahu kejadian yang menimpa crew Esa. Maka esok harinya pun, Abah Rukanda dan beberapa orang crew menuju ke makam Eyang masinah. Tapi hal itu bukan bertujuan untuk memuja sebuah makam, melainkan suatu penghargaan terhadap leluhur atau karuhun di wilayah Gunung Kareumbi. “Kita memang harus mendo’akan para karuhun,” tambah Abah Rukanda.
Pimpinan crew juga tidak lupa menemui Aki Sahri, seorang lagi sesepuh Leuwi Liang yang dikenal sebagai kuncen Gunung Buleud. Konon menurut Aki Sahri, tempat kejadian tergulingnya gengset itu berada di wilayah Gunung Cinini, yang pada jaman dulunya menjadi tempat tinggal Eyang Cakra Dipa. Memang kawasan tersebut banyak mengandung kisah-kisah yang cukup menarik pada jaman dahulunya. Seperti yang dituturkan oleh Aki Sahri, bahwa salah satu leluhur Desa Sindulang adalah sepasang suami istri yang berasal dari
Setelah diselusuri lebih jauh lagi, memang benar Desa Sindulang yang terdiri dari kampung Sindulang, Ciseupan, Jambu Aer, dan Leuwi Liang tersebut, dikelilingi oleh gunung yang banyak mengandung kisah misteri. Desa yang berpenduduk 4343 jiwa itu, bukan hanya berdekatan dengan Gunung Buleud, Gunung Kareumbi, atau Gunung Cinini. Menurut Aki Sahri yang lebih dikenal dengan Aki Enci, masih terdapat gunung-gunung lainnya yang meninggalkan sebuah cerita misteri. Di sebelah barat terdapat Gunung Kerenceng, yang pada jaman dulunya menjadi tempat tinggal Eyang Panggung Jaya Kusumah. Sebelah timurnya ada Gunung Wendu, tempatnya Eyang Rat Jaya Kusumah.
Ketika menelusuri Gunung Kareumbi, ternyata asal mula namanya adalah Gunung Bedil, tempat menetapnya Embah Oyot. Untuk nama Kareumbi sendiri, baru kemudian diambil dari nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di wilayah tersebut. Tak luput, aliran sungai Citarik pun memiliki cerita tersendiri di masa lalunya. Pada hulu sungai Citarik, telah menetap dua leluhur yang sampai saat ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat sekitarnya. Beliau adalah Eyang Prabu Sagara Cimulu dan Eyang Panji Larang.
Benar sekali sebuah pribahasa yang mengatakan ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’. Seperti yang dialami oleh seluruh crew Esa Production. Setelah lebih mengenal keadaan sekitar Gunung Kareumbi, maka kejadian ‘aheng’ pun tidak teralami lagi. Semua itu tak lepas dari bimbingan para sesepuh kampung Leuwi Liang. Tak akan terlalu sulit untuk mengucapkan ‘Basmallah’ dalam setiap akan memulai pekerjaan, mengucapkan ‘Assalammu’alaikum Yaa Ahli Kubur’ ketika melewati sebuah makam, atau lebih baik lagi dengan mengirim ‘Alfatihah’ untuk arwah para karuhun. Begitulah yang dikatakan oleh Titin Julaeha, seorang santri dari Leuwi Liang.
Perjalanan shooting di Gunung Kareumbi, telah meninggalkan kenangan yang cukup indah bagi sebagian crew. Terlebih lagi pimpinan crew secara tiba-tiba jatuh cinta kepada salah seorang santri Leuwi Liang. Konon menurut ceritanya, jika ada satu rombongan yang masuk ke Leuwi Liang, pasti diantaranya ada yang menikah dengan salah satu warga Leuwi Liang. Benarkah seperti itu adanya? Wallohualam Bissawaf. Yang pasti Desa tempat persemaian ‘Eyang Dalem Sabet Sara Wali Tunggal’ tersebut, begitu akrab dan selalu membuka pintu lebar-lebar, bagi siapapun yang datang. Tentunya juga selama kedatangannya itu bermaksud baik. ***
Dimuat di halaman satu HU. GALAMEDIA (Minggu, 28 Juli 2002)














tanya dong, lokasi persisnya dimana sih? di daerah sumedang, garut atau dimana?
salam
kalau saya biasanya masuk dari Cicalengka, terus ke atas, lewat Curug Cinulang (Sindulang), lewat Sindangwangi, dan Leuwiliang (bukan Leuwiliang Bogor). Nah, dari Leuwiliang, Gunung Kareumbi sudah dekat…
DHIPA GALUH PURBA