Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 23-04-2008 |

Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI

KH HASAN MUSTAPA sebagai sosok manusia serba bisa dan mahiwal bukan merupakan hal yang perlu diperdebatkan lagi. Bahkan, bagi beberapa kalangan kedudukan K.H. Mustapa bila menggunakan istilah dunia persilatan dan dunia pewayangan, ia masuk kategori “manusia setengah dewa”. Karena, menurut beberapa kalangan, untuk mengungkap dan membicarakan apalagi “mengeritik” K.H. Hasan Mustapa serta pemikirannya dianggap sebagai sikap nyanyahoanan. Denga adanya cara pandang demikian, akhirnya mustika dan mutiara yang sangat berharga dari pemikiran K.H. Hasan Mustapa tetap terpendam, tak ada yang bisa mengambil manfaatnya.

Bila diteliti secara seksama, akar dan mata air pemikiran K.H. Hasan Mustapa bersumber dari tiga sumber. Pertama tradisi dan kebudayaan Sunda, baik dalam bentuk konsep maupun apa yang dialami dan dihayatinya. Kedua ajaran dan tradisi Islam, baik sebagai konsep ajaran maupun apa-apa yang dialaminya. Ketiga, kondisi dan tradisi serta kebudayaan masyarakat Islam-Sunda semasa hidup K.H. Hasan Mustapa.Pemikiran K.H. Hasan Mustapa seperti yang terungkap dalam karya-karyanya, dalam berbagai genre penulisan, dapat dilihat sebagai kumpulan cermin yang saling berhadapan. Sehingga, pemikirannya dapat dilihat dari berbagai arah, dan meliputi berbagai sudut pemikiran K.H. Hasan Mustapa. Oleh karenanya, dengan pendekatan, serta tujuan pengamatan yang berbeda, bukan hal mustahil bila menelorkan kesimpulan yang berbeda, walau tidak mesti bertentangan. Karena, semuanya adalah satu. Titik fokus pemikiran K.H. Hasan Mustapa secara umum membicarakan tentang manusia, diri. Konsep serta tema yang kini kerap dikenal dengan “eksistensi manusia”, atau “jati diri manusia”. Konsep eksisitensi atau jati diri manusia yang diungkap K.H. Hasan Mustapa memang tidak secara spesifik ditujukan untuk merumuskan konsep jati diri manusia Sunda. Namun, karena setting dan biografi serta referensi horison pembicaraan sangt kental kesundaannya, maka dalam tulisan yang pendek ini secara spesifik direlasikan pada konteks manusia Sunda. Bagi K.H. Hasan Mustapa, eksistensi atau jati diri manusia, khususnya manusia Sunda, bukanlah sesuatu yang bersifat instan. Melainkan mengalami proses yang sangat panjang, dan ketika hadir di dunia pun, ia mengalami proses yang panjang pula. Manusia bukanlah “barang” jadi, melainkan “wujud” yang senantiasa berada dalam proses.

Sejarah primordial manusia berakar dari Tuhan, sebagai representasi paling sempurna dari kehadiran Tuhan pada makhluknya. Konsep dasar ini dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tajalli. Konsep yang menjelaskan bagaimana segala sesuatu, termasuk manusia ada dan mengada; munculnya realitas plural dari yang tunggal. Konsep yang selanjutnya melahirkan rumusan tentang Insan Kamil, manusia sempurna.

Ketika manusia hadir dan terlahir ke muka bumi, ia terjebak dalam kuantitas dan kualitas yang beragam, plural. Unsur-unsur ilahiyah dalam diri manusia mengalami dipraksi. Sehingga pandangan dan kesadaran manusia akan unsur ilahiyah dalam dirinya menjadi buram. Karena itulah, manusia mengalami pase lupa akan ada atau amnesia. Karena, dalam dirinya manusia mengalami keterpecahan.

Keterpecahan dalam diri, oleh K.H. Hasan Mustapa, digambarkan dalam simbol-simbol kanan-kiri. Simbol yang mempresentasikan fakta obejektif manusia yang berada dalam kutub-kutub ruang-waktu. Dan, dalam tataran epistemologis, manusia mengalami kecenderungan untuk memandang sesuatu dan segala sesuatu secara reduktif: parsial, paradoks, mengkutub, dan terpilah-bedakan. Bahkan dirinya sekalipun, disadari dan dialami sebagai fakta yang terpilah-pilah, tidak utuh. Oleh karena itu, ketika manusia menginjak masa dewasa, masa lahirnya kesadaran dalam dirinya, kesadaran yang pertama kali muncul adalah kesadaran yang bersifat parsial.

Dalam naskah Sasaka di Kaislaman, yaitu pada makomat Iman hingga makomat Sahadah, K.H. Hasan Mustapa mengungkap sejumlah terminologi yang menjelaskan tentang keterpilahan manusia. Pada makomat ini secara internal, manusia mengalami keterpilahan antara dorongan-dorongan atau perbawa kapangeranan dan perbawa iblis. Perbawa kapangeranan secara real teraktualisasi dalam kecenderungannya untuk mengikuti norma-norma sosial yang hidup dalam masyarakat, “Aaah mending dilakonan da papatah kolot jeung baraya-baraya, lamun daek milampah Islam, jadi rempug jeung batur-batur bangsa sorangan, tur meunang kapujian ‘jalma hade’, ngaregepkeun kana papatah.” Sedangkan perbawa iblis, teraktualisasi dalam kecenderungannya untuk melawan dan menafikan norma-norma sosial, “…anu ngalakonan teu jadi untung, anggur sahadena jalma kaparentah batur…” K.H. Hasan Mustapa menggambarkan orang yang berada dalam perbawa iblis ini dengan ungkapan “…watekna belet, guru bukti saharita.” Yaitu, karakter orang yang senantiasa menuntut pembuktian secara empirik pada saat itu juga dan menjadikan dimensi dan kesenangan jasmaniah-material sebagai perinsip segala hidupnya.

Tampak bahwa, bila melihat kedua kecenderungan tersebut serta aktualisasinya dalam kehidupan sosial, kedua kecenderungan tersebut mirip dengan istilah yang dipergunakan Freud, yaitu Id dan Super Ego, sebagai dasar alamiah dari kehidupan psikologis manusia.

Secara sosiologis dan kultural, kedua kecenderungan tersebut (kapangeranan dan iblis) terbentuk dari masa-masa proses internalisasi sistem nilai budaya masyarakat dalam diri seorang individu. Kedua kecenderungan tersebut muncul sebagai proses dan hasil sementara dari negosiasi antara seorang individu dengan norma sosial-budaya dan masyarakatnya. Sebagai proses negosiasi, karena terdapat unsur penolakan untuk mengikuti norma-norma sosial yang ditemukannya, “Tapi buktina sarua bae, anu ngalakonan tara meunang kauntungan, anu teu ngalakonan teu jadi karugian…” Ungkapan tersebut ditemukan baik pada individu yang berada dalam perbawa iblis maupun perbawa kapangeranan pada makomat Islam. Dan, selanjutnya, pemilihan salah satu dari kecenderungan-kecenderungan tersebut menjadi dasar bagi perkembangan kepribadian serta cara pikir dalam kehidupan selanjutnya.

Selain menggunakan istilah perbawa kapangeranan dan perbawa iblis, K.H. Hasan Mustapa menggunakan juga istilah “ti kenca” untuk menggambarkan ranah perbawa iblis dan “ti katuhu” untuk menggambarkan ranah perbawa kapangeranan. Konsep dan identitas “kenca-katuhu” (kiri-kanan) ini menjadi term paradigmatis yang menggambarkan cara pandang manusia terhadap realitas dan dirinya, bahkan terhadap Tuhan sekalipun.

Fenomena cara pandang “kenca-katuhu” atau menyebelah ini, seperti digambarkan K.H. Hasan Mustapa, tampak pada kecenderungan orang, Sunda, untuk menganggap kerugian sebagai takdir sedangakan keuntungan atau kebaikan sebagai hasil usahanya sendiri. Cara pandang “kenca-katuhu” tersebut menurut K.H. Hasan Mustapa, akan manusia berputar-putar pada lingkaran yang sama. Sehingga, manusia tidak mengalami kemajuan dalam kehidupannya. Karena apada akhirnya, manusia cenderung disibukkan untuk mencari kesalahan orang lain dan mengganggap dirinya yang benar. Dengan demikian, inti persoalan tidak pernah akan ditemukan. Artinya, manusia tidak akan menemukan solusi penyelesaian dari setiap persoalan yang dihadapinya. Secara dramatis, dengan menggunakan genre Kinanti, K.H. Hasan Mustapa mengungkap kondisi tersebut:

Tungtungna ngahurun balung, Guru bukur malar bukti, Rek nyaba jeung Allah saha, Kacapangan ya Ilahi, He Allah Gusti kaula, Di nu negrak di nu suni.

Kasarung turut lulurung, Balik deui-balik deui, Sasab dina sisimpangan, Ceurik deui ceurik deui, Midangdam neangan Allah,Lain deui-lain deui.

Pase demi pase, makomat demi makomat dilaluinya, dari satu keterjebakan ke keterjebakan lainnya. Kadang di kiri dan kadang di kanan. Kadang dalam ranah iblis dan kadang dalam ranah pangeran. Tapi kapan ia berada dalam ranahnya sendiri? Ranah pangeran dan ranah iblis pun pada akhirnya tak lebih dari pikiran tentang ranah-ranah yang dibuatnya sendiri.

Beh kaler beh kidul, Saha deui saha deui, Na mana majar ma’ana, Aing deui aing deui, Ngambang di sagara mangmang, Manggih lain manggih lain.

Keterjebakan-keterjebakan manusia, menurut K.H. Hasan Mustapa, paling tidak disebabkan dua hal. Pertama seperti telah disebutkan, yaitu karena penangkapan dan pengalaman atas realitas sebagai sesuatu fakta yang berbeda dan bertentangan, kiri-kanan. Kedua, perebedaan-perbedaan itu secara konseptual ditegaskan dalam bentuk konsep-konsep yang paradoks. Konsep-konsep yang disebut K.H. Hasan Mustapa sebagai lalandian. Lalandian atau konsep yang diterima individu dari masyarakatnya. Konsep yang membawa manusia dalam dunianya yang absurd.

Konsep kiri-kanan, sebagai contoh. Konsep yang tidak memberikan manusia suatu pilihan untuk berada dalam kedua ranah tersebut secara harmoni, atau dalam ranah yang tidak lagi memilah dan terpilah, kiri-kanan. Karena konsep tersebut, secara rasional membuat manusia menjadi tidak mungkin berada pada kedua ranah tersebut secara harmoni. Kiri-kanan, adalah konsep persepsional, yang hanya ada dalam pikiran sebagai konsep. Dalam kenyataanya kiri-kanan itu tidak pernah ada. Seperti halnya waktu. Ia hanya ada dalam imaji manusia sebagai upaya untuk memahami peristiwa. Ia hanya ada sebagai imaji manusia. Tak seorang manusia pun yang pernah melihat dan menemukan sang waktu. Demikian juga dengan kiri dan kanan. Seperti diungkap dalam dangding di atas: “Manggih lain manggih lain”.

Pemikiran K.H. Hasan Mustapa sampai pada rumusan eksistensi manusia. Yaitu diri. Diri sebagai pusat dan kiri-kanan sekaligus. Ia adalah satu, dan semua perbedaan, pertentangan, berpusat pada diri. Bahasa atau lalandian-lah yang menghadirkan dunia sebagai fakta yang berbeda-beda dan bertentangan. Lalu, apakah perbedaan-perbedaan dan pemilahan itu sesuangguhnya tidak ada? K.H. Hasan Mustapa, menegaskan bahwa itu nyata. Nyata ada, dalam pikiran manusia. Perbedaan dan pertentangan adalah persepsi evaluatif manusia atas sesuatu. Dan itu nyata.

Sejauh manusia melihat sesuatu sebagai yang terpisah dan berbeda secara radikal dengan dirinya sejauh itu pula manusia akan berada dalam sekatan-sekatan yang sangat kokoh. Dan sebaliknya, sejauh manusia menjadikan dirinya satu dengan yang lain, maka ia akan hilang dan tak melihat apa-apa. Ia hanya tahu sejauh dalam bahasa, lalandian. Bahasa atau lalandian yang didapat dari masyarakatnya.

Disusul ka gunung suwung, Ditungtik ka cai leungit, Aing neangan jeung saha, Aing deui aing deui, Nelahkeun ngaran ka mana, napsiahing anu aing.

Bila manusia telah menemukan yang lain dalam dirinya ketika itulah ia akan menemukan sagalanya. Dan, karena segala ada dalam diri, ia tidak akan terpengaruh oleh apa pun dan tidak akan terjebak dalam radikalisme jenis apa pun. Keadaan inilah yang oleh K.H. Hasan Mustapa disebut sebagai Insan Kamil. Manusia yang “taya luhur taya handap, asal: sampurna walatra, beda soteh pangersana panarimana”. Manusia yang “sampurna taya kakurang, lantaran ngala sorangan ku pitulung Ahadiyat, jatnika ku sangsarana”.

Lalu, mungkinkah manusia bisa sampai pada makomat puncak tersebut, tanpa mengalami pase-pase atau makomat keterjebakan? Tidak! Karena, pemahaman manusia akan kesatuan hanya jika ia memahami keberbedaan. Proses dalam hal ini menjadi inti dasar dari kehidupan manusia. Dalam proses manusia bersatu dengan awal dan akhir, dan dalam kesekarangan dan ke-di sini-an yang melingkupi. Dalam proses, ada dan tiada menjadi satu. Dalam proses segala harmoni dialami. Tuhan pun, melihat ke-Mahasempurnaan “wajah”-Nya dalam ciptaannya yang beragam. Maka manusia, untuk mengalami dan melihat wajah Tuhan harus ditemukan dalam dirinya melalui penampakan-penampakan yang beragam.

“Dalam keberagaman kesatuan menemukan maknanya.

Dan dalam kesatuan keragaman menemukan wujudnya.”

Melalui konsep inilah, Sunda Besar dan Sunda Kecil menemukan maknanya. Bagi manusia Sunda, segala hal adalah Sunda. Segala hal adalah dirinya, dan parsialitas dalam wujud Sunda-Sunda kecil sebagai fakta-fakta kongkrit tempat manusia menapaki proses demi proses. Dengan memahami proses dan melihat segala sesuatu di dunia ini sebagai proses tak ada lagi tempat dalam diri manusia Sunda untuk melihat perbedaan sebagai alasan untuk bertentangan, konflik. Maka jadilah: “runtut raut: ka cai jadi saleuwi ka darat daji salogak. Manusia Sunda akan menjadi sundek apabila ia terjebak dalam pilihan-pilahan yang tercecer dan terpisah-bedakan.

“Najan aya laksa rebu, Jumlahna sahiji deui, Najan samara dalapan, Engkena jadi sapiring, Angeun bistik opor hayam, Deungeun sangu opat piring”

“Rempug semu jeung salembur, Bear budi jeung pangampih, Mustika tara kasangka, Bisi batur pada manggih, Diudag tata satata, Ditungtik surtina buni“

Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 20 Agustus 2002