Kategori: Tourism | Diterbitkan pada: 30-11-2008 |

Oleh ROCHAJAT HARUN

Your browser may not support display of this image.Ditinjau dari segi pemasaran pariwisata, terutama dalam usaha mengembangkan produk baru, sesungguhnya suatu daerah tujuan wisata mempunyai banyak hal yang dapat ditawarkan sebagai daya tarik wisatawan kepada pasar yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana mengolah bahan baku yang ada sehingga sesuai dengan minat dan selera wisatawan.

Dalam pengembangan suatu daerah untuk menjadi suatu daerah tujuan wisata, agar ia dapat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan potensial dalam macam-macam pasar, harus memenuhi beberapa syarat yaitu :

Pertama, daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai suatu”something to see”. Artinya di tempat tersebut harus ada obyek wisata dan atraksi wisata, yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain. Dengan perkataan lain, di daerah itu harus mempunyai daya tarik yang khusus dimana tersedia atraksi wisata yang dapat dijadikan sebagai bahan “entertainments” bila orang datang ke sana.

Kedua, di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah “something to do”. Artinya, di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan fasilitas pendukung untuk melakukan aktifitasnya untuk mengisi waktu, berupa rekreasi atau amusements yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama.

Ketiga, di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah something to know”. Artinya, di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat, disaksikan, serta vang dilakukan, maka harus pula disediakan fasilitas informasi yang dapat menjelaskan tentang arti dan makna obyek atau atraksi wisata tersebut dengan jelas melalui tour operator atau yang dipandu oleh pramuwisata (tourist guide) yang berkualitas atau yang menguasai bidangnya.

Keempat, di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah “.something to buy”. Artinya, di tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk berbelanja (shopping), terutama barang-barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-masing. Fasilitas untuk berbelanja ini tidak hanya menyediakan barang-barang yang dapat dibeli, tetapi harus pula tersedia sarana - sarana pembantu lain untuk lebih memperlancar seperti money changers, bank, kantor pos, kantor tilpon dan lain-lain.

Ke empat syarat tersebut di atas, kiranya sejalan dengan pola tujuan pemasaran pariwisata, yaitu dengan promosi yang dilakukan adalah usaha untuk mencapai sasaran sehingga lebih banyak wisatawan datang ke suatu daerah, lebih lama tinggal dan lebih banyak mengeluarkan uangnya di tempat yang mereka kunjungi.

Dari uraian tadi kita selalu menggunakan istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata”. Hal ini bukannya tidak beralasan. Di dalam literatur kepariwisataan di luar negeri kita menjumpai istilah itu. Menurut hemat kita justru ada perbedaan yang asasi antara kedua istilah tersebut.

Kita hanya akan menyebut sesuatu itu sebagai obyek wisata, bila untuk melihat obyek itu tidak perlu ada persiapan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Dengan perkataan lain, kita dapat melihatnya secara langsung tanpa bantuan orang lain, seperti misalnya : pemandangan alam, gunung, sungai, danau, lembah, ngarai, candi, bangunan, monumen, gereja, masjid, tugu peringatan dan lain-lain. Semuanya ini dapat kita lihat secara langsung tanpa bantuan orang lain, walaupun kadang-kadang kita harus membayar sekedar tanda masuk saja.

Lain halnya dengan “atraksi wisata” yang dalam hal ini merupakan sinonim dengan pengertian “entertainments”. Yaitu sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat, dinikmati dan yang termasuk dalam pengertian ini adalah, tari-tarian, nyanyian, kesenian rakyat tradisional, upacara adat, dan lain-lain. Tanpa ada suatu persiapan yang matang maka ia tidak akan merupakan atraksi vang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Mungkin perbedaan kedua istilah ini merupakan sesuatu yang sifatnya “is a matter of feeling or taste” saja.

Dalam rangka pengembangan suatu daerah tujuan wisata, macam apa pariwisata yang hendak dikembangkan banyak tergantung dari warisan alam yang dimilikinya atau peninggalan nenek moyangnya. Atas dasar ini pulalah kita akhirnya mengenal bermacam macam bentuk pariwisata seperti pariwisata budaya, pariwisata rekreasi, pariwisata musim dingin, pariwisata kesehatan, dan lain-lain.

Your browser may not support display of this image.Pada umumnya di Indonesia, jenis pariwisata yang paling menonjol adalah “Pariwisata Budaya”. Karena keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat serta kebiasaannya, maka Indonesia banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Sedangkan keindahan alamnya merupakan daya tarik kedua. Karena itu daya tarik wisatawan (tourist heritage) terhadap hasil seni budaya ini sangat perlu ditingkatkan sejalan dengan peningkatan fasilitas lainnya.

Namun demikian, selain unsur Budaya sebagai objek utama suatu destinasi, objek wisata lainpun seyogianya diperhatikan untuk dikembangkan dan dipromosikan lebih gencar dan terarah. Terutama bagi wisatawan mancanegara. Misalnya saja wisata pertanian (Agro. Tourism), Wisata Kehutanan (Forestry Tourism), Wisata Bahari (Sea Tourism), dan Wisata Rohani (Religious Tourism). Bahkan bukan mustahil Wisata Belanja dan Wisata Kuliner pun bisa dipromosikan lebih gencar, seperti halnya terjadi di Singapore, Thayland dan negara Sakura Jepang.***