Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 15-08-2008 |

Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

Ini hanya sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, jangan coba-coba lagi makan mie sebelum makan nasi, minum kopi, tidak tidur lebih dari 32 jam, naik motor tanpa jaket yang tebal, makan nasi sekali dalam dua hari, dan tidur tanpa mengenakan baju. Mungkin itulah pemicu kambuhnya penyakit mag yang rasa-rasanya semakin kronis.

Pertama kali berkenalan dengan penyakit mag pada tahun 2004. Saat itu saya sedang numpang tidur di Rental Komputer Cygnus, Jl. Cipadung (sekarang A.H. Nasution), Bandung. Saat itu saya belum makan nasi dari pagi. Sekitar jam 22.00 WIB, saya minum susu soda. Tentu pakai “Es’, karena kalau tidak pake “S” namanya kan jadi “uu oda”. Beberapa menit kemudian, perut saya sakit, sangat sakit. Saya merinding kalau membayangkannya. Karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit, akhirnya saya berbaring tanpa banyak gerak dan pasrah. Tiba-tiba dari perut saya seperti ada yang bergerak naik ke dada, kemudian ke tenggorokan, dan muntah. Betapa sakitnya ketika muntah-muntah itu. Malam itu benar-benar tersiksa, karena tidak ada seorang kawan pun yang ada di dekat saya. Di belakang rental, memang ada tempat kost. Diantaranya ada seorang mahasiswi yang bersahabat dengan saya, Ida Nurlaeni. Tapi… saya tidak kuat untuk berjalan dan mengetuk pintunya untuk minta tolong dibuatkan air putih hangat.

Namun Alhamdulillah, setelah muntah-muntah hampir satu ember, rasa sakit pun berkurang. Saya tidak habis pikir, benar-benar tidak tahu, penyakit apakah yang menimpa saya? Sebab sebelumnya saya tidak pernah terjangkit penyakit seperti itu. Jadi, saat itu saya tidak tahu bahwa saya terserang mag.

Jam 24.00 WIB, keadaan saya sudah pulih kembali. Sejak siang hari, saya sudah merencanakan untuk berangkat ke Jakarta naik motor pada waktu tengah malam. Sebab saya sudah ada janji dengan Gustom, saat itu ia bekerja di PT. Lunar Jaya Film, untuk menyetorkan naskah skenario sinetron “Siluman Élang”. Tentu janji itu harus saya tepati, meski kondisi saya baru saja pulih dari serangan penyakit “baru” yang benar-benar menyakitkan.

Saya berangkat jam 24.00 WIB, setelah membersihkan bekas muntah-muntah dan tidak lupa sholat safar. Dari Bandung sampai Kota Cianjur, Alhamdulillah saya masih kuat mengendarai motor. Saya mengambil jalur Jonggol, supaya lebih cepat sampai ke Jakarta. Namun di Cikalong Kulon, tiba-tiba dada saya menjadi sakit, sulit bernafas. Akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat di Cikalong Kulon. Alhamdulillah, saya diterima di rumahnya Téh Neneng Diani, seorang guru di SMA Pasundan Cikalong Kulon. Meski bertamu wanci janari, mereka menerima kehadiran saya dengan ramah, membuatkan kopi dan nasi goreng. Saya sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Téh Nénéng, dan akhirnya kami menjadi saudara. Sebelumnya, Téh Neneng pernah berikhtiar untuk coba-coba menjodohkan saya dengan muridnya bernama Neneng Rostika, seorang siswi yang pandai, cantik, sopan, dan pintar menari. Tapi… ya bukan jodohnya barangkali, tidak usah diceritakan terlalu detail. Yang penting, Neneng Rostika adalah wanita yang baik. Ia tetap saya anggap sebagai adik, meskipun tidak jadi menikah. Hal-hal yang mengakibatkan putus dengan Neneng Rostika, jelas merupakan kesalahan saya.

Kembali kepada penyakit mag. Besoknya, saya diantar ke dokter, karena saya merasa sakit kalau bernafas. Dokter mengatakan lambung saya luka. Saya disarankan untuk beristirahat minimal tiga hari. Aduh… mana bisa? Hari itu saya harus nyampe ke Jakarta, dan tidak mungkin dibatalkan. Setelah minum obat, saya memaksa untuk berangkat ke Jakarta dan tetap naik motor. Alhamdulillah, saya selamat sampai tujuan, Graha Arteri Mas, Kedoya, Jakarta Barat. Naskah skenario bisa saya setorkan dan langsung digarap oleh PT. Lunar Jaya Film. Di Jakarta, saya beristirahat di rumah Eggy Setta, seorang sahabat yang sehar-harinya mengelola Elizabeth Salon di Jakarta Timur.

**

SEJAK itu saya tidak pernah terserang lagi penyakit mag. Bahkan saya sudah melupakannya. Kebiasaan buruk saya, seperti makan tidak teratur, tidur tidak teratur, minum kopi sepanjang hayat, merokok tanpa henti, atau apapun, tidak pernah mengakibatkan mag. Saya merasa tubuh saya sudah kebal dengan penyakit-penyakit semacam itu.

Dan kesombongan itu berbuah fatal akibatnya. Pada tahun 2007, saya terserang mag dengan lebih parah. Bahkan saya benar-benar tidak berdaya selama seminggu. Berbagai obat telah saya minum, termasuk kunyit pemberian Dadan Sutisna yang langsung diambil dari kebun. Selain itu, Kania pun memberikan kunyit yang siap untuk diseduh. Tapi… semuanya percuma, karena setelah sembuh, biasanya saya melupakan penyakit mag. Dalam arti, kebiasaan buruk seperti diatas, kembali diulang lagi. Sehingga, saya sering kali terjangkit mag meski hanya satu sampai tiga jam.

Pada Bulan April 2008, saya pernah terserang mag yang cukup parah. Saat itu, saya dibawa oleh Téh Netty Martin ke dokter dalam keadaan tidak berdaya. Di rumah dinas Dokter Yuyun, saya sudah pasrah tersandar lemas di kursi. Téh Nétty berkali-kali mengingatkan saya agar tidak tidur, karena kalau saya tidur pasti mendengkur alias ngorok. Sedangkan suara dengkuran saya, kabarnya, bisa terdengar sampai radius 200 Méter. Saya tidak percaya kalau saja tidak ada bukti. Téh Lin RN, Téh Nétty, dan Dadan pernah merekam suara dengkuran saya. Bahkan Téh Lin dengan isengnya menggunakan rekaman dengkuran saya menjadi nada dering di telepon selularnya. Jadi, tidak bisa dipungkiri lagi kalau dengkuran saya agak keterlaluan (saat ini saya sedang berobat pula untuk mengurangi suara mendengkur).

Pada bulan Juni 2008, mag saya pun pernah kambuh ketika saya sedang numpang ngenét di PusInfoKom UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Perut saya benar-benar sakit, sehingga saya terpaksa harus ngorondang ke kamar mandi untuk muntah-muntah. Saat itu saya benar-benar tidak kuat untuk berjalan. Dan Alhamdulillah bisa disembuhkan dengan syariat meminum air putih panas, yang dibuatkan oleh seorang anak buah Kang Gibson. Setelah itu, saya merasa lapar, sedangkan saat itu uang saya habis. Sebenarnya ada sih di ATM, tapi kan terlalu rumit kalau ngambil dulu uang ke ATM untuk sekedar membeli nasi. Jadi, saya memilih untuk menuju rumah Téh Lin, di Cijambe, Ujungberung. Alhamdulillah, di rumah Téh Lin, saya dibuatkan bubur, téh manis, dan disediakan kasur untuk merebahkan tidur. Hanya berselang satu jam, penyakit mag pun hilang.

Setelah sembuh, saya melupakan kembali penyakit mag. Saya memang tipe orang yang sulit diatur, sehingga banyak kebiasaan yang tidak teratur.

**

Rabu, 13 Agustus 2008, saya bangun kesiangan di Redaksi Majalah Cupumanik. Tiba-tiba perut saya sakit. Saya sadar, ini adalah awal dari serangan mag yang menyakitkan. Saya segera bergegas menuju rumah makan, tetapi di tengah perjalanan saya sudah tidak tahan. Akhirnya saya hanya membeli dua butir obat mag dan sebungkus roti. Saya meminum obat tersebut. Sedangkan roti tidak sempat saya makan, karena perut saya sudah menolak makanan. Celaka, penyakit mag kambuh lagi! Saya mencoba minum air panas beberapa gelas, tetapi tidak ada pengaruhnya sedikitpun.

Akhirnya saya berbaring di sebuah kamar di Kantor Redaksi Majalah Cupumanik, sambil menahan rasa sakit. Tidak ada seorang pun yang tahu, karena saya berusaha tidak mengeluarkan suara. Saya mau menelepon kakak saya untuk menjemput, tetapi HP tergeletak di meja, cukup jauh dari kamar tidur. Di saku celana ada juga HP, tetapi pulsanya sudah habis. Tapi saya ingat, kalau SMS ke operator yang sama, pulsanya mungkin cukup. Akhirnya saya SMS ke Dadan Sutisna, hanya kuat untuk mengetik: “Dan tulungan uing”.

Beberapa saat kemudian, Dadan datang. Ia sudah mengerti pada keadaan saya, karena saya pun pernah terkena serangan mag di rumah Dadan, sampai ngorondang ke kamar mandi dan muntah-muntah. Jadi, Dadan tidak perlu bertanya apa-apa lagi, karena sudah tahu saya terserang mag. Dadan menyuruh Atep Kurnia membawakan segelas air panas. Saya langsung meminumnya, dan beberapa saat kemudian memuntahkannya. Benar-benar menyakitkan.

Serangan mag kali ini terasa lebih dahsyat. Dari jam 10.00 WIB sampai jam 14.00, saya masih merasakan sakit yang luar biasa. Akhirnya saya teringat kisah pertama kali terserang mag di Rental Cygnus. Solusinya adalah berbaring tanpa bergerak, dengan kedua tangan di atas dada. Kali ini, saya benar-benar sulit untuk bernafas, sehingga saya mulai komat-kamit membaca ayat-ayat Alloh, dan bersiap jika saya harus tutup usia. Selain membaca ayat-ayat Alloh, bibir saya pun bergetar memohon maaf kepada ibu saya, keluarga saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, atas segala kesalahan yang terasa dan tidak terasa. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara Heri (seorang karyawan Cupumanik) mengaji Al-Quran. Saya semakin yakin, bahwa mungkin saat itulah akhir dari hidup saya. Dan saya sudah pasrah, karena bernafas pun sangat sakit. “Allohu Akbar… saya orang yang bergelimang dosa, telah siap menghadap-Mu, jika saat ini saya harus berpulang… Subhannalloh… subhannaloh… Astaghfirullohal adzim… Allohu Akbar… Ya Alloh ampuni dosa-dosa saya. Saya tidak pernah korupsi, kecuali darmaji waktu SMP. Saya tidak pernah menganiaya orang lain, kecuali berkelahi dan pernah menang, pernah juga kalah berlumur darah. Ampuni saya ya Alloh, saya pernah berpacaran dengan dua orang wanita dalam waktu yang bersamaan. Ya Alloh… saya bukan ahli surga, tapi tidak mungkin kuat jika dimasukan ke dalam neraka…” itulah beberapa hal yang sempat terucap di hati saya.

Saya terjaga ketika Dadan menghampiri dan berkata, “Uing rék ka warung, bisi rék pesen?”

Uing hayang cai dewegan…”  jawab saya.

“Wah hésé atuh, da euweuh tangkal kalapa di dieu mah…” begitu kata Dadan. Saya mau berkata lagi, tetapi tidak jadi, karena sudah terwakili oleh Atep. “Réa di tukang kalapa muda…” begitu kata Atep Kurnia.

Saya meminum air kelapa muda. Dan tiba-tiba ada sedikit kekuatan pada tubuh saya, untuk bisa duduk, berdiri, mengambil HP, mengambil helm, meraih kunci motor, menyalakan motor, dan mengendarai motor (setelah BBM naik, saya jarang memakai mobil, karena berat di bensin dan memang lebih efektip naik motor, bisa lebih cepat kemana-mana). Dalam keadaan sakit yang cukup parah, saya mengendari motor dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali saya hampir menubruk pantat mobil, karena rem-nya sudah agak blong. Tujuan saya adalah: menuju rumah BAH ARSA, di Komplek Bumi Panyileukan, Bandung.

Bah Arsa adalah ahli pijat urut tradisional yang sudah jadi langganan. Alhamdulillah saya sampai dengan selamat di rumah Bah Arsa. Dan Bah Arsa pun sudah tidak aneh lagi melihat kondisi tubuh saya, ia langsung berkata, “Euh… kambuh deui nyaaa…”. Saya tidak menjawab, karena sangat malas untuk bicara. Bah Arsa langsung memijat sekujur tubuh saya. Alhamdulillah… saya merasa agak lebih segar. Bah Arsa selalu memijat sambil berdo’a kepada Alloh SWT, sehingga saya merasa tenang dan damai. Sepulang dari Bah Arsa, saya menemui pengalaman aneh, tetapi tidak akan saya ceritakan. Yang pasti, saya langsung tidur dan terjaga tengah malam.

Pada saat terjaga, perut saya masih agak sakit, tetapi saya gembira karena merasa lapar. Sebelumnya saya tidak bisa makan apa-apa, karena selalu langsung dimuntahkan. Tapi lapar di tengah malam pun bukan persoalan yang mudah. Saya harus keluar rumah, minimal ke Bundaran Cibiru mencari rumah makan. Dan jangan lupa, sebelumnya harus mampir dulu ke ATM. Untuk menuju ATM, saya harus menghangatkan dulu mesin mobil, karena tidak mungkin menggunakan motor. Cukup rumit untuk mencari makan pun.

Alhamdulillah, pertolomgan dari Alloh selalu ada. Tiba-tiba, HP berbunyi. Kang Dani? Sudah hampir setahun Kang Dani tidak mengontak saya, tiba-tiba tengah malam begini menelepon. Saya langsung menerima telepon dari Kang Dani. Ia mengatakan sudah berada di depan rumah. Ketika saya tengok, ternyata di halaman rumah telah ada mobil Kizang yang diparkir. Ya, benar, Kang Dani. Saya menyambutnya dengan sangat sangat gembira.

Kang Dani adalah salah seorang sahabat yang pernah bersama-sama menyusuri suka-duka kehidupan di Pondok Mustika. Ia seorang anggota Reskrim (Reserse Kriminal) Polda Jawa Barat yang selalu bersikap santun kepada siapapun. Ketika di Pondok Mustika, masyarakat sekitar menyukai Kang Dani, karena ia selalu sopan, baik hati, senang menolong sesama. Saya sendiri sering ditolong Kang Dani kalau kehabisan uang untuk makan dan merokok.

Setiap bertemu dengan Kang Dani, hal pertama yang ia tanyakan adalah: “Kamu sudah makan?” Dan pada saat itu pun, sebelum Kang Dani masuk, seperti biasa ia menanyakan: sudah makan? Sebelum saya jawab, saya sempat tersenyum, teringat sahabat kecil saya, Ikel, putranya Téh Nétty. Anak kecil itu selalu mengawali obrolan dengan menanyakan: “Om sudah makan?” Di dunia ini, banyak orang-orang yang soleh.

Ketika Kang Dani menanyakan masalah makan, saya langsung menjawab: sangat lapar. Dan Kang Dani mengantar saya ke rumah makan, membeli nasi bungkus, sorabi, air minum, dan… sebungkus rokok. Setelah itu, kami pun pulang ke Ranggon Panyileukan. Sambil ngobrol, Kang Dani memperhatikan saya yang makan dengan sangat lahap. Ia tidak tahu, bahwa dari bangun tidur saya tidak bisa makan, dan baru kali itulah Alhamdulillah perut saya tidak menolak makanan. Bahkan merokok pun sangat nikmat.

Setelah makan, kami ngobrol kesana-kemari, dari mulai mengenang suka-duka menjalani hidup seatap di Pondok Mustika sampai perbincangan masalah walikota dan pilkada di beberapa daerah. Tapi Kang Dani tidak bisa berlama-lama di Ranggon Panyileukan, karena malam itu ia sedang kebagian tugas piket. Saya sangat berterimakasih atas kunjungannya pada malam Kamis kemarin, karena kehadirannya sungguh sangat berarti. Alhamdulillah tubuh saya mulai pulih dan menuju normal seperti sedia kala.

Pada malam itupun, ketika masih ada Kang Dani di rumah, Kang Erwan pun menelpon saya selama setengah jam. Kang Erwan Juhara adalah guru SMAN 10 Bandung. Ia penulis besar yang karya-karyanya sudah tersebar. Ia pengarang yang murah senyum, santun, dan juga senang menolong sesama. Kang Erwan menasehati saya untuk berusaha makan dan tidur teratur, agar saya tidak lagi terserang penyakit mag. Selain itu, Kang Erwan memberikan resep untuk mengobati mag. Sebab, kata Kang Erwan, lama-kelamaan lambung saya bisa pecah dan berakhir dengan kanker. Jadi, Kang Erwan menyarankan agar saya minum susu coklat, dicampur kuning telur, dan dicampur madu. Itu harus dibiasakan sehari dua kali. Wah… saya bisa bangkrut kalau harus dua kali sehari. Maka saya pun menawar, bagaimana kalau sehari cukup sekali saja? Kang Erwan tertawa, dan ia setuju saja kalau saya hanya minum sekali dalam sehari.

Yaaa… mulai saat ini, saya akan mencoba meminum resep dari Kang Erwan. Dan jika ada pengunjung website ini punya resep lain untuk mengobati mag, saya sangat berterimakasih kalau bersedia memberi tahu saya. InsyaAlloh saya sekarang mau berhenti minum kopi, tidak akan makan mie sebelum makan nasi, tidak akan melék lebih dari 24 jam, dan tidak akan makan sekali dalam dua hari. Saya harus MENGINGATNYA, karena jika kambuh lagi, sungguuuuh sakit sekali. “Ingatlah Dhipa yang keras kepala, takutlah pada penyakit mag! Jangan biarkan lambungmu pecah dan terkena kanker. Sedangkan penyakit kanker itu adalah penyakit orang yang banyak duit. Kamu tidak punya banyak duit, sehingga jika kanker menyerangmu, maka sampai disitulah umurmu! Ingat baik-baik, jangan sembarangan makan makanan yang bisa membuat penyakit mag kamu kambuh lagi, mengerti???!!!”

Saya mengerti, bahwa manusia pasti akan mengalami sakit. Hanya jenisnya saja yang berbeda-beda. Mulai hari ini, saya bertaubat dan tidak akan sekali lagi mengatakan: saya kebal penyakit (Saya selalu mengatakan itu sejak duduk di bangku SMA, karena merasa kuat meski semalaman  tidur di trotoar J).***