Kategori: Suatu Hari | Diterbitkan pada: 07-04-2009 |

Catatan Kecil  DHIPA GALUH PURBA

 

Saat itu: Ketika PDI pimpinan Megawati diobok-obok pemerintah dengan dibentuknya PDI palsu pimpinan Suryadi, hati saya benar-benar tergugah dan terpanggil untuk turut larut turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi yang murni berawal dari hati. Saya beberapa kali mengikuti mimbar bebas di kantor DPD PDI, Jl. Soekarno-Hatta, Bandung (sekarang menjadi kantor DPC Kota Bandung PDIP).

Saya masih ingat bagaimana semangat Pius ALDERA (Aliansi Demokrasi rakyat) berorasi di mimbar, membangkitkan semangat untuk mendobrak rezim orde baru. Saya pun sempat bertukar pikiran dengan Pius selepas dia berorasi. Dia memberikan ikat kepala berwarna merah, bertuliskan tangannya sendiri “ALDERA”. Dia pun menulis nomor pager di buku alamat saya dengan tangannya sendiri.

Sejak itu, saya beberapa kali mengikuti demontrasi, ikut-ikutan Pius. Sungguh, saya tidak dibayar sepeser pun. Benar-benar datang dari nurani saya. Saya merasakan betapa Megawati dianiaya oleh pemerintah dengan cara yang sangat licik, sehingga saya mau turut memperjuangkannya tanpa mengharapkan apa-apa, karena saat itu saya tidak menjabat apa-apa di PDI. Hanya satu harapan saya, PDI Mega bisa ikut Pemilu, dan sekalius menjadi pemenangnya. Saat itu, saya benar-benar merindukan perubahan.

Suatu hari, saya pun pernah dikejar-kejar oleh oknum aparat, ketika berdemontrasi di lapangan Gasibu. Alhamdulillah saya diselamatkan oleh rombongan pengurus PDI Parakansaat. Saya diajak naik angkot “Riung Bandung-Dago” yang pada waktu itu dicarter oleh para pengurus PDI Parakansaat. Saya selamat sampai di Parakansaat, dan bisa pulang ke rumah tanpa ada ancaman apa-apa.

Itu hanya sekelumit pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Tentu, masih banyak pengalaman lain yang masih tercatat di buku harian saya. Saya tidak akan melupakan keganasan oknum tentara di masa orde baru, karena saya pernah disiksa oleh beberapa oknum tentara di Pasar Induk Gedebage, Bandung, akibat melakukan demontrasi. Setelah dihajar habis-habisan, saya diantar ke Polres Bandung Timur, dan menginap di sana semalam. Saya dibebaskan keesokan harinya, karena saya tidak bersalah. Meski begitu, saya tetap wajib lapor selama seminggu. Dan berbagai pengalaman lainnya.

 

**

Ketika terjadi pengambil-alihan secara paksa kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro 58 Jakarta Pusat, saya benar-benar merasa sedih dan terpukul. Itu adalah tragedi yang tidak boleh dilupakan oleh pengurus PDIP di masa kini. Pengurus PDIP sangat perlu untuk mendengarkan aspirasi pengikutnya yang setia dari sejak zaman PDIP “tertindas”. Dan bukan hanya mendengarkan, melainkan mempertimbangkannya untuk kemudian direalisasikan. Para pengurus PDIP yang tidak tahu menahu zaman PDIP “sengsara”, tidak usah terlalu digubris.

 

Tentu, ketika Pemilu 1997 tanpa PDI Mega, saya memilih untuk tidak memilih. Namun saya pun ikut-ikutan kampanye PPP, karena ada rombongan “Mega-Bintang”. Tapi, setelah mendalami pemikiran Buya Ismail Hasan Metarium, saya tidak tertarik lagi dengan “Mega-Bintang”. Kemungkinan “Mega-Bintang” hanya diciptakan untuk menampung para pendukung Megawati. Walhasil, PPP tetap kalah oleh Golkar, Golput sangat banyak, dan tentu jumlah Golput bisa mengalahkan suara PDI Suryadi keparat.

 

**

 

Pemilu 1999 PDIP menjadi pemenangnya, tetapi Megawati tidak menjadi presiden. Sudah menang pun, masih dicari berbagai macam akal untuk menjegal Mega. Saat itu, saya benar-benar kagum menyaksikan kepandaian Yusril Ihza Mahendra dalam menggulingkan Mega. Tapi… semoga saya dan keturunan saya tidak sampai tertular oleh karakteristik Yusril. Tapi hati saya masih terobati, karena yang menjadi presiden adalah KH. Abdurachman Wahid, sang pemberani dan yang lebih penting sang pejuang reformasi.

 

Dan akhirnya Mega pun naik menjadi presiden setelah KH. Abdurachman Wahid digulingkan oleh para pengusung terdahulunya. Mega hanya punya waktu sedikit mejabat sebagai presiden. Memang Mega pernah menaikkan harga BBM, tetapi tidak separah SBY. Saya melihat “orang-orang” di sekililing Mega yang kurang kreatif dalam pencitraan Mega, sehingga pada pemilu pemilihan presiden pertama kali di Indonesia, Mega dapat dikalahkan SBY. Yang saya tidak mengerti, kenapa Mega tidak berpasangan dengan Amin Rais. Sebab, Amin Rais jelas merupakan seorang pejuang reformasi yang sangat gigih. Amin Rais adalah seorang pemberani di zaman orde baru. Siapapun yang pemberani di zaman ordebaru, itulah orang hebat dan istimewa. Maka dari itu, saya secara pribadi mendambakan pemimpin yang telah menunjukkan keberaniannya pada masa ordebaru, semisal Megawati, Amin Rais, Sri Bintang Pamungkas, KH. Abdurachman Wahid, dsb. Kalau yang beraninya di zaman sekarang, ya… sudah kesiangan. Seandainya pada saat itu Megawati berpasangan dengan Amin Rais, tentu ceritanya akan lain.

 

**

Sekarang, menghadapi Pemilu 9 April 2009, saya sangat terkejut mendengar rencana koalisi PDIP-Golkar. Mungkin koalisi tersebut perlu dipertimbangkan lagi. Apakah Mega akan berpasangan dengan Yusuf Kala mencalonkan Presiden RI? Menurut perhitungan saya, cukup berat untuk memenangkan pemilu pemilihan presiden seandainya Mega berpasangan dengan Yusuf Kala. Tidak ada prestasi Yusuf Kala yang bisa dibanggakan selama menjadi wakil presiden, selain mendampingi SBY menaikkan harga BBM dengan “dedegler”.

 

Saya kira, Megawati akan lebih pas jika berpasangan dengan Amin Rais. Kalau pun tidak dengan Amin Rais, akan lebih meyakinkan dengan Dedy Mizwar. Saya pernah menulis catatan bahwa saat ini peluang besar ada di tangan Jendral Naga Bonar. Tidak usah terpengaruh LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang dibayar oleh suatu partai untuk membesarkan partainya. Biarkan saja LSI berkoar-koar dengan datanya, nanti rakyat yang akan membuktikan. “Mega-Naga” akan lebih meyakinkan daripada “Mega-Kala”. Yaaa… itu hanya sekedar catatan kecil untuk Mega, yang kini namanya disudutkan oleh sebuah komunitas jaringan persahabat “Facebook.Com”. Apapun alasannya, saya kurang setuju kalau ada komunitas yang mempengaruhi orang lain untuk menyudutkan seseorang. Kalau mau mengkritik, kritiklah dengan berbagai argumentasi. Saya pun kurang mendukung kalau nanti SBY terpilih lagi menjadi presiden, tetapi tidak mengajak orang-orang untuk anti kepada SBY.

 

Siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini, mari kita terima dengan lapang dada. Kita boleh punya keinginan, mengajukan pendapat, menyalurkan aspirasi, tetapi yang memutuskannya adalah “suara terbanyak”. Itulah yang terbaik untuk negeri ini.***