Kategori: Legenda | Diterbitkan pada: 28-09-2008 |
Oleh ROCHAJAT HARUN
GODOG adalah sebuah daerah pedesaan yang indah dan nyaman, berjarak 10 km kearah timur dari puseur dayeuh Garut. Tepatnya di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Disana terdapat makam Prabu Kiansantang atau yang dikenal dengan sebutan Makam Godog Syeh Sunan Rohmat Suci. Hampir setiap saat banyak masyarakat yang ziarah, terlebih di bulan-bulan Maulud.
Prabu Kiansantang atau Syeh Sunan Rohmat Suci adalah salah seorang putra keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari prameswarinya yang bernama Dewi Kumala Wangi. Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran, mempunyai dua saudara, bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.
Pada usia 22 tahun, tepatnya tahun 1337 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor kedua yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa, khususnya Jawa Barat.
Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa. Konon tak ada yang bisa mengalahkannya. Sejak kecil sampai dewasa, yaitu berusia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Kiansantang belum pernah tahu seperti apa darahnya. Dalam arti, belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya. Sering kali dia merenung seorang diri, memikirkan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya.
Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara gaib dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Kuasa. Lalu , orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang kau mau bertemu dengan Sayyidina Ali, kau harus melaksanakan dua syarat: Pertama, harus mujasmedi dulu di ujung kulon. Kedua, namamu harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang - Berani, Setra - Bersih/ Suci).
etelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi. Setiba di tanah Mekah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu.
“Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?” tentu laki-laki itu menjawab dengan jujur, mengiyakannya, bahkan ia bersedia mengantar Kian Santang. Sebelum berangkat, laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra, tongkatku ketinggalan di tempat tadi, tolong ambilkan dulu!”
Semula Galantrang Setra tidak mau. Namun Sayyidina Ali mengatakan jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, bahkan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi, Kian santang berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi tongkat tetap tertancap di tanah dengan kokoh, sebaliknya kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluarlah darah dari tubuh Galantrang Setra.
Sayyidina Ali mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Sayyidina Ali tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat. Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran, kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat. Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam.
Kemudian mereka berdua berangkat menuju Mekah. Setelah tiba di Mekah, di tengah perjalanan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Sayyidina Ali. Galantrang Setra kaget mendengar panggilan ”Ali” tersebut. Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi tiada lain adalah Sayyidina Ali.
Setelah Kiansantang meninggalkan Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran), ia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan. Maka ia berpikir untuk kembali ke Mekah lagi dengan niat bulat akan menemui Sayyidina Ali, sekaligus bermaksud memeluk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi, Kiansantang masuk Islam. Ia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya.
Setibanya di Pajajaran, ia bertemu dengan ayahnya. Kian Santang menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya, ia memberitahukan bahwa dirinya telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk memeluk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya, terlebih ketika anaknya mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, dan ajakannya ditolak.
Tahun 1355 Masehi, Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah. Jabatan kedaleman, untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian ia kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Ia berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran pun disertai saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Kiansantang mensyi’arkan agama Islam.
Setiba di Pajajaran, Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.
Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara.
Melihat gelagat demikian, Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Kiansantang yang langsung mendesak agar sang ayah dan para pengikutnya masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malah beliau lari ke daerah Garut Selatan. Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam. Dengan rasa menyesal, Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk ke dalam gua yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk.
Prabu Kiansantang sudah berusaha mengislamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi hidayah kepada Prabu Siliwangi. Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok, dibantu oleh saudagar Arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya. Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor.
Pada tahun 1372 Masehi, Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuan dan dia sendiri yang mengkhitan laki-laki yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran, menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Kiansantang tidak lama menjadi raja, karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi. Dalam uzlah itu, ia diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mencapai kema’ripatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat, yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut.
Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah, Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.
Setelah selesai serah-terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran. Tempat yang dituju pertama kali adalah Gunung Ceremai. Setibanya disana, peti diletakan di atas tanah, tetapi peti itu tidak godeg alias berubah. Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut, peti itu disimpan diatas tanah, secara tiba-tiba berubahlah peti itu. Dengan godegnya peti tersebut, berarti petunjuk kepada Kiansantang bahwa ditempat itulah beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog.
Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.***








Ada yang menemukan giok
1. Nampan dengan gambar burung
2. Kujang
Dibuat tahun 804H.
Ada yang tertarik ?
Assalamu’alaikum wr. wb.
Tertarik pada penemuan Kujang:
- Apakah Kujang tersebut peninggalan leluhur kita ?
- Apakah manfaat dari Kujang tersebut ?
- Apakah dapat diuji langsung salah satu manfaatnya ?
- Kapan dan dimana ?
Terima kasih sebelumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
kisah Kian Santang nyaris mirip dengan kisah Borosngora (Panjalu) terutama dalam bagian pertemuannya dengan sayidina Ali. kedua tokoh ini harus dikaji lagi. Apakah mereka adalah tokoh yang sama. perhitungkan pula nama Pangeran Cakrabuana atau Haji Dul Iman. nama-nama tersebut menurut saya cenderung orang yang sama. Nuhun.
Semoga Makam Sunan Rohmat ini menjadi obyek wisata spiritual di Kabupaten Garut. Ada Travel Agent yang mengatur perjalanan ke tempat ini lengkap dengan segala informasi biaya dan waktu untuk berkunjung ke tempat penyebar agama islam di Jawa Barat, Jakarta dan Banten ini !So Help Us God .
Pak, saya tertarik dengan cerita sejarah ini. Saya ada satu pertanyaan, saya beberapa hari seblum kirim email ini, saja ke SAJIRA, Jaa Barat saya menemukan Makam Kramat, konon informasinyam disana tertera dengan nama Prabu Dalem Wong Segati. Yang saya mau tanyakan apakah beliau termasujk keturunan Prabu Siliwangi. Terimakasih seblumnya…
Saya tertarik dengan penemuan Kujang-nya, karena kujang warisan karuhun saat ini sudah sangat langka. Jika memungkinkan bisakah diindefikasikan :
1. Jenis Kujang tersebut ?
2. Berapa “mata” yang ada pada kujang tersebut ?
3. Ukuran dan Berat ?
4. Perkiraan Bahan ?
Sampurasun
Saat ini legenda tentang Prabu Kian Santang masih menjadi kontroversi keberadaanya, karena para ahli sejarah belum menemukan bukti-bukti otentik tentang keberadaan Prabu Kian Santang tersebut, hal ini juga dialami cerita-cerita legenda karuhun yang lain seperti halnya kisah Prabu Munding Laya.
Barangkali ada para sesepuh yang bisa memberikan titik temu antara sejarah pajajaran menurut versi legenda dan versi penelitian sejarah.
Kahaturan Salam
saya sering mendengar cerita Eyang Prabu Siliwangi dan kian santang, ada beberapa persi. tapi ini kisah yang sangat lengkap terimakasih haturnuhun kang
asalam mualaikum
kang punten pan d godog teh seur makam kramat teh…..
pang nuliskeun atuh kang misal na tntang eyang pager jaya,syeh dora,mpuh kandang sakti……..
min akang trang….tulis ny kang…
wasalam.ugie
saya sangat berterima kasih kepada penulis atas cerita ini.karena menurut saya cerita ini merupakan sejarah yang mungkin suatu saat bisa hilang.kalau bisa terus dengan kisah2 sejarah yang lainnya,khususnya cerita sejarah sunda/padjajaran.
saya punya kujang,tolong minta penjelasan tentang kujang tersebut,terima kasih
Sampurasun……
Kang, geuning jarambah nya Kiansantang teh ? Eta we….dugi ka Arab ! Ludeungan ari urang sunda…..
duka teuing tapi nu ayeuna mah…..
Saya tertarik dengan cerita ini kebetulan sayah pernah zayarah ke makam sunan rohmat memang disana tempat nya adem dan tepat sekali bertapakur disana mendekat kan diri sama sang kholik
saya sangat tertarik dengan cerita leluhur pajajaran kebetulan saya sangat mencintai leluhur saya, karena sampai sekrang masih ada teka teki dengan diri saya, setiap ada orang yang kerasukan selalu takut apabila melihat saya dan sering menyembah dengan sebutan “Raja Galuh” apabila ada yang bisa memberikan atau membuka tabir ini saya ucapkan banyak terimakasih
cerita diatas hanya sekadar mitos belaka,tanpa ada sandaran yg dapat dipertanggungjawabkan.hadis Nabi SAW saja masih ditelilti kesahihannya oleh para ulama.umat Islam ini umat sanad,dalam arti segala sesuatu hrs ada dasarnya dan dan bisa dipertanggungjawabkan sebagaimana sanad yg sahih dalam hadis2 Nabi SAW.berantas yg namanya mitos,tahayul dan khurafat,karena akan menjadikan seseorang tertinggal dan tenggelan dalam kebodohan.
sampurasun, salam baktos! Bilih aya nu gaduh kujang?
Ah hanya cerita yang tak bermutu. Kenapa kalau sudah sakti dan agamais , tak menyatukan tanah seluruh nusantara dan menjadikannya seperti majapahit atau sriwijaya. .
hanya untuk memecah belah, tidak patuh pada orang tua
kujang dan batu giok itu didapat darimana apabila saya boleh tau….?
apakah kujang dan batu giok itu sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang…?
sekali lagi saya bertanya kujang itu didapat darimana…?
karena saya masih ada sedikit ketergantungan keturunan dengan kiansantang…?
Kang ujang na ada di djogja
saya mau tau tentang sejarah keris kujang karena saya pernah dititipkan oleh prabu kiansantang untuk menyelamatkan gempa th 2007.tapi sudah saya buang kembali ketangkupan prahu atas perintah beliau
dan 3 a 4 bulan ditangan saya lalu saya buang tdk lama dari situ tejadi gempa berpusat diindramayu
kayaknya cerita yang dimaksud masih simpang siur dari bacaan yang pernah saya baca waktu kecil dulu. yang ceritanya kian santang hilang tak berbekas… ato gimana ya.?
banyak cerita simpang siur……
yg jelas menurut saya sebelum agama islam datang ke tatar sunda …orang sunda/orang tua dlu sudah islam
itu mah dongeng mang…!
tahunnya kagak mudeng, ketuaan!!
Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya= yg situsnya babak belur sekarang…
http://wapedia.mobi/id/Sri_Baduga_Maharaja#2.
karuhun sunda mah mulai salakanagara- tarumanagara- galuhPakuan-pajajaran … ya Hindu!!..
nuhun nanya kujangny kecil y….
Yang saya tahu :
Batu Giok dua buah, satu berbentuk nampan dan satunya berbentuk Kujang. Keduanya berukuran panjang 30 cm dan tebalnya +/_ 2,5 cm. Lebar nampan kira2 15 cm dan lebar Kujang 8 cm.
Pada nampan, disatu sisi terdapat gambar (timbul seperti embossed) burung dan naga sedangkan sisi lainnya pada keempat sudutnya terdapat potongan ayat (kalau tidak salah bagian dari Surat Yasin)
Pada tangkai Kujang (bagian bawah / pegangan) terdapat tulisan bahasa arab (timbul) 408 H.
(Jadi bukan 804, karna itu tulisan huruf arab, membacanya dari belakang, menjadi 408)
itumah cerita yg harus di di teliti dulu kebenarannya
sedangkan masa prabu sekitar 1400 san sedangkan cerita td prabu kiansantang 1300 kok anak lahir lebih dulu dari bapaknya heeeee……
ini cerita legenda tapi agak ga masuk akal, krn tahunnya pada ga ketemu, saya turunan dari dalem sunan cipancar, Prabu Hade Liman Sanjaya, menurut cerita leluhur saya dan logika saya, memang ada missing link disini, krn sayidina Ali yg kita ketahui hidup abad ke 7, mustahil seorang shalih muslim, bisa moksa or apapun, dan bertemu dgn prabu Kian Santang jika hidupnya di abad 14.
Menurut cerita leluhur saya, Prabu Kian Santang lebih muda dan memang hidup sejaman dengan Sayidina Ali hidup, beliau diislamkan secara langsung oleh Sayidina Ali, dan memang beliau putra dari Prabu Siliwangi, dan saudara dari Prabu Hade Liman Sanjaya (leluhur saya), yang menurut para leluhur saya mereka hidup pada abad ke 7, dan Prabu Siliwangi pertama hidup pada abad ke 6-7. Prabu Kian Santang pulang ke tanah Sunda berbarengan dengan salah satu sahabat Rasul, untuk mengislamkan wilayah2 yg dilalui, dari Gujarat (India) lalu ke Sunda Kelapa (disitu mereka berpisah), lalu sahabat Rasul melanjutkan ke Pasai dan berakhir di Macau, makanya sampai skrg ada kuburan sahabat Rasul di Macau, hanya saya lupa namanya, (bisa dicari kok disana, karena jadi tempat suci bagi umat islam di negeri China).
Jadi menurut saya, sejarah Sunda ini banyak disimpangkan, karena klo ini sampai terungkap maka akan menerangkan wilayah Nusantara, dan siapa Kekaisaran yg mengusai Nusantara tersebut, hanya memang prasastinya sudah tidak ada, akan tetapi beberapa bukti bisa dipikirkan kebenarannya, salah satunya, adalah lapisan tanah Sunda (ilmu geologi), yang membentang dari Samudra Indonesia sampai ke Thailand, dan Birma, hal ini tentunya umur tanah tersebut sesuai dengan dinasti yang ada saat itu, kurang lebih berumur 12.000 tahun yg lalu, dan ini sangat cocok dengan kitab Veda (hindu) yang menuturkan kerajaan makmur pada jaman Purwa (diperkirakan 12.000-15.000 thn yg lalu) ada sebuah kerajaan bernama Medang Kemulan diseberang laut hindustan sebelah timur, yg subur sekali karena disitu Dewi Sri menitis dengan Batara Wisnu, menjadi rajanya, nah klo melihat ini, jelas sekali tanah yang paling subur di Nusantara pastinya tanah Jawa Barat, bukan Jawa Tengah (mengaku Medang Kemulan ada disana, padahal tanahnya gersang sekali)….
Jadi ini jelas klo bisa diungkapkan secara ilmiah, akan merubah sejarah Nasional dan Nusantara, dan sebagai acuan lagi, Tarumanegara (Abad ke 2-5) masih menggunakan tulisan Palawa, bhs Sangsekerta, padahal seperti yang kita ketahui bersama, tulisan dan bahasa di Sunda pertama kali disebut Panglawung, yg sudah puluhan abad lebih tua dari pada jaman Sangsekerta di Nusantara.
Ini saja informasi yg bisa saya share di rubrik ini, mengenai sedikit bukti2 sejarah Sunda sesuai dengan logika dan tutur para leluhur saya, terima kasih.
Sampurasun Dulur,
Penjelasan Mk Noor di atas, ngena sekali ke dalam logika saya.
Kalaupun dalam cerita tersebut mengulas ‘kesaktian’ itu untuk mewarnai alur cerita saja. Tapi, Satu hal yang paling penting di sini adalah orang Sunda musti tahu perjalanan kiprah Kean Santang dalam menyebarkan agama Islam di tanah Sunda.
Bahkan, dalam wangsit Prabu Siliwangi disebutkan, jika kalian keturunan Sunda ingin penelusuri perjalanan dan perjuangan Kean Santang secara detail dalam menyebarkan Islam diminta untuk pergi ke Barat Kerajaan Pakun Pajajaran, yaitu Banten.
Terakhir dan masih terkait dengan uraian di atas, dalam wangsit Prabu Siliwangi disebutkan juga, cerita sejarah sunda akan terus simpang-siur dan dimanipulasi oleh pihak2 yang oportunis, dengan memoles “figur sakti yan g anti-logika” sementara fakta dan data sengaja diabaikan. Mengapa?, karena mereka berkepentingan terhadap peninggalan berharga (bersejarah) Sunda. Mengambil dan menjual untuk kepentingan kelompok atau pribadi. Namun itu tidak abadi, akan ada satu masa dimana sejarah Sunda yang terkuak secara terang benderang.
salam’
NWK
mantabfff….pa noor…sy juga mau buat PR buat para pembaca…sy mau tanya” siapa syeh wali sakti kudratullah…..????
sampurasun,
dongeng rada aneh, maenya nyebarkeun agama, komo islam (cenah agama sampurna) make kudu ngudag-ngudag nu rek diislamkeun, komo ieu ka bapa. Teu sopan pisan. Prabu Siliwangi ceuk kanyaho saya pinter, Islam bener, ma enya aya kajadian siga kitu.
salam.
saya setuju dgn mk noor kmungkinan kita kerabat
saya jg turunan dr limbangan atau galih pakuan dr
raja dinataIII dgn ratna sari nari wulan
menurut saya kita ambil yg baiknya u/dijadikan pelajaran
dan menata hidup dgn aturan agama utk menjadi bijaksana dgn pengalaman dan pelajaran2 yg di dapat baik dari orang masa lalu ataupun sekarang. mudah 2han kebijaksanaan yg mungkin di ajarkan oleh raja-raja masa lalu bisa menjadi bagian dari hidup kita.amiin .
“Uga luhur handap asor kapapada.
Sifat sajajar, Sadarajat,
Silih asah,Silih asuh,Silih asih Di ie dunya ”
ass wr wb
ranggakancana
haturnuhun kasadayana
Sagala puji salawasna kanggo nu maha agung ALLOH SWT anu calik di arasy, Sareng Mugi sholawat sareng salam salawasna dilimpahkeun ka sadaya nabi sareng rosulna MUHAMMAD SAW. anu nerangkeun rahmat sareng hidayah anu ngajarkeun eusi jeung cara meunangkeunnana ku ucap jeung tingkah lakuna. sareng mugi rahmat sareng hidayahna anu salawasna turun unggal waktu tiasa enggal katampi ku urang sadayana…..amin.
Sejarah tentang Kian Santang akan rumit menjelaskannya kalo hanya berpegang pada data-data sejarah tertulis soalnya yang tidak tertulisnya juga banyak. Kian santang mempunyai banyak nama di daerah yang berbeda-beda dan memberi nama banyak nama daerah, sebagai contoh di Sumatra ada daerah yang namanya Prabu Mulih, Lawang Kaler Lawang Kidul, Padang, dsb. Mungkin kalo dikaji lebih dalam akan ketemu benang merahnya.
Dan hubungan Kian Santang dengan Islam di Indonesia menurut logika saya sangat jelas hubungannya kalo melihat budaya Islam di Indonesia yang terlihat sedikit berbeda dengan di Arab…Mengapa demikian karena memang situasi kondisi serta letak geografinya yang jelas berbeda. Buat saya Budaya Islam Indonesia menjelaskan tentang pertemuan antara Syyahidina Ali dengan Kian Santang, karena logikanya dialog antara seorang anak raja kerajaan besar dengan sahabat rosululloh tentu bukan dialog biasa…mau bicara apapun dengan Syahidina Ali pasti sudah ada jawabannya karena sebagai sahabat terdekat nabi beliau sudah diberitahu oleh Rosululloh tafsir dari firman-firman yang diterima oleh Rosululloh tentang seluruh alam semesta termasuk indonesia tentunya…berikut cara mengatasi berbagai permasalahannya, makanya kalo mau mengkaji lebih dalam akan diketahui kejeniusan Kian Santang dalam menyebarkan Islam di Indonesia yang saat itu masih Hindu/Budha atau malah mungkin Sanghyang, sehingga pada perjalanannya Kian Santang menjadi rujukan keponakannya Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan Islam diIndonesia.
Apakah ata-data sejarah jadi tidak berlaku? ya tetap berlaku tp harus di pikirkan juga kemungkinan angka tahun cara tulis baca dsb. bisa berbeda di setiap daerah karena teknologi belum seperti sekarang..sebagai contoh perjalanan 200 km bisa ditempuh waktu 2 jam dengan menggunakan mobil lewat jalan tol, kalo dulu mungkin bisa berminggu-minggu dengan kondisi hutan belantara dan pegunungan tambah halangan lainnya.
Demikian tentang Kian Santang dan Islam di Indonesia menurut pendapat saya… yang jelas tidak mungkin setelah pertemuannya dengan syahidina Ali di arab, Kian santang menjelaskan korma dan onta di Indonesia…Karena di Indonesia memang ga ada korma dan onta..he..he,
Thank’s Dulur I Like Story about Prabu Kian Santang.
Bade tumaros, ari pangeran purba masih keturunan kian santang apa nyimas laransantang ya ?
hatur nuhun
ternyata masih banyak cerita yg belum terungkap ya sob…
kalau bisa ceritanya dalam bahsa sunda juga tampilkan
kenapa tidak sama yg d crtkn oleh om saya…!!!
om saya menceritakan kerajan luar negeri,banten
kian santang,,,,
ad yang tw kenapa ia di beri nama kian santang ga,?
nurut gw,, kian santang itu memang ketemu langsung dengan imam ali,,, karna berdasar kan sejarah yang saya dapat,, dahulu di kerajaan taruma negara ad seorang putra mahkota yang sakti,, bernama “gagak lembayung”,, konon ia berhasrat sekali untuk melihat darahnya sendiri,, karna tak ad yang mampu mengalahkannya,, kemudian pada suatu ketika ad musuh yang hendak menyerang kerajaan taruma negara yakni kerajaan “TANG” dari cina pada abad 6-7 , dan pasukan tang ini berhasil di usir oleh gagak lembayung yang kemudian ia di beri gelar” kian santang ” yang berarti : orang yang menglahkan pasukan tang” .
coba lihat tahun kekuasan dinasti Tang,,,, sama juga ketika imam ali masih hidup abad 6-7 , jadi kalu di lihat dari rentang masa hidup,, kian santang memang bertemu langsung denan imam ali,,,
akan tetapi ad beberapa kesalahan dalam masyarakat,, yang menganggap ia hidup pada abad ke 13,,,,ini mustahil,,,,sungguh tidak masuk akal,,,,karna menurut legenda kian santang juga berkelana ke berbagai negri ,, jadi mustahil semua ini di lakukan hanya dalam dunia rohani,,,,,
memang pada masa ini para sahabat nabi muhammad ad yang berdak wah ke berbagai negri,,,, seperti “Saad bin abi waqash” yang mengislam kan penduduk kanton di cina,,,,,
amitsun sampurasun, sajarah kian santang teh kabeh ge bohong.
eta mah pollitik, hayang ngarusak nusantara anu makmur gemah ripah loh jinawi.
pek p[ake ku akal ku pikiran jeung ku hate, kian santang mah orang cina, kitu ceuk abah oge euy……
hhehe
Ass. . . .
Klu kita simak crita prabu kiang santang, itu hanya meninggalkan luka, bg para kturunanya. .krna, rata2 ktrunanya itu menyimpan dendam dgn kerabatnya sendiri. .hanya krna harta warisanya. .truus. . .apakah itu warisan kiangsantang yg katanya agung..? Sementara dia tdk bs brbwt apa2 melihat ktrunan yg lemah d bunuh oleh ktrunan yg kuat.
kabeh manusa geus ay jlm msing2,ulah nyalah keun wanga tua…….,loba siloka bangsa urng mah,hartianeun