Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 24-07-2008 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Dan awan pun membuncah, langit menangis

histeris memecah ozon yang menipis

Tak ada lagi embun pada daun dan rerumputan

Kampungku tergenang gelimang impian

Terputuslah jejak darah itu

Saat air mata memerah dan membelenggu

Langkah meragu di pintu bisu

Masih ada nafas dalam tenggelam

Meski harapan telah pudar

Buatkan sekedar rakit untuk menepi

Balutkan luka sekedar menahan sakit

Sebab jejak darah itu tidak terhapus

Hanya terputus-putus

Menuju batas penghabisan

Embun memerah dan berkabung

Nantikan pijaran mentari

Atau nyalakan oncor

Sekedar petunjuk arah

Agar tidak ragu arahkan tatapan

menghadap Kiblat

Ranggon Panyileukan, 1426-1429 H