Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 |

Oleh DJASEPUDIN

 

Sejak prakemerdekaan hingga pascareformasi Kongres Bahasa Sunda (KBS) sedikitnya sudah empat belas kali dilaksanakan. Namun, dari tahun ke tahun semangat, gema, penerapan, dan aura yang terasa dalam KBS makin menyurut.

Padahal, ahli kesundaan saban tahun terus membengkak. Baik produksi insttitusi pendidikan yang bergelar sarjana, master, dan doktor maupun yang belajar secara otodidak yang menamakan diri penulis lepas atau pengamat. Dukungan dana juga ayeuna mah disediakan pemerintah dan beberapa pihak swasta. Tidak hanya itu, media sebagai sarana informasi juga mendukung. Terbukti beberapa media cetak dan elektronik di Bandung turut terlibat.

Tapi, mengapa KBS IX di Bogor pertengah Juli ini masih hambar dan kurang bergairah? Tentu saja, jawaban yang tepat, utuh, dan menyeluruh mesti diadakan penelitian, kajian, perdebatan, dan simpulan yang mendalam.

Sebagai salah satu warga Bogor, Jawa Barat, yang kebetulan bersuku bangsa Sunda, ada beberapa catatan yang, saya pikir, patut dicatat dan direnungkan oleh réngréngan Panitia KBS IX dan pengurus Lembaga Basa & Sastra Sunda (LBSS) sebagai mitra yang sering ditunjuk oleh Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) untuk menyelanggarakan kongres.

Pertama, KBS kurang sosialiasi. Kabar akan berlansungnya kongres memang sudah mengemuka sekitar empat minggu kebelekang. Namun, ketika saya menanyakan kabar itu kepada beberapa aktivis kesundaan dan wartawan di seputar Bandung banyak yang tidak engeuh. Malah, wartawan sekaligus aktivis kesundaan Dhipa Galuh Purba mah hanya menjawab “teu nyaho nanaon, apalna ogé kakara ayeuna”.

Maka, sungguh tidak aneh jika wartawan senior dan kolumnis Karno Kartadibrata menulis di rubrikBalébandung edisi 30 Juni-6 Juli mempertanyakann KBS kurang aweuhanana alias kurang bergema. Karno juga mengabarkan, ada redaktur koran ternama di Bandung tidak mengetahui rencana kegiatan KBS IX di Bogor.

Itu baru di Bandung, bagaimana jadinya dengan warga Sunda di saampar Jawa Barat? Ah, boro-boroengeuh apalagi peduli, diberitahu juga tidak. Lantas, saya juga bertanya kepada beberapa guru dan aktivis kesundaan di sekitar Bogor.

Jawabannya hampir sama dengan Dhipa dan sejumlah aktivis Bandung: ”teu nyaho-nyaho acan”. Malah, salah satu wartawan Sunda yang bergerak di Bogor, mengungkapkan nada nyinyir dan satir yang kemudian kalimat itu saya umumkan di jejaring sosial facebook, kalimat itu adalah “paling ogéngan katempatan wungkul, ari panitiana mah ti bandung.”

Kedua, kurang membumi. KBS IX ini, konon, akan akan dilaksanakan di Cipayung, Cisarua, Bogor, 11-13 Juli 2011. Akan tetapi, hingga tulisan ini dibuat, Sabtu, 2 Juli 2011, banyak warga Bogor yang tidak mengetahui hajat warga bahasa Sunda itu. Jangankan warga Jonggol di ujung timur Kabupaten Bogor atau warga Jasinga di ujung Barat Kabupaten Bogor, masyarakat yang berbahasa Sunda di Kota Bogor dan warga sekitar Cisarua juga banyak yang tidak tahu adanya KBS IX.

Padahal, kelemahan tersebut bisa sedikit diminimalisasi jika Panitia KBS mau merangkul warga dan wartawan Bogor dengan penuh kesadaran dan keterbukaan. Jika mau merangkul dan terbuka mahtidak akan tercetus ungkapan “paling ogé ngan katempatan wungkul, ari panitiana mah ti bandung.”

Ketiga, terlalu Bandung. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung menjadi puat di pelbagai bidang. Tidak terkecuali Bandung. Beragam kegiatan berikut kepanitiaan kegiatan di Jawa Barat sering didominasi warga atau aktivis Bandung. Masyarakat di daerah hanya dilibatkan sebagai pendukung saja. Bahkan, dalam pelaksanaan KBS IX hal itu makin berasa dan kentara.

Tidak hanya kepanitiaan, peserta, dan pengisi acaranya juga umumnya dikuasai oleh orang Bandung. Dengan demikian keterlibatan daerah terkesan hanya seperlunya. Dalam tataran ini, disadarai atau tidak, diakui atau tidak, aktivis Bandung itu merasa yang paling pintar dan superior.

Sebagai bukti, salah satu majalah berbahasa Sunda yang terbit di Bogor dan diisi umumnya oleh warga Bogor tidak diundang menghadiri acara KBS IX. Redaktur, pemimpin redaksi, skretaris redaksi, atau pimpinan majalah dwibulanan yang sudah 17 kali terbitan itu tidak satu orangpun diundang sebagai peserta. Padahal, di antara mereka, jangankan diundang sebagai peserta, diundang sebagai pembicara atau pemakalah sekalipun sangat pantas.

Jika panitia KBS atau orang-orang Disparbud dan LBSS tidak mengetahui majalah Balébat, umpanya,kacida teuing. Sebab, majalah tersebut tidak hanya beredar di Bogor, tapi meneyebar juga ke Jakarta, Sukabumi, Bandung, dan Jatinangor. Maka, ketika awak redaksi majalah tersebut tidak diundangleuwih ti kacida teuing.

Sebab, majalah yang kantor redaksiya di sekitar Ciampea dan dipimpin oleh Hendra M. Astari itu, saya pikir, memahami betul perkembangan bahasa dan sastra Sunda di sekitar Bogor. Sebab, selain mengurus majalah juga secara rutin berhubungan langsung dengan sejumlah guru dan mempertanykan perkembangan bahasa Sunda di kabupaten dan kota Bogor.

Keempat, tidak peka. Peringatan dari sebagian warga Jabar tentang kurang bergemanya KBS IX tidak cepat dicarikan jalan keluar yang cepat dan tepat. Sebab, sedikitpun info yang didapat tentang KBS IX sejatinya mesti ada reaksi, evaluasi, solusi, dan antisipasi. Ini mah tidak, padahal, jika ingin sukses, masukan, harapan, atau cibiran sekalipun dan dari siapapun mesti ditanggapi dengan penuh kesadaran dan keterbukaan.

Kelima, asal aya. Pelaksanaan KBS IX sejauh yang saya tahu hanya memenuhi proyek lima tahunan saja. Dengan demikian kegiatan tersebut digarap sahinasna. Maka, saya sependapat dengan ungkapan Ajip Rosidi pada tahun 2005 di majalah Manglé dan koran Pikiran Rakyat bahwa, KBS hanya proyek menghambur-hamburkan uang rakyat, lebih baik uang tersebut digunakan untuk kepetingan yang lebih berguna.

Menutup artikel ini saya teringat lontaran Hawe Setiawan pada tahun 2005 bahwa, sejumlah rekomendasi yang dihasilkan (KBS) pada umumnya hanya berupa usulan, ajakan, atau pun imbauan. Tidak ada satu pun rekomendasi merupakan program kerja yang akan dilaksanakan LBSS. Benarkah begitu? Mudah-mudahan tahun ini mah tidak.

Yang jelas, wilujeng kongres para Juragan.***

 

Artikel ini dimuat di koran Tribun Jabar, Rabu, 6 Juni 2011