Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 19-12-2007 |

Innalillahi wa Inna Illaihi Rozi’un
Sosok Kiai kharismatik yang dikenal “Ajengan Cipasung”, hari ini telah berpulang ke Rahmatulloh, pada jam 16.15 WIB.
Berkacamata tebal, berwajah selalu tenang, bersuara pelan namun lancar. Itulah penampilan lahiriah ajengan Pesantren Cipasung, Singaparna, K.H. Ilyas Ruhiyat.
Ketika pada Konbes NU 1992 namanya muncul sebagai pejabat sementara Rais ‘Am Syuriah PB NU, sebagian besar warga Nahdliyin tidak menyangka, karena pesaingnya adalah K.H. Yusuf Hasyim, anak pendiri NU, dan K.H. Sahal Mahfudz, ulama terkenal di Jawa Tengah. Cukup mengejutkan karena jarang ulama NU dari Jabar menduduki jabatan puncak pada PB NU, baik Syuriah maupun Tanfidziyah (kenapa ya?). Jabatan sementara disandangnya hingga 1994, ketika ia kemudian secara definitif dipilih menjadi Rais ‘Am Syuriah PB NU dalam Muktamar ke-29 sampai 1999.
KH. Ilyas Ruhiyat memang sudah dipersiapkan menjadi ulama sejak kecil oleh ayahnya, K.H. Ruhiyat, ulama-pejuang dari Tasikmalaya. Karena kecerdasan dan ketekunannya, meski hanya belajar di Pesantren Cipasung, pada usia 9 tahun beliau telah menguasai kitab Jurumiyah dan pada usia 15 tahun sudah menguasai kitab Alfiyah. Bahkan ketika ayahnya harus mendekam dalam tahanan Belanda (1949), beliaulah yang menggantikan sang ayah mengajar. Beliau tidak sempat mengenyam pendidikan formal secara memadai dan hanya sampai kelas 2 SR (Sekolah Rakyat).
Di lingkungan NU, KH. Ilyas Ruhiyat memang bukan orang baru. Ia pernah menjadi Ketua IPNU Cabang Tasikmalaya pada tahun 1950-an, pernah menduduki jabatan Wakil Ketua IPNU Jabar, Wakil Rais Syuriah NU Tasikmalaya, Wakil Rais Syuriah NU Jabar, hingga menjadi salah satu dari 13 Rais Syuriah PB NU. Saat masih menjabat sebagai Rais ‘Am Syuriah PB NU pada 1998—setelah selesai masa baktinya sebagai anggota MPR RI—ia diangkat sebagai anggota DPA.
Sekalipun banyak kesibukan di luar, KH. Ilyas Ruhiyat masih menyempatkan diri mengajar santri-santri yang diasuhnya sejak 1977, dan mengajar para alumni dan ulama muda serta umum. Jadwal padat memang sudah menjadi agendanya setiap hari. Tulisan yang semula terbit dalam media massa kemudian diterbitkan dalam bentuk buku, antara lain Tinjauan Masalah Keluarga Berencana menurut Agama Islam, Konsep Pembinaan Ummat, dan lain-lain.
Semoga arwah almarhum mendapat tempat mulia di sisi Alloh SWT, Amiiin.
DHIPA GALUH PURBA













Simkuring ngiring bela sungkawa.mugia
almarhun KH. Ilyas Ruhiyat. di tampi iman sareng amalna.di bukakeun pintu surga.oge kulawargi ,asahabat anu di kantunkeun sing di paparin kakiatan.amin.
PUTRISUNDA