Kompetisi Yang Asyik

Catatan Malam DHIPA GALUH PURBA

 

Ketika menjadi pelaksana Lomba Film Pendek Bandung 2014, saya sempat sedikit curhat dalam catatan kecil Lomba Film Pendek Bandung 2014. Melihat antusias para peserta Lomba Film Pendek saat itu, saya merasa bersyukur mendapat kepercayaan dari kawan-kawan para sineas untuk menggelar lomba tersebut. Karya-karya para peserta datang dari berbagai kota di tanah air, membuat saya ekstra hati-hati dan lebih teliti dalam memperlakukan karya-kara para peserta. Dalam curhat tersebut, saya berharap suatu saat nanti bisa menggelar Lomba Film Pendek yang hadiahnya cukup besar dan bisa mengundang seluruh nomine untuk hadir di Braga.

Lomba Film Pendek Bandung hadiahnya tidak besar. Bahkan sudah dipastikan tidak akan bisa menutupi  biaya produksi dari para peserta. Kendati demikian, saya tetap berterimakasih kepada Ketua Panitia Pesta Buku Bandung 2014, yang telah menyediakan anggaran untuk menyelenggarakan Lomba  Film Pendek Bandung 2014. Dari mulai tempat dan berbagai fasilitas lainnya, honorarium juri, hingga hadiah untuk para juara. Saya dan kawan-kawan panitia hanya memberi sedikit ruang untuk menyalurkan kreativitas dalam memproduksi film pendek. Hadiahnya sudah jelas tidak banyak, tetapi kami berupaya semaksimal mungkin untuk mempersembahkan yang terbaik kepada para peserta, terutama dalam hal penjurian. Kami menilai secara sangat objektif.

Kenapa waktu itu saya secara pribadi bersikeras mengadakan Lomba Film Pendek Bandung, tanpa memiliki anggaran yang fantastis? Memang ukurannya diri saya sendiri. Sebagai orang yang pernah bergelut di panggung teater, saya memiliki prinsip bahwa berkarya merupakan sebuah eksistensi, tanpa harus terlalu memikirkan materi. Saya dan teman-teman lainnya, berlatih teater berbulan-bulan untuk satu atau dua kali pementasan, tanpa mendapatkan honorarium. Itu sudah merupakan hal yang biasa. Saya tahu, itu adalah sebuah proses. Saya begitu bahagia ketika pementasan teater berlangsung dengan lancar dan sukses. Lancar dari sisi keaktoran, bukan berarti saya tidak pernah salah atau keliru. Tetapi saya bisa mengimprovisasi kesalahan tersebut ketika sedang bermain teater.

Sampai hari ini, saya selalu merindukan masa-masa proses penggarapan hingga pementasan teater. Saya tahu, saya tidak sendiri. Kawan-kawan saya banyak yang lebih konsisten dan tidak bergeming untuk terus berkarya di panggung teater. Apalagi ketika berlangsung Festival Drama Basa Sunda (FDBS), semangat para insan teater tampaknya meningkat berlipat-lipat. Beberapa tahun ke belakang, hadiah FDBS berupa uang tunai jutaan. Namun sebelumnya, kalau tidak salah, tidak ada hadiah uang tunai. Meski tidak ada hadiah uang tunai, para peserta FDBS tetap berbondong-bondong untuk bertarung di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Bandung. Daya tarik FDBS sangat luar biasa. Bukan hadiah uang yang membuat FDBS begitu diminati oleh para peserta.

Begitu pula dengan Lomba Film Pendek Bandung. Jika peserta berharap mendapatkan hadiah uang tunai berlimpah, mana mungkin diikuti oleh para sineas dari berbagai kota di tanah air. Mungkin semua peserta sudah tahu, hadiah pada Lomba Film Pendek Bandung tidak banyak. Meski begitu, saya dan teman-teman panitia bertekad untuk membuat sebuah lomba yang jujur, kredibel, dan obyektif. Lomba Film Pendek Bandung selalu digelar pada acara Pesta Buku Bandung, karena biaya operasionalnya berasal dari panitia Pesta Buku Bandung. Saya paham kalau panitia Pesta Buku Bandung tidak menyediakan biaya fantastis untuk lomba tersebut, karena sepanjang berlangsung acara Pesta Buku Bandung, panggung utama Landmark-Braga,  tidak pernah kosong dari pertunjukan kesenian, diskusi, talkshow, seminar, atau lomba-lomba lainnya.

Lomba Film Pendek Bandung, selain memberikan sedikit ruang untuk berekspresi, juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengafresiasi. Sebab, semua karya dari para peserta Lomba Film Pendek Bandung diputar di Braga. Para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum dipersilahkan menonton film-film pendek karya para peserta Lomba Film Pendek Bandung. Tidak dipungut tiket. Tidak dibisniskan. Tidak dimanfaatkan untuk kampanye pilkada atau semacamnya. Begitu pula untuk para peserta, panitia Lomba Film Pendek Bandung tidak memungut biaya pendaftaran atau pungutan apapun. Kami benar-benar ingin menggelar sebuah acara yang bernilai pendidikan, dengan anggaran yang seadanya.

Ketika para juara Lomba Film Pendek Bandung 2014 diumumkan, saya bersyukur tidak diterpa complain mengenai jumlah hadiah. Hanya itu kemampuan panitia, tanpa bermaksud meremehkan apalagi tidak menghargai jerih payah peserta Lomba Film Pendek Bandung. Juara 1 Lomba Film Pendek Bandung 2014, kelompok Balak 6 Production, Jakarta, turut menghadiri acara puncak Lomba Film Pendek Bandung 2014.

Pada tahun 2015, saya dan teman-teman panitia Pesta Buku Bandung 2015 kembali menggelar lomba yang sama, Lomba Film Pendek Bandung 2015. Untuk kedua kalinya, saya berterimakasih kepada panitia Pesta Buku Bandung 2015, yang menyisihkan anggaran untuk menggelar lomba tersebut. Para peserta tetap antusias mengirimkan karya-karyanya yang bertajuk “Ekranisasi Sastra Sunda”. Karya film pendek tetap datang dari peserta di berbagai kota di tanah air, meskipun harus menerjemahkan karya sastra berbahasa Sunda. Saya sempat dikunjungi beberapa pengarang Sunda yang mengafresiasi lomba tersebut, seperti saudara saya, Pipiet Senja. Lomba  berlangsung lancar, sampai pada akhirnya pengumuman dilangsungkan. Namun tim yang meraih juara, tampak sangat kecewa dengan hadiah yang diterimanya. Bahkan sempat berkicau-kicau melalui akun twitternya, mengatakan panitia harus belajar banyak dalam menghargai peserta.  Saya putuskan saja: Lomba Film Pendek Bandung 2016 tidak perlu digelar lagi.

Anehnya, setelah saya memutuskan untuk tidak menggelar lagi Lomba Film Pendek Bandung, justru dukungan bermunculan melalui pesan pribadi. Dukungan-dukungan itu datangnya dari para peserta yang kalah. Mereka menyayangkan jika Lomba Film Pendek Bandung dihentikan di tahun kedua. Sebab mereka membutuhkan banyak ruang dan celah-celah sekecil apapun untuk berekspresi dan bereksplorasi.

Saya mendapat tawaran untuk turut bergabung menggelar Moviestival – Festival Film Pendek Pos Indonesia 2015. Sebagai orang yang sehari-hari hanya memegang uang ratusan ribu rupiah, saya cukup kaget melihat total hadiahnya lebih dari Rp100 juta (bukan mata duitan lho). Saya siap mengawal dan menjamin Moviestival akan berlangsung secara jujur dan objektif. Maka kepada kawan-kawan sineas film pendek di tanah air, mari berkompetisi dengan mengirimkan karya terbaik ke Panitia Moviestival 2015. Untuk syarat dan ketentuannya silahkan kunjungi website MOVIESTIVAL. Semoga SUKSES!

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>